School of Life : Belajar Bahagia

Buku Belajar Bahagia

Alhamdulillah diakhir 2015 lalu Dia izinkan kami tuk selesaikan ‘Belajar Bahagia’. Belajar yang buatku menjadi kebutuhan tuk bangun kefahaman & kesadaran. Apalagi ini yang diperjuangkan adalah : kebahagiaan.

Penting banget buatku untuk terus belajar bahagia dalam kondisi apapun. Jadilah aku & Mas Eko berbagi pembelajaran kami  (masing-masing maupun bersama) melalui penggalan perenungan tuk bisa Bahagia.

Terutama aku kali ya hehehe. Bagaimana bisa menghadapi & mengatasi ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan & berbagai masalah dalam hidup ini. Semoga ‘Belajar Bahagia’ bermanfaat & happy reading! Dian.

Please see : https://youtu.be/hWXJXR_cDFM

Dapatkan segera via : Dewi – SDF 0813 2050 9446

Harga buku @75.000/ buah + ongkos kirim

_________________________

Belajar Bahagia

Belajar-Bahagia

Lautan Cinta

Kita berenang dalam lautan cinta-Nya… Karenanya kita takkan pernah berkekurangan. Dia Maha Pemurah, Maha Penyayang. Dia selalu menjaga dan mengawasi kita. Betapa hangat dan damainya kita dalam pelukanNya… karena itu jangan panggil aku si Jablay 🙂 Karena Dia selalu membelaiku dengan karunia-Nya…

Pesan Tuhan

Tuhan selalu mempunyai cara UNIK untuk menguji sekaligus menyampaikan “pesan” kepada hamba-Nya. Dijadikan-Nya suatu peristiwa yang awalnya biasa, tiba-tiba menjadi suatu masalah. Peristiwa yang sebenarnya kecil bisa menjadi masalah besar dan yang sebenarnya mudah bisa menjadi masalah yang sulit. Namun, sebenarnya masalah besar dan sulit juga bisa diperkecil dan dipermudah, semua tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Dan dibalik setiap peristiwa itu, sebenarnya ada keberkahan yang ingin diturunkan-Nya, ada pesan-pesan yang ingin Dia sampaikan, dan ada ikatan kekeluargaan yang ingin Dia perkuat… Semoga kita semua, selalu sanggup memahami pesan Tuhan dibalik setiap peristiwa dan tidak terjebak dengan peristiwanya.

_________________________

Belajar Bahagia @Kick Andy Metro TV

 

 

Sahabat tercinta,

Alhamdulillah buku ‘Belajar Bahagia’ terpilih untuk dijadikan hadiah yg dibagikan kepada para penonton acara Kick Andy di Metro TV. Rencananya akan ditayangkan di 19 Februari 2016. Berikut komentar Bang Andy F. Noya tentang  ‘Belajar Bahagia’ : “Bukunya keren banget. Saya baca sampai habis di pesawat…..”

Berikut resensi buku BB di majalah Investor edisi Januari 2016 & di HU Republika 17 Jan 2016. Happy reading!

Salam bahagia DSP & EPP

Please see : Belajar Bahagia @Kick Andy – Metro TV episode Scientist Indonesia : https://youtu.be/AOiWXD5-tqE

@Kick-Andy-2

BB-@Investor

BB-@Republika

 _________________________

25 Tahun Kebersamaan Penuh Makna

IPMI-1

Sahabat tercinta,

Rabu, 16 Desember yang lalu, Founder SDF – Eko P. Pratomo dipilih oleh almamaternya IPMI International Business School untuk menerima Bustanil Arifin Thought – Leadership Award, bertempat di kampus IPMI – Kalibata, Jakarta. Mengapa IPMI memilih EPP untuk menerima penghargaan itu di 2015 ini? ”…. Your work and dedication has shown the true IPMI spirit (Inspiring, Pioneering, Mind Shaping, Impacting)”, demikian menurut IPMI’s faculty members.

Mendampingi EPP menerima penghargaan itu, ingatanku pun melayang jauh kebelakang, tepatnya di tahun 1991 saat kami harus berpisah jarak walau masih berstatus pengantin baru, karena EPP memutuskan untuk bersekolah lagi. Kami menikah diakhir Desember 1990 & EPP mulai bersekolah lagi di awal 1991. Akupun lantas dititipkan kembali kepada kedua orang tuaku di Bandung & EPP kuliah lagi di Jakarta. If orang lain memulai rumah tangganya dari nol, maka kami memulainya dari minus, karena saat itu untuk bisa mengambil S2, kamipun harus mengambil student loan. Bagaimana dengan honeymoon? Kamipun harus menundanya hingga 2 tahun untuk bisa terbang ke Bali setelah selesai S2 & EPP mulai bekerja di tempat kerjanya yang baru.

IPMI-2

Sungguh sebuah kehidupan pernikahan yang dimulai dengan keprihatinan namun tidak memprihatinkan…. malah justru sebaliknya : menantang & penuh dengan perjuangan. Rupanya Sang Maha Bijaksana memang sedari awal ingin mengajari kami untuk membangun sebuah fondasi pernikahan yang kokoh. Dia menempa kami dengan aneka ujian kenyamanan & ketidaknyamanan. Termasuk rupanya mempersiapkan kami menghadapi ujian ketidaknyamanan yang jauh lebih besar. Sungguh luar biasa pengaturan Sang Maha Pintar, yang cara kerjanya misterius & tak kami pahami pada awalnya. Saat kami berdua diajari makna dari sabar, ikhlas & tawakal yang sesungguhnya, hanya kebersyukuran yang kami rasakan & hanya ketaatan yang ingin kami persembahkan kepada-Nya….

Terima kasih Ya Allah, terima kasih kepada kedua orang tua yang masih ada maupun yang sudah tiada, kerabat & sahabat yang lekat di hati. Semuanya menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran kami yang tak berujung ini….

Please see : https://youtu.be/hWXJXR_cDFM

_________________________

Belajar-Bahagia

Resensi Buku

Dia ambil kembali nikmat melihatku agar aku bisa melihat dengan mata hatiku. Dia ambil kembali nikmat mendengarku agar aku bisa mendengar suara hatiku. Dia ambil kembali nikmat penciumanku agar aku dapat mencium kebusukan hatiku. Dia masih tinggalkan dua inderaku yang lain tuk mengujiku.

Itu adalah salah satu ungkapan hati Dian Syarief dalam bukunya Belajar Bahagia. Sangat menyentuh dan mengharukan. Begitulah sebagian besar isi buku yang ditulis oleh Dian bersama suaminya, Eko Pratomo. Tapi Dian tidak mengeluh. Justru sebaliknya. Dia bahkan menunjukkan kepasarahannya sekaligus ketabahan dan kebesaran tekadnya dalam menjalani hari-harinya dengan tubuh menyandang Lupus. Penyakit ini bahkan tidak ‘dimusuhinya’ tapi dijadikan teman. Tulisan Dian sepertinya personal, sebagai ungapan hatinya pada Allah Sang Pencipta. Tapi secara tak langsung, apa yang diungkapkan oleh Dian sangat menginspirasi siapa pun yang membacanya, orang yang sakit lupus, sakit yang lain, bahkan orang yang tidak sakit. Tak hanya menginspirasi tapi juga memberi support moral kepada orang lain. Bahwa penyakit –apapun itu—bukan musibah atau kutukan, tapi justru tangan Allah yang sedang menepuk pundak kita, agar kita selalu mengingat-Nya.  Alih-alih Dian yang harus diberi dukungan, justru dia yang memberi  semangat dan pikiran positif kepada orang lain. Bahkan upayanya yang nyata adalah dengan membangun Yayasan Syamsi Dhuha (care for lupus, care for low vision).

Apa yang ditulis oleh Eko Pratomo dalam buku ini tak jauh beda dari yang ditulis Dian.  Bedanya hanya dalam gaya penulisan,  lebih lugas, simpel,  dan to the point. Contohnya: Tuhan tidak menimpakan sakit dan ketidaknyamanan hanya untuk melahirkan keluh kesah tapi untuk memberikan kesempatan kita kembali mengingat-Nya  karena Dia ingin menghapus sebagian khilaf, salah, dan dosa yang pernah kita lakukan. It’s a laundry time.

Esensi dari buku ini,   banyak cara untuk menjadi bahagia. Salah satunya dengan meneladani sikap positif dari pasangan Dian Syarief dan Eko Pratomo yang telah menjalani  pahit-manisnya hidup di dalam bahtera pernikahan selama 25 tahun. Mari Belajar Bahagia.

(Ami Wahyu – Penulis/Editor)

 

Pesan Kesan ‘Belajar Bahagia’

“Baru buka halaman pertamanya pun indah…  ‘Pernikahan adalah sebuah sekolah tempat belajar bersama yang menyenangkan’. Indah yah, bahagia bacanya”. Melly, Bdg

“Indah saat membukanya, penuh cinta… penuh keindahan. Apalagi sambil denger lagu Isyana “Kau Adalah…” Aku suka sama bukunya”. Regina, Bdg

_________________________

Belajar-Bahagia

Resensi Buku

Bahagia itu tidak sulit dan bisa dipelajari dari orang terdekat kita, salah satunya pasangan. Itulah yang tampaknya ingin disampaikan oleh pasangan luar biasa, Dian dan Eko, lewat buku ini untuk memaknai 25 tahun pernikahan mereka. Buku ini merupakan kumpulan renungan mingguan yang ditulis masing-masing dan dibagikan kepada para sahabat mereka via email atau sms. Dikemas menarik dengan dua sisi sampul berbeda yang menggambarkan karakter pribadi mereka (renungan Dian bersampul kuning terkesan “fun”disertai gambar yangcolorful, sedangkan renungan Eko bersampul hijau yang terkesan lebih serius karena hanya berisi tulisan hitam putih). Membaca buku ini seringan membaca novel cinta, namun sarat makna yang menyadarkan kita akan arti cinta sejati. Bahwa sebuah pernikahan abadi itu, seperti salah satu judul renungan Dian, “Tak Cukup Dengan I Love You”, tapi bagaimana bertumbuh bersama menjadi (pasangan) seperti yang Tuhan inginkan.

Shinta Kusuma – Penulis lepas & konsultan media dari Ideas Strategy

Pesan Kesan ‘Belajar Bahagia’

Thank you buat Buku Belajar Bahagia nya yang Fun tapi sangat inspiratif!! Love it!

Salah satu cerita Dian yang berkesan buat saya adalah Me and the Mouse, dimana suatu malam Dian ‘diajak bermain oleh tikus’ yang sempat membuat Dian panik… tapi akhirnya Dian memaknai kejadian itu secara luar biasa…

Tak ada kejadian yang kebetulan. Tentu ada pesan Tuhan melalui kejadian malam itu. Hal pertama yang kumaknai adalah betapa mudahnya aku panik saat merasakan ada yang kotor secara fisik. Tapi bagaimana jika yang kotor itu adalah hati atau jiwaku?”….”itu seperti ajakan bagiku untuk membersihkan hati yang terkotori selama ini dengan amarah, riya, sombong dan iri. Tapi pesan Tuhan memang singkat saja, tak berlebihan.

Salah satu cerita Mas Eko yang saya sukai adalah Melayani dengan Hati.

Hidup ternyata memang untuk melayani karena sebenarnya sepanjang kehidupan kitapun dilayani oleh Yang Maha Kuasa.”… “Allah tidak pernah lelah melayani kita karena Dia melayani dengan sepenuh hati. Maka jika kita ingin melayani……. kita perlu melayani… dengan sepenuh hati.

Thank you sudah mau berbagi ya…. Berbagi memang indah.. Yuukkk sahabat, kita ikutan berbagi untuk SDF dengan membeli buku Belajar Bahagia yang SUPER!!! – Cara Mariko, Jkt

_________________________

Belajar-Bahagia

Resensi Buku

Kalaulah ini sebuah sekolah, maka mata pelajaran utamanya adalah ‘Bagaimana mengambil hikmah dari semua peristiwa’. Prinsip utamanya, ‘Raga boleh rusak, namun jiwa harus tetap utuh dan mengkilat saat menghadap-Nya’. Sedangkan sasaran utamanya, ‘Mendapatkan ridho Allah SWT agar mengizinkan dan menerima mereka menjadi penghuni surga’. Simple dan tidak muluk-muluk, memang!

Membaca buku yang diterbitkan sebagai kado ulang tahun pernikahan perak Eko Pratomo dan Dian Syarief dengan format dua muka (Muka Eko & Muka Dian) ini serasa kita sedang mengintip kehidupan sepasang manusia dengan karakter yang bertolak-belakang, namun bertekad (dan berhasil) menjadi soulmate, menjadi penutup kekurangan masing-masing, bahkan berusaha keras untuk menjadi pembimbing masing-masing pihak untuk makin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Di sisi Dian yang saya kenal sejak ketika masih berkarier di dunia perbankan belasan tahun lalu, jelas sekali terlihat pribadi yang manis menyenangkan, enerjik, jujur, pekerja keras, juga sedikit manja dan pandai bergaul. Catatan-catatan kecil yang pernah ditulisnya dan dibagikan melalui mailing-list Yayasan Samsi Dhuha dan dihimpunnya sejak lima tahun terakhir ini, disajikan dengan ilustrasi karikatur lucu serta diberi warna-warni cerah. Pemilihan karakter hurufnya pun menambah kuat kesan ini santai, gembira, manis, dan manja.

Isinya, sebagian besar adalah curhat Dian kepada Tuhan-Nya dan sebagian lagi doa yang diawali pengakuan kelamahan dirinya sebagai manusia. Pembaca akan hanyut dan merinding membaca curhat-curhat itu, karena pada dasarnya apa yang disampaikan Dian kepada Tuhan-Nya itu, sebenarnya juga adalah masalah diri kita, diri semua manusia di muka bumi ini. Doa yang dipanjatkan Dian juga bisa kita jadikan sebagai doa kita. Coba simak yang sepenggal ini,

“Sering kumerasa banyak kesia-siaan dalam hidupku karena kelalaian dan kebandelanku. Tapi di setiap titik kesadaranku, kubersegera mohon ampunan dan pertolongan-Nya sepenuh langit dan bumi, agar ketaatanlah yang kuraih dan kebaikanlah yang kuperoleh di ujung akhir hdupku. Ya Allah, jadikanlah sebaik-baiknya umurku pada ujungnya. Sebaik-baik amalku pada ujung akhirnya dan sebaik-baik hariku adalah pada saat aku menemui-Mu” (Taubatku-hal-47 sisi Dian Syarief)

Sedangkan di sisi Eko yang seorang suami dan pemimpin keluarga, tentu saja harus menjadi lelaki tegar yang bisa dijadikan tempat bergayut, tempat berlindung, dan tempat merebahkan diri bagi Dian yang sejak beberapa tahun ini harus ‘bersahabat’ dengan penyakit Lupus hingga membuat tubuhnya lemah, bahkan penglihatannya nyaris hilang sama sekali.

Kalimat-kalimat Eko hampir semuanya merupakan penyemangat dan nasihat bagi Dian (juga bagi pembacanya) untuk tegar dan menjalani semua cobaan ini dengan penuh tawakkal. Nasihat itu bukan hanya kalimat-kalimat tak bermakna, tetapi tersaji lengkap dengan ilmu, pengalaman, serta contoh-contoh kasus yang nyata.

Mari kita lihat secarik catatan Eko yang ditulisnya dalam mailing-list, “Tuhan tidak menimpakan sakit dan ketidaknyamanan hanya untuk melahirkan keluh-kesah, tetapi untuk memberikan kesempatan kita kembali mengingat-Nya karena Dia ingin menghapus sebagian khilaf, salah, dan dosa yang pernah kita lakukan. (Sakit Itu Juga Baik –hal 32-sisi Eko Pratomo).

Sangat banyak point yang bisa diambil untuk mencerahkan bathin kita bila membaca buku yang disajikan dengan teknik tulisan-tulisan pendek tanpa mengikat ini. Kita tak perlu membaca secara kronologis dari awal sampai akhir karena memang tak ada awal dan akhirnya, tapi kita bisa memilih topik-topik yang kita sukai sesuka hati.

Satu-satunya kritik untuk buku setebal sekitar 400 halaman ini adalah bobotnya yang terlalu berat sebagai handbook. Mungkin karena penerbitnya ini menyajikan kertas yang licin mengkilat supaya ilustrasi berwarna menjadi cerah, tetapi membuat tas saya terasa berat ketika membawanya.

Jakarta, 31 Desember 2015

Asri Aditya – Jurnalis

Pesan Kesan Buku ‘Belajar Bahagia’

“Bukunya unik & menarik”  – Putu Anggraeni, Jkt

“Bukunya bagus & inspiring. Thanks for sharing, sometimes you don’t realize what is the impact, I believe both of you have touched & inspired sooo many people… Untuk yg kurang suka baca buku, ini enak karena tulisannya pendek” – Laila Panchasari, Bdg

“Bukunya bagus, ringan, enak dibacanya… isinya ngena bangettt “ – Ina Unus, Bogor

“Bukunya bagus banget… seneng banget bacanya, tersentuh, terharu & membuatku semakin bersyukur atas semua yg telah Allah berikan. Buku yg inspiratif. Yg ‘Dawai Hati’ co cuit banget” – Ratna Nurhasanah, Sentul

_________________________

Belajar-Bahagia

Resensi Buku

Zaman dulu ada film layar lebar yang digemari anak-anak muda, judulnya Galih dan Ratna. Film ini mengisahkan tentang cerita cinta dan asmara dua insan manusia sejak di di bangku SMA. Alur cerita film itu romantis karena itu banyak digemari kawula muda karena dianggap pas dengan suasana kejiwaan anak-anak muda.  Apakah sosok suami istri Eko Pratomo dan Dian Syarief sama seperti  dalam kisah film Galih dan Ratna?

Sangat boleh jadi ada kesamaannya, tetapi Eko dan Dian menyatakan bahwa hubungan keduanya tidak semata dilandasi hubungan cinta tetapi juga merupakan amanah dari Allah SWT. Kini keduanya sudah mengarungi perjalanan pekawinan selama seperempat abad.  Bagi saya, Mas Eko maupun Dian merupakan sahabat yang sudah sejak lama saya kenal. Oleh karena itu tidak berlebihan jika keduanya juga merupakan pasangan suami istri yang pantas untuk dijadikan sebagai role model.

Eko Pratomo dan  Dian Syarief, sudah seperti dua sisi mata uang. Keduanya tidak bisa dipisahkan, satu sama lain saling melengkapi dan saling mengisi. Demikian juga saat menyusun buku berjudul “Belajar Bahagia”, keduanya mengisinya secara bersamaan dan menceritakan tentang makna kebahagiaan dalam satu buku. Kemasan buku ini menarik karena  Eko Pratomo menulis sebanyak 244 halaman dari satu sisi, sementara di sisi yang lain buku itu ditulis Dian Syarief yang menulis sebanyak 156 halaman. Sehingga kalau sudah tuntas membaca seluruh tulisan Eko Pratomo, kemudian kalau ingin membaca tulisan Dian Syarief maka bukunya harus dibalik.

Yang juga menarik dari buku ini, penggunaan karakter huruf (font) dalam buku itu berbeda antara tulisan Eko Pratomo dan Dian Syarief. Tidak hanya itu, tulisan Dian Syarief lebih menarik lagi karena dilengkapi dengan foto dan gambar berupa grafis sebagai visual untuk melengkapi tulisan tentang makna kebahagiaan.

Tidak hanya Eko dan Dian, setiap orang juga mencari dan membutuhkan kebahagiaan. Banyak orang kalau ditanya, Apakah yang diinginkan dalam hidup ini? Kebanyakan akan menjawab, “Saya ingin bahagia”. Kemudian pertanyaan berikutnya, Apakah Anda sudah bahagia? Ada yang menjawab, “Ya saya bahagia”. Tetapi ada juga sebagian yang berkeluh kesah, “Saya tidak bahagia”.

Namun pertanyaan yang paling penting adalah, Apakah bahagia itu? Ada yang berpendapat bahwa definisi bahagia itu adalah memiliki rumah bagus, mobil mewah, istri cantik dan anak-anak yang lucu. Lalu bagaimana jika tidak mendapatkan hal yang diinginkan itu? Apakah orang ini menjadi tidak bahagia?. Ada juga sebagian orang yang menyatakan definisi bahagia adalah hidup tenteram dan tidak memiliki banyak masalah. Bisa mendapatkan seseorang yang mencintai dan dicintai seumur hidup. Ada juga yang mendefinisikan bahagia adalah menjadi diri sendiri dan bebas melakukan sesuatu dan tidak terikat orang lain. Bahagia juga bisa berarti terlepas dari keadaan yang membuat stress. Jadi, kesimpulannya setiap orang memiliki definisi bahagia masing-masing. Bahagia bagi seseorang belum tentu bahagia untuk orang lain.

Nah, menurut Eko Pratomo,  banyak orang mengira yang dikejarnya dalam kehidupan adalah kebahagiaan, yakni dengan mencari harta, kedudukan dan jabatan, popularitas dan lain-lain. Padahal, kata Eko, sebetulnya yang dikejarnya adalah kesenangan. Kesenangan memang membutuhkan materi. Sebaliknya kebahagiaan tidak harus dikejar tetapi dilatih karena potensi menjadi bahagia ada di dalam diri kita sendiri. Sikap dan rasa bersyukur, keikhlasan, kesabaran dan banyak lagi potensi spiritual yang menjadi sumber kebahagiaan hanya akan muncul melalui latihan, yakni latihan untuk taat pada aturan main yang ditetapkan Allah SWT. (hal 172).

Buku Belajar Bahagia adalah kompilasi penggalan perenungan Eko Pratomo dan Dian Syarief dalam memahami setiap pesan Tuhan yang hadir dalam berbagai bentuk. Keduanya berusaha untuk bisa menjalani kehidupan bersama Sang Pemberi Nikmat. Kedua pasangan suami istri ini, terus belajar sabar tanpa batas, belajar memberi tanpa mengharapkan kembali dan dapat menghanyutkan diri dalam setiap ketetapan dan pengaturan terbaik-Nya.

Dian melukiskan perjalanan perkawinannya yang sudah 25 tahun seperti tidak terasa. ”Ternyata kebersamaan yang diwarnai haru biru kehidupan itu telah berlangsung selama 25 tahun, sama dengan usiaku saat menikah dulu. Ah seru!. Rasa itu masih sama bahkan lebih dalam lagi, jleb,” kata Dian mengenang. Yang tidak sama, lanjut Dian, tentulah raga kami. Rambut kami yang beruban, kulit yang mengeriput dan tulang yang mulai rapuh.

Tapi rapuhkah ikatan yang telah diterjang gelombang badai itu? “Justru semakin menguat dan mendewasakan kami. Sungguh ajaib cara Tuhan mengajari kami berdua. Aku Si Anak Bandel dijewer-Nya untuk bisa kembali ke orbit. Sementara suamiku si anak baik, diuji-Nya agar bisa naik kelas. Sungguh indah pengaturan-Nya agar kami bisa berproses menjadi kami yang lebih baik,” kata Dian. Pernikahan adalah sebuah sekolah, tempat belajar bersama yang menyenangkan. Seperti layaknya sekolah, pernikahan pun tak selamanya tenang. Senantiasa ada perbedaan diantara pasangan Eko dan Dian, baik perbedaan keinginan maupun sudut pandang. Hal itu merupakan sesuatu yang lumrah karena suami istri adalah dua jiwa yang memiliki dua karakter yang berbeda. Oleh karena itu kehidupan pasangan Eko dan Dian, juga tak lepas dari riak kecil maupun gelombang sebagaimana halnya lautan lepas. Namun, ditengah perbedaan itu mereka tetap bersama dan kompak. Kunci kehidupannya adalah tidak berputus asa pada rakhmat dari Allah SWT.

(Tjahja Gunawan Diredja, Wartawan Senior Kompas, Penulis Buku “Chairul Tanjung Si Anak Singkong”)

Pesan Kesan ‘Belajar Bahagia’

“Setelah baca buku yang keren ini, saya merasa belajar kembali karena bisa ‘ngingetin diri banged’. Bahasan yang dikupas ada di sekeliling kita. Kalimatnya simpel jadi ringan dibaca. Paling suka tulisan ‘Penugasan Allah’. Dalem banged tapi ngena. Biasanya kalau di kantor, kita dapat SK untuk melakukan aktivitas rutin dan ada nilai Sasaran Kinerja Pegawai. Nah kalau pengugasan dari Maha Kuasa, SKnya tanpa tertulis, tanpa honor. Aksinya tinggal buka mata hati untuk bisa beraksi hingga saat pelaporan pada-Nya kelak. Semoga saya bisa istiqomah dan amanah untuk mengampu tugas dari-Nya.” Dewi Nastiti, Mataram

“Buku keren ini jadi teman buat saya saat jaga di ruang tunggu ICU RS…. inspirasional!.”  Anies Lastiati, Jkt

 

See more…Belajar Bahagia

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *