DSP's Weekend Notes

Kambing

Kisah Mbah Sadiyem

Malam itu sepulangnya Mbah Sadiyem shalat tarawih di masjid, betapa terkejut dirinya saat mendapati pintu rumah yang sudah terbuka & dadanya semakin berdebar kencang saat mendapati kondisi rumah yg berantakan. Betapa hancurkan hatinya, saat uang sejumlah Rp. 2.5 jt yg disimpannya dengan sangat hati-hati telah raib digondol maling. Itulah miliknya yg paling berharga saat ini. Uang tersebut adalah hasil penjualan kambing yg telah susah payah dipeliharanya selama ini. Sosok renta itu tiap hari naik turun bukit tuk mencari rumput bagi peliharaannya itu & bersihkan kotoran di kandang sebelum berangkat ke pasar tuk berjualan gula jawa hasil olahannya sendiri. Semua dilakoni dengan telaten tuk bahagiakan cucu-cucunya saat lebaran nanti. Senyum di wajah keriput itu selalu terkembang saat teringat cucu-cucunya & sering terkekeh jika teringat kelucuan-kelucuan dari para cucu. Hadapi kenyataan seperti itu… apa daya si Mbah hanya bisa sesegukkan, nelongso dengan nasib malangnya

Dalam hidup ini, tak ada sesuatu yg kebetulan. Semua yg terjadi, baik buruk menurut kita… adalah dengan izin-Nya. Dia mengizinkan segala sesuatu terjadi karena Dia selalu berikan pilihan bagi siapa saja tuk memilih jalan kebaikan & jalan keburukan. Mengizinkan bukan berarti menyetujui. Bukan berarti meridhoi… Malam itu Sang Maha Bijak ingin sempurnakan ibadah si Mbah dengan berikan ujian kesabaran & ujian keikhlasan. Dia juga ingin perlihatkan betapa fananya dunia beserta segala isinya. Uang Rp. 2.5 jt sempat berada dalam genggaman si Mbah, namun setiap saat bisa juga lenyap. Betapa memang uang & harta lainnya hanya boleh digengam ditangan bukan dihati. Sang Maha Kasih ingin melipatgandakan pahala dari amalan si Mbah di Ramadhan ini, tak hanya dapatkan pahala dari niat baik tuk senangkan hati orang lain, pahala dari ikhtiar & kerja kerasnya namun juga Dia ingin ganjar si Mbah dengan pahala sabar & pahala ikhlas. Sebaliknya bagi sang maling, Dia biarkan pula sang maling tuk berada dijalan kesesatan. Seolah beruntung karena tanpa susah payah dapat dengan mudah menikmati hasil jarahannya dengan tetap bebas berkeliaran. Sang maling mengira bahwa tidak ada yg tahu perbuatannya & tak ada hukuman baginya. Padahal Sang Maha Melihat tengah menatapnya saat dia beraksi & mencatatnya dengan seksama. Kelak semuanya akan ditunaikan & setiap jiwa akan menerima akibat dari setiap perbuatannya…

Jika demikian, siapakah sesungguhnya yang beruntung & siapakah yang merugi ?

 

Doa Tatkala Dilanda Keresahan

Allahumma inni‘abdukaibnuabdika ibnu amatika, naashiyatii biyadika, maadhin fiyya hukmuka, ‘adhlun fiyya qadhaauka, as aluka bikullismin huwa laka, sammaita bihi nafsaka, au anzaltahu fii kitaabika, au ‘alamtahu ahadan min khalqika, awista’tsarta bihi fiiilmilghaibiindaka, antajalal quraaana rabii’a qalbii, wa nuura shadrii, wa jala a huznii, wa dzahaaba hammii.

“Ya Allah! Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu (Adam) & anak hamba perempuan-Mu (Hawa). Ubun-ubunku di tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadha-Mu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepada-Mu dengan setiap nama (baik) yg telah Engkau gunakan untuk diri-Mu, yg Engkau turunkan dalam kitab-Mu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yg Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, hendaknya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka & kesedihanku.” (HR. Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *