Resensi Buku ‘Belajar Bahagia’

Belajar-Bahagia

Dia ambil kembali nikmat melihatku agar aku bisa melihat dengan mata hatiku. Dia ambil kembali nikmat mendengarku agar aku bisa mendengar suara hatiku. Dia ambil kembali nikmat penciumanku agar aku dapat mencium kebusukan hatiku. Dia masih tinggalkan dua inderaku yang lain tuk mengujiku.

Itu adalah salah satu ungkapan hati Dian Syarief dalam bukunya Belajar Bahagia. Sangat menyentuh dan mengharukan. Begitulah sebagian besar isi buku yang ditulis oleh Dian bersama suaminya, Eko Pratomo. Tapi Dian tidak mengeluh. Justru sebaliknya. Dia bahkan menunjukkan kepasarahannya sekaligus ketabahan dan kebesaran tekadnya dalam menjalani hari-harinya dengan tubuh menyandang Lupus. Penyakit ini bahkan tidak ‘dimusuhinya’ tapi dijadikan teman. Tulisan Dian sepertinya personal, sebagai ungapan hatinya pada Allah Sang Pencipta. Tapi secara tak langsung, apa yang diungkapkan oleh Dian sangat menginspirasi siapa pun yang membacanya, orang yang sakit lupus, sakit yang lain, bahkan orang yang tidak sakit. Tak hanya menginspirasi tapi juga memberi support moral kepada orang lain. Bahwa penyakit –apapun itu—bukan musibah atau kutukan, tapi justru tangan Allah yang sedang menepuk pundak kita, agar kita selalu mengingat-Nya.  Alih-alih Dian yang harus diberi dukungan, justru dia yang memberi  semangat dan pikiran positif kepada orang lain. Bahkan upayanya yang nyata adalah dengan membangun Yayasan Syamsi Dhuha (care for lupus, care for low vision).

Apa yang ditulis oleh Eko Pratomo dalam buku ini tak jauh beda dari yang ditulis Dian.  Bedanya hanya dalam gaya penulisan,  lebih lugas, simpel,  dan to the point. Contohnya: Tuhan tidak menimpakan sakit dan ketidaknyamanan hanya untuk melahirkan keluh kesah tapi untuk memberikan kesempatan kita kembali mengingat-Nya  karena Dia ingin menghapus sebagian khilaf, salah, dan dosa yang pernah kita lakukan. It’s a laundry time.

Esensi dari buku ini,   banyak cara untuk menjadi bahagia. Salah satunya dengan meneladani sikap positif dari pasangan Dian Syarief dan Eko Pratomo yang telah menjalani  pahit-manisnya hidup di dalam bahtera pernikahan selama 25 tahun. Mari Belajar Bahagia.

(Ami Wahyu – Penulis/Editor)

 

Pesan Kesan ‘Belajar Bahagia’

“Baru buka halaman pertamanya pun indah…  ‘Pernikahan adalah sebuah sekolah tempat belajar bersama yang menyenangkan’. Indah yah, bahagia bacanya”. Melly, Bdg

“Indah saat membukanya, penuh cinta… penuh keindahan. Apalagi sambil denger lagu Isyana “Kau Adalah…” Aku suka sama bukunya”. Regina, Bdg

 

Buku Belajar Bahagia

 

Harga buku @75.000/ buah + ongkos kirim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *