Resensi Buku ‘Belajar Bahagia’

Belajar-Bahagia

Zaman dulu ada film layar lebar yang digemari anak-anak muda, judulnya Galih dan Ratna. Film ini mengisahkan tentang cerita cinta dan asmara dua insan manusia sejak di di bangku SMA. Alur cerita film itu romantis karena itu banyak digemari kawula muda karena dianggap pas dengan suasana kejiwaan anak-anak muda.  Apakah sosok suami istri Eko Pratomo dan Dian Syarief sama seperti  dalam kisah film Galih dan Ratna?

Sangat boleh jadi ada kesamaannya, tetapi Eko dan Dian menyatakan bahwa hubungan keduanya tidak semata dilandasi hubungan cinta tetapi juga merupakan amanah dari Allah SWT. Kini keduanya sudah mengarungi perjalanan pekawinan selama seperempat abad.  Bagi saya, Mas Eko maupun Dian merupakan sahabat yang sudah sejak lama saya kenal. Oleh karena itu tidak berlebihan jika keduanya juga merupakan pasangan suami istri yang pantas untuk dijadikan sebagai role model.

Eko Pratomo dan  Dian Syarief, sudah seperti dua sisi mata uang. Keduanya tidak bisa dipisahkan, satu sama lain saling melengkapi dan saling mengisi. Demikian juga saat menyusun buku berjudul “Belajar Bahagia”, keduanya mengisinya secara bersamaan dan menceritakan tentang makna kebahagiaan dalam satu buku. Kemasan buku ini menarik karena  Eko Pratomo menulis sebanyak 244 halaman dari satu sisi, sementara di sisi yang lain buku itu ditulis Dian Syarief yang menulis sebanyak 156 halaman. Sehingga kalau sudah tuntas membaca seluruh tulisan Eko Pratomo, kemudian kalau ingin membaca tulisan Dian Syarief maka bukunya harus dibalik.

Yang juga menarik dari buku ini, penggunaan karakter huruf (font) dalam buku itu berbeda antara tulisan Eko Pratomo dan Dian Syarief. Tidak hanya itu, tulisan Dian Syarief lebih menarik lagi karena dilengkapi dengan foto dan gambar berupa grafis sebagai visual untuk melengkapi tulisan tentang makna kebahagiaan.

Tidak hanya Eko dan Dian, setiap orang juga mencari dan membutuhkan kebahagiaan. Banyak orang kalau ditanya, Apakah yang diinginkan dalam hidup ini? Kebanyakan akan menjawab, “Saya ingin bahagia”. Kemudian pertanyaan berikutnya, Apakah Anda sudah bahagia? Ada yang menjawab, “Ya saya bahagia”. Tetapi ada juga sebagian yang berkeluh kesah, “Saya tidak bahagia”.

Namun pertanyaan yang paling penting adalah, Apakah bahagia itu? Ada yang berpendapat bahwa definisi bahagia itu adalah memiliki rumah bagus, mobil mewah, istri cantik dan anak-anak yang lucu. Lalu bagaimana jika tidak mendapatkan hal yang diinginkan itu? Apakah orang ini menjadi tidak bahagia?. Ada juga sebagian orang yang menyatakan definisi bahagia adalah hidup tenteram dan tidak memiliki banyak masalah. Bisa mendapatkan seseorang yang mencintai dan dicintai seumur hidup. Ada juga yang mendefinisikan bahagia adalah menjadi diri sendiri dan bebas melakukan sesuatu dan tidak terikat orang lain. Bahagia juga bisa berarti terlepas dari keadaan yang membuat stress. Jadi, kesimpulannya setiap orang memiliki definisi bahagia masing-masing. Bahagia bagi seseorang belum tentu bahagia untuk orang lain.

Nah, menurut Eko Pratomo,  banyak orang mengira yang dikejarnya dalam kehidupan adalah kebahagiaan, yakni dengan mencari harta, kedudukan dan jabatan, popularitas dan lain-lain. Padahal, kata Eko, sebetulnya yang dikejarnya adalah kesenangan. Kesenangan memang membutuhkan materi. Sebaliknya kebahagiaan tidak harus dikejar tetapi dilatih karena potensi menjadi bahagia ada di dalam diri kita sendiri. Sikap dan rasa bersyukur, keikhlasan, kesabaran dan banyak lagi potensi spiritual yang menjadi sumber kebahagiaan hanya akan muncul melalui latihan, yakni latihan untuk taat pada aturan main yang ditetapkan Allah SWT. (hal 172).

Buku Belajar Bahagia adalah kompilasi penggalan perenungan Eko Pratomo dan Dian Syarief dalam memahami setiap pesan Tuhan yang hadir dalam berbagai bentuk. Keduanya berusaha untuk bisa menjalani kehidupan bersama Sang Pemberi Nikmat. Kedua pasangan suami istri ini, terus belajar sabar tanpa batas, belajar memberi tanpa mengharapkan kembali dan dapat menghanyutkan diri dalam setiap ketetapan dan pengaturan terbaik-Nya.

Dian melukiskan perjalanan perkawinannya yang sudah 25 tahun seperti tidak terasa. ”Ternyata kebersamaan yang diwarnai haru biru kehidupan itu telah berlangsung selama 25 tahun, sama dengan usiaku saat menikah dulu. Ah seru!. Rasa itu masih sama bahkan lebih dalam lagi, jleb,” kata Dian mengenang. Yang tidak sama, lanjut Dian, tentulah raga kami. Rambut kami yang beruban, kulit yang mengeriput dan tulang yang mulai rapuh.

Tapi rapuhkah ikatan yang telah diterjang gelombang badai itu? “Justru semakin menguat dan mendewasakan kami. Sungguh ajaib cara Tuhan mengajari kami berdua. Aku Si Anak Bandel dijewer-Nya untuk bisa kembali ke orbit. Sementara suamiku si anak baik, diuji-Nya agar bisa naik kelas. Sungguh indah pengaturan-Nya agar kami bisa berproses menjadi kami yang lebih baik,” kata Dian. Pernikahan adalah sebuah sekolah, tempat belajar bersama yang menyenangkan. Seperti layaknya sekolah, pernikahan pun tak selamanya tenang. Senantiasa ada perbedaan diantara pasangan Eko dan Dian, baik perbedaan keinginan maupun sudut pandang. Hal itu merupakan sesuatu yang lumrah karena suami istri adalah dua jiwa yang memiliki dua karakter yang berbeda. Oleh karena itu kehidupan pasangan Eko dan Dian, juga tak lepas dari riak kecil maupun gelombang sebagaimana halnya lautan lepas. Namun, ditengah perbedaan itu mereka tetap bersama dan kompak. Kunci kehidupannya adalah tidak berputus asa pada rakhmat dari Allah SWT.

(Tjahja Gunawan Diredja, Wartawan Senior Kompas, Penulis Buku “Chairul Tanjung Si Anak Singkong”)

Pesan Kesan ‘Belajar Bahagia’

“Setelah baca buku yang keren ini, saya merasa belajar kembali karena bisa ‘ngingetin diri banged’. Bahasan yang dikupas ada di sekeliling kita. Kalimatnya simpel jadi ringan dibaca. Paling suka tulisan ‘Penugasan Allah’. Dalem banged tapi ngena. Biasanya kalau di kantor, kita dapat SK untuk melakukan aktivitas rutin dan ada nilai Sasaran Kinerja Pegawai. Nah kalau pengugasan dari Maha Kuasa, SKnya tanpa tertulis, tanpa honor. Aksinya tinggal buka mata hati untuk bisa beraksi hingga saat pelaporan pada-Nya kelak. Semoga saya bisa istiqomah dan amanah untuk mengampu tugas dari-Nya.” Dewi Nastiti, Mataram

“Buku keren ini jadi teman buat saya saat jaga di ruang tunggu ICU RS…. inspirasional!.”  Anies Lastiati, Jkt

Buku Belajar Bahagia

Harga buku @75.000/ buah + ongkos kirim

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *