Resensi Buku ‘Belajar Bahagia’

Belajar-Bahagia

Kalaulah ini sebuah sekolah, maka mata pelajaran utamanya adalah ‘Bagaimana mengambil hikmah dari semua peristiwa’. Prinsip utamanya, ‘Raga boleh rusak, namun jiwa harus tetap utuh dan mengkilat saat menghadap-Nya’. Sedangkan sasaran utamanya, ‘Mendapatkan ridho Allah SWT agar mengizinkan dan menerima mereka menjadi penghuni surga’. Simple dan tidak muluk-muluk, memang!

Membaca buku yang diterbitkan sebagai kado ulang tahun pernikahan perak Eko Pratomo dan Dian Syarief dengan format dua muka (Muka Eko & Muka Dian) ini serasa kita sedang mengintip kehidupan sepasang manusia dengan karakter yang bertolak-belakang, namun bertekad (dan berhasil) menjadi soulmate, menjadi penutup kekurangan masing-masing, bahkan berusaha keras untuk menjadi pembimbing masing-masing pihak untuk makin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Di sisi Dian yang saya kenal sejak ketika masih berkarier di dunia perbankan belasan tahun lalu, jelas sekali terlihat pribadi yang manis menyenangkan, enerjik, jujur, pekerja keras, juga sedikit manja dan pandai bergaul. Catatan-catatan kecil yang pernah ditulisnya dan dibagikan melalui mailing-list Yayasan Samsi Dhuha dan dihimpunnya sejak lima tahun terakhir ini, disajikan dengan ilustrasi karikatur lucu serta diberi warna-warni cerah. Pemilihan karakter hurufnya pun menambah kuat kesan ini santai, gembira, manis, dan manja.

Isinya, sebagian besar adalah curhat Dian kepada Tuhan-Nya dan sebagian lagi doa yang diawali pengakuan kelamahan dirinya sebagai manusia. Pembaca akan hanyut dan merinding membaca curhat-curhat itu, karena pada dasarnya apa yang disampaikan Dian kepada Tuhan-Nya itu, sebenarnya juga adalah masalah diri kita, diri semua manusia di muka bumi ini. Doa yang dipanjatkan Dian juga bisa kita jadikan sebagai doa kita. Coba simak yang sepenggal ini,

“Sering kumerasa banyak kesia-siaan dalam hidupku karena kelalaian dan kebandelanku. Tapi di setiap titik kesadaranku, kubersegera mohon ampunan dan pertolongan-Nya sepenuh langit dan bumi, agar ketaatanlah yang kuraih dan kebaikanlah yang kuperoleh di ujung akhir hdupku. Ya Allah, jadikanlah sebaik-baiknya umurku pada ujungnya. Sebaik-baik amalku pada ujung akhirnya dan sebaik-baik hariku adalah pada saat aku menemui-Mu” (Taubatku-hal-47 sisi Dian Syarief)

Sedangkan di sisi Eko yang seorang suami dan pemimpin keluarga, tentu saja harus menjadi lelaki tegar yang bisa dijadikan tempat bergayut, tempat berlindung, dan tempat merebahkan diri bagi Dian yang sejak beberapa tahun ini harus ‘bersahabat’ dengan penyakit Lupus hingga membuat tubuhnya lemah, bahkan penglihatannya nyaris hilang sama sekali.

Kalimat-kalimat Eko hampir semuanya merupakan penyemangat dan nasihat bagi Dian (juga bagi pembacanya) untuk tegar dan menjalani semua cobaan ini dengan penuh tawakkal. Nasihat itu bukan hanya kalimat-kalimat tak bermakna, tetapi tersaji lengkap dengan ilmu, pengalaman, serta contoh-contoh kasus yang nyata.

Mari kita lihat secarik catatan Eko yang ditulisnya dalam mailing-list, “Tuhan tidak menimpakan sakit dan ketidaknyamanan hanya untuk melahirkan keluh-kesah, tetapi untuk memberikan kesempatan kita kembali mengingat-Nya karena Dia ingin menghapus sebagian khilaf, salah, dan dosa yang pernah kita lakukan. (Sakit Itu Juga Baik –hal 32-sisi Eko Pratomo).

Sangat banyak point yang bisa diambil untuk mencerahkan bathin kita bila membaca buku yang disajikan dengan teknik tulisan-tulisan pendek tanpa mengikat ini. Kita tak perlu membaca secara kronologis dari awal sampai akhir karena memang tak ada awal dan akhirnya, tapi kita bisa memilih topik-topik yang kita sukai sesuka hati.

Satu-satunya kritik untuk buku setebal sekitar 400 halaman ini adalah bobotnya yang terlalu berat sebagai handbook. Mungkin karena penerbitnya ini menyajikan kertas yang licin mengkilat supaya ilustrasi berwarna menjadi cerah, tetapi membuat tas saya terasa berat ketika membawanya.

Jakarta, 31 Desember 2015

Asri Aditya – Jurnalis

Pesan Kesan Buku ‘Belajar Bahagia’

“Bukunya unik & menarik”  – Putu Anggraeni, Jkt

“Bukunya bagus & inspiring. Thanks for sharing, sometimes you don’t realize what is the impact, I believe both of you have touched & inspired sooo many people… Untuk yg kurang suka baca buku, ini enak karena tulisannya pendek” – Laila Panchasari, Bdg

“Bukunya bagus, ringan, enak dibacanya… isinya ngena bangettt “ – Ina Unus, Bogor

“Bukunya bagus banget… seneng banget bacanya, tersentuh, terharu & membuatku semakin bersyukur atas semua yg telah Allah berikan. Buku yg inspiratif. Yg ‘Dawai Hati’ co cuit banget” – Ratna Nurhasanah, Sentul

Buku Belajar Bahagia

Harga buku @75.000/ buah + ongkos kirim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *