Tebar 1000 Alat Bantu Low Vision*

Slider-Launching-LOVI-Cente

Low Vision Center hadir di Bandung
 
Saat ini fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh sahabat Low vision (Lovi) masih terbatas, karena itu Care for Low Vision SDF luncurkan Low Vision Center (LVC) 22 April yang lalu. Acara pagi itu diawali dengan konsultasi mata gratis dari Pusat Mata Nasional (PMN) RSM Cicendo yang bermitra dengan SDF untuk dukung LVC ini. Tembang ‘Rahasia di Balik Rasa’ karya sahabat Lovi Joan Bagas membuka acara pagi itu, dialunkan dengan apik oleh The LuLo (Lupies & Lovies). Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, dr. Ahyani Raksanagara, M.Kes sambut baik inisiatif SDF untuk dirikan LVC ini dan berharap akan tingkatkan kreativitas dan semangat sahabat Lovi untuk terus berkarya. Sedangkan dr. Irayanti, SpM (K), MARS, Direktur Utama PMN RSM Cicendo berharap dengan dibukanya LVC ini dapat tingkatkan kerjasama yg telah terjalin selama ini antara SDF dengan PMN RSM Cicendo untuk menjadi solusi atas permasalahan yg dihadapi para sahabat lovi, terkait pengadaan dan distribusi alat bantu Lovi yg dibutuhkan tuk tingkatkan produktivitas para penyandang Lovi di berbagai daerah di Indonesia. 
 
Dari perbincangan dengan M.Iqbal (Sumedang), Fridoom (Bogor), Juniko (karyawan), Galih & Luthfi (mahasiswa) dan Robby (wirausahawan), terungkap suka duka mereka hidup dengan keterbatasan penglihatan baik saat sekolah/kuliah maupun saat harus berkompetisi dengan yg berpenglihatan 100% untuk bisa diterima bekerja dan juga ketika harus merintis usaha sendiri serta mengembangkannya. Dibutuhkan kesungguhan untuk terus mengembangkan diri setelah dibekali dengan berbagai sesi motivasi dan aneka pelatihan baik yg difasilitasi SDF maupun lembaga lainnya. Sedangkan Pak Yuyus (Jakarta) & Ibu Nurlaela (Karawang) sebagai wakil orang tua sahabat Lovi, berbagi pengalaman saat harus mendampingi anak2nya untuk bisa bersekolah dan berkegiatan dengan keterbatasan penglihatan. Dari sharing session pagi itu, terungkap pula bahwa dibutuhkan alat bantu Lovi yg sesuai dan informasi teknologi terkini. Terbukanya kesempatan bagi sahabat Lovi untuk bisa bersekolah di sekolah umum. Saat ini LVC SDF tak hanya berusaha mendatangkan langsung alat bantu Lovi dari luar negeri, tetapi juga tengah berupaya lakukan penelitian, modifikasi & pengembangan alat bantu Lovi bekerjasama dengan para relawan dari Biomedika ITB & Desain Produk ITB. Disamping itu SDF juga bekerjasama dengan Unawe (Universe Awareness), yg akan kembangkan desain alat peraga bagi sahabat Lovi untuk bisa belajar science.
 
Peluncuran LVC SDF ditandai pula dengan penyerahan alat bantu Lovi berupa teleskop kepada M.Irfan, pelajar kelas 6 SD yang sejak tahun lalu sudah menantikan alat tersebut. Penampilan sahabat Lovi cilik Syahrul dan Zidan yang bawakan tarian tradisional serta tembang ‘Tanah Sunda’ oleh sahabat lovi Rina juga pembacaan puisi oleh Wulan – the Scholar warnai peluncuran LVC. Keberserahan diri dari semua yg hadir terwakili oleh doa indah yg dipanjatkan oleh Dr. dr. Budiman, SpM(K) :
“Ya Allah, wahai yg memudahkan segala yg sukar dan yg menyambung segala yg patah. Yang menemani semua yg sendiri dan pengaman segala yg takut. Kami mohon kasih sayangMu”
 
Let’s light up the world with the ray of our heart
Low vision, bright passion

Eye-Consultation

Free eyes consultation by dr. Ine Renata SpM

Speech

Speech by dr. Ahyani Raksanagara M.kes & dr. Irayanti, SpM (K), MARS

Scheme

Cooperation scheme between SDF & PMN RSM Cicendo

ITB-1

ITB-2

ITB Students demonstrate self reader & modified magnifier – doc. Kompas

Lovi-aids

Low vision aids handed by Founder of SDF – doc. Edi Rep

Irfan

Irfan with his new telescope – doc. JP

Slide-LVC

zidan

Zidan (10 thn), Karawang – gunakan handheld magnifier

hanafi

Bpk Hanafi (73 thn), Bandung – gunakan stand magnifier

irfan

Irfan (13 thn), Bandung – gunakan teleskop

irana

Ibu Irina (26 thn), Cililin –  gunakan tongkat

annisa

Annisa Vidya (32 thn), Bandung – gunakan handheld magnifier

raihan

Raihan Rizka (15 thn), Karawang – gunakan stand magnifier

vina

Vina Lenavia (13 thn), Garut – gunakan teleskop

lugi

Lugi (23 thn), Bandung – gunakan handheld magnifier

bririlan

Brilian Adam (18 thn), Karawang – gunakan stand magnifier

wildan

Wildan (13 thn), Garut – gunakan teleskop

fedya

Fedya (11 thn), Serang, Gunakan stand magnifier

syahrul

Syahrul (13 thn), Bandung – gunakan teleskop

Info Low Vision

Low Vision

SESEORANG dengan low vision (lovi) biasanya akan mengalami kendala dalam menjalani aktifitas sehari-hari. Ia mengalami kesulitan  baca tulis, berjalan di tempat asing, atau mengenali wajah orang. Namun, lovi bukanlah buta total.  Dia masih bisa melihat walaupun sangat minimal.

Apakah low vision itu?

Tidak banyak orang tahu apa itu low vision, meski  jumlah penyandangnya di seluruh dunia enam kali lebih banyak dari buta total (totally blind), sekitar 245 juta jiwa (data Organisasi Kesehatan Dunia-WHO). Menurut definisi WHO, lovi adalah gangguan penglihatan berupa penurunan tajam penglihatan atau lantang pandang permanen setelah mendapat pengobatan maksimal maupun menggunakan alat optik standar.

Alat optik standar antara lain kacamata atau lensa kontak. Jika seseorang mengalami gangguan penglihatan namun masih bisa melihat dengan baik ketika dikoreksi dengan kacamata atau lensa kontak, maka dia bukan seorang penyandang lovi. Cara yang biasa dipakai dalam mengukur tajam penglihatan adalah dengan menggunakan Snellen Chart seperti terlihat dalam gambar berikut.

(gambar Snellen Chart)

Pada Snellen Chart ini, ada angka kecil dalam setiap baris huruf yang menunjukkan jarak baca orang berpenglihatan normal, misalnya dari jarak 60, 36, 24, 18, 12, 9 atau 6 meter. Jika seseorang yang berjarak 6 meter dari tabel itu dapat membaca baris yang berisi huruf-huruf untuk jarak 6 meter, maka  ketajaman penglihatannya adalah 6/6 atau “normal”. Jika dia dapat membaca hanya hingga baris yang berisi huruf-huruf untuk jarak 24 meter, maka ketajaman penglihatannya adalah 6/24. Angka yang di atas (pembilang) selalu menunjukkan jarak pembaca dari tabel, dan angka bawah (penyebut) menunjukkan jarak mata normal dapat membaca huruf-huruf itu. Dengan kata lain, bila ketajaman penglihatan seseorang adalah 6/24, ini berarti bahwa huruf-huruf yang dapat dibaca oleh mata normal dari jarak 24 meter, dapat dibaca dari jarak 6 meter oleh orang tersebut.

Berdasarkan hasil tes Snellen Chart, WHO mengklasifikasikan penglihatan sebagai berikut:

Normal  vision:  6/6 hingga 6/18

Low vision       :  <6/18 hingga >3/60

Blind                : <3/60

Sedangkan lantang pandang adalah luas area yang dapat dilihat seseorang tanpa menggerakkan bola matanya. Lantang pandang untuk mata normal adalah  180 derajat.  Pemeriksaan dilakukan  dengan cara merentangkan kedua tangan. Fokus penglihatan tetap ke depan. Seseorang yang mempunyai lantang pandang normal akan dapat melihat tangan kiri dan kanan tanpa harus mengerlingkan mata  atau menoleh. Lantang pandang penyandang lovi sangat sempit sehingga seperti melihat dari lubang kunci.

Berikut beberapa contoh gangguan penglihatan pada penyandang lovi :

Contoh-Penglihatan

Penyebab low vision

Low vision menyerang tanpa melihat batasan umur,  bisa mulai sejak lahir hingga usia tua. Pada anak-anak, low vision biasa disebabkan gangguan kongenital (bawaan sejak lahir) atau kecelakaan.  Adapun pada usia tua biasanya karena penyakit degenerasi makula (age related macular degeneration/ARMD) atau diabetic retinopathy pada mereka yg mempunyai latar belakang diabetes melitus. Penyebab lainnya adalah katarak,  glaukoma, kekurangan vitamin A, infeksi, retinitis pigmentosa, trauma benda tajam/tumpul, kecelakaan, atau efek samping obat tertentu.

Gejala yang dialami oleh penyandang lovi tergantung dari kelainan yang ada, namun semua dapat berdampak pada aktivitas sehari-hari. Orang dengan keterbatasan penglihatan jauh akan sulit mengenali orang dan benda, susah memahami komunikasi non verbal, dan tidak mandiri mobilitas seperti menghindari rintangan atau saat menyebrang jalan.

Mereka yang menderita keterbatasan penglihatan dekat akan menemui kesulitan baca tulis, menjaga kebersihan pribadi, memilih dan menggunakan pakaian, makan dan minum. Dia juga sulit  mengerjakan hal  detail yang terkait profesi misalnya menjahit, memahat, dan lain-lain. Sedangkan mereka yang mempunyai keterbatasan lantang pandang akan kesulitan saat harus menemukan benda. Kemandirian mobilitasnya terganggu ketika pencahayaan berubah, berada di tempat asing,  atau saat berada di lingkungan yang kompleks dan padat seperti suasana pesta dan pasar.

Bukan akhir dari segalanya

Meski terhambat dalam menjalani keseharian, menjadi penyandang lovi bukanlah akhir dari segalanya. Harapan selalu ada jika dia berikhtiar merehabilitasi fungsi penglihatan sesegera mungkin. Tujuannya bukan untuk memperbaiki fungsi penglihatan, namun  mencari alat bantu yang paling efektif untuk memaksimalkan sisa penglihatan. Dia juga harus beradaptasi agar dapat mempertahankan aktivitas harian, tidak tergantung dengan orang lain, serta meningkatkan kualitas hidup.

Alat bantu low vision sudah berkembang, dan digolongkan menjadi dua, yaitu alat bantu optik dan non optik. Alat bantu optik misalnya kaca pembesar (magnifier), teleskop, teropong, dan closed-circuit television (CCTV). Adapun, alat bantu non optik dari yang paling sederhana, yaitu  alat pengontrol silau, garis tebal pena dan kertas, pemandu menulis, jam dinding kontras. Juga ada berbagai alat elektronik lovi friendly yang dilengkapi suara, seperti jam tangan dan kalkulator. Alat yang paling canggih, yaitu program komputer dan telepon genggam bersuara. Seorang penyandang low vision tidak perlu takut gaptek. Hal yang penting adalah kemauan untuk mempelajari hal-hal baru.

Selain alat bantu, penyandang low vision  perlu beradaptasi dengan mengikuti latihan orientasi mobilitas agar bisa hidup lebih mandiri. Paling tidak, seorang penyandang lovi masih bisa melakukan aktifitas sehari-hari. Keluarga penyandang low vision harus mendukung dengan tidak bertindak over protektif. Perlindungan berlebihan malah akan memperburuk keadaan.  Bekali  penyandang low vision dengan berbagai pelatihan adaptasi serta menggali potensi diri agar hidup lebih mandiri dan berkualitas.

Perlu diketahui bahwa seorang anak penyandang low vision tidak harus bersekolah di sekolah luar biasa. Dia dapat bersekolah di sekolah umum dengan dengan menyesuaikan posisi dan lokasi tempat duduk,  juga menyesuaikan pencahayaan.

Pencegahan

Low vision tidak perlu terjadi jika kelainan pada mata segera terdeteksi, misalnya pada glaukoma dan katarak. Jika penderita datang ke dokter pada stadium awal, selain lebih mudah diobati, penyakit awal dapat dicegah agar tidak menjadi lebih parah. Perlu diingat, low vision dapat diketahui sejak anak-anak, sehingga orang tua dan para guru harus jeli pada perubahan sikap anak sehari-hari. Perhatikan, apakah anak memicingkan mata saat melihat atau menonton televise. Apakah dia melihat tulisan di papan tulis harus dalam jarak dekat, sering terjatuh dan tidak mengenali wajah orang. Semakin dini memeriksakan, semakin cepat penyandang low vision menemukan alat bantu yang sesuai dan beradaptasi dengan maksimal.

Selain itu, sangat penting untuk mengetahui pencegahan trauma pada mata agar cacat permanen dapat dihindari. Jika bekerja pada kondisi yang berisiko melukai mata, gunakanlah alat pelindung dengan baik dan benar. Jika trauma tidak bisa dihindari dan sudah terjadi, segeralah  pergi ke pelayanan medis untuk mendapat pertolongan pertama dengan cepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *