Mahasiswa dan Pelajar SMA Desain Alat Bantu Bagi Disabilitas Netra

Siaran Pers 

Bandung, 14 Oktober 2017

Mahasiswa  dan Pelajar SMA Desain Alat Bantu Bagi Disabilitas Netra

Syamsi Dhuha Foundation (SDF), LSM nirlaba peduli Low vision (Lovi), hari ini gelar puncak acara Hari Penglihatan Sedunia dengan usung tema ‘My Sight My Blessing’ dan sajikan sejumlah acara, seperti : pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah Lomba Desain Alat Bantu Disabilitas Netra (LDABDN) 2017, peluncuran audio book ‘Belajar Bahagia’ dan Kelas Cerdas Finansial bagi Disabilitas Netra (DN). Tak ketinggalan konsultasi mata komprehensif gratis, pameran karya finalis LDABDN dan display alat bantu Lovi.

Sekecil apapun penglihatan yg tersisa, akan sangat berharga bagi pemiliknya. Kondisi keterbatasan penglihatan ini ada yg telah disandang sejak lahir, masih kecil/remaja maupun setelah dewasa. Berapapun usianya, alat bantu dibutuhkan tuk bisa berkegiatan dan produktif. “Inilah yg dorong SDF tuk menginisiasi LDABDN 2017. Kali ini masih terbatas se-Pulau Jawa, ada 30 peserta yang daftarkan diri, berasal dari Bandung, Jabodetabek, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur, mulai pelajar SMA hingga peserta umum. Dari 26 desain yang masuk, terpilih 8 finalis oleh dewan juri yg terdiri dari : DR. Nedina Sari, M.Sn (Ketua Prodi Desain Produk ITB), DR. Hasballah Zakaria, M.Sc (Kepala Lab. Tehnik Biomedika ITB), DR., dr. Andika Prahasta SpM., Mkes (Kepala Dept. I Kesehatan Mata PMN RSM Cicendo) dan Ir. Yana Raharja (Praktisi Kewirausahaan yg  alumni Elektro ITB). Selain karya peserta Lomba, SDF pun berikhtiar tuk kembangkan alat bantu yg dapat bacakan tulisan ‘Self Reader’ dibantu tim relawan dari ITB”, jelas Laila Panchasari, Manajer SDF.

“Memang lebih mudah impor barang dari Cina/India, tinggal transfer… barangpun datang. Tapi apakah memang kita tak bisa membuat sendiri alat bantu yg dibutuhkan ini? Kecenderungannya saat ini semua ingin serba mudah dan serba cepat. Padahal bukankah Tuhan ajari kita tuk mencintai proses? Proses belajar yg memang tak mudah, disertai kegagalan dan jatuh bangun. Justru disinilah keindahan proses itu…. Bangkit lagi setelah jatuh, coba lagi setelah gagal (ingat kisah Thomas Alva Edison – sang penemu listrik? Yg penemuannya bermanfaat sepanjang masa). Rasanya apa yg kita coba ikhtiarkan tak seajaib dan sespektakuler itu. Yg SDF coba hidupkan adalah semangat tuk berkreasi danberinovasi. Tak mudah patah, tak mudah menyerah dengan situasi dan kondisi Negeri yg terkadang kurang kondusif ini. Tapi semangat berkarya harus tetap dihidupkan, agar kita tak menjadi bangsa yg miskin ide dan inovasi. Mampu melihat dan menangkap peluang dari celah sempit, mensiasati kesulitan yg menghadang di depan mata”, ungkap Dian Syarief, Ketua SDF yang juga penyandang Lovi.

“Seiring dengan inisiatif SDF yang diluncurkan Agustus lalu, ‘Gerakan Indonesia Cerdas Finansial (GICF)’, kampanye publik tuk bangun kesadaran dan mengedukasi masyarakat Indonesia tentang pentingnya literasi keuangan, maka pada WSD kali ini melalui Kelas Cerdas Finansial bagi DN yg disajikan oleh Yanti Sufianti, STP, MSi (fasilitator GICF), peserta diharapkan dapatkan kiat-kiat kelola keuangan dan tentukan prioritas kebutuhan, tak sekedar penuhi keinginan saja, hingga miliki kecakapan dalam kelola keuangannya yang akan berdampak pada kesejahteraan hidup”, papar Eko Pratomo, Founder SDF.

Alunan vokal bening Lovi cilik Widya lantunkan ‘Walau Aku Tak Melihat’ iringi peluncuran audio book ‘Belajar Bahagia’, penggalan perenungan Eko Pratomo dan Dian Syarief yg diambil dari buku setebal 400 halaman dengan judul yg sama. Audio book ini dipersembahkan bagi mereka yg miliki keterbatasan penglihatan juga bagi yang miliki keterbatasan waktu tuk membaca. Audio book ini hasil kolaborasi relawan SDF : Karina Apin (script editor & narator), Satrio Wibowo (audio editor), Caca Samhudi dan Mohammad Ismed (narator), Khrishnan Mohammad dan Ibam Luddin (music illustrator), Rizki Diani (designer).

‘Lovi Goes to School’ program sosialisasi dan edukasi kesehatan mata SDF, kali ini mengambil tempat di SMAN 1 Bandung Agustus yg lalu dan ajak para pelajar untuk kenali Lovi dan tumbuhkan rasa empati mereka. Acara diawali dengan konsultasi seputar mata dan dilanjutkan talk show ‘Cara Bijak Gunakan Gadget’ bersama para dokter mata dari PMN RSM Cicendo serta empathy game yang diikuti para pelajar. “Aku semakin bersyukur dan pengen banget menjaga mata ini. Gak kebayang kalau penglihatanku diambil Tuhan, aku belum tentu bisa bertahan seperti kakak-kakak ini”, sambil menunjuk penyandang lovi. “Salut untuk mereka semua…keren deh pokonya…mantap!, ujar Maira salah seorang partisipan wakil kelas 10, dengan mata berkaca-kaca.

Puncak acara WSD 14 Oktober 2017 ini, selain diikuti oleh ratusan penyandang DN, juga diikuti perwakilan komunitas dan institusi pendukung, para dokter mata dan umum. Dimeriahkan pula dengan persembahan tarian dari Aceh ‘Ratoh Duek’ yg dibawakan sahabat Lovi dan relawan,serta lagu tematik dari The LuLo yg beranggotakan penyandang Lupus, Lovi dan relawan serta penampilan khusus dari para pemenang Song and Music Competition yang diadakan SDF tahun 2016 lalu. Tak lupa pada kesempatan WSD kali ini, para peserta acara yg datang diajak tuk sumbangkan e-waste (sampah elektronik) yg akan di daur ulang guna cegah pencemaran lingkungan yg dapat terjadi jika sampah elektronik tersebut dibuang sembarangan. Adapun e-waste ini dapat berupa : computer (desktop & laptop, tidak termasuk monitor CRT), printer (tidak termasuk toner/cartridge) dan gadget (handphone, ipod, tablet dsb), beserta aksesoris (adaptor, kabel, power bank, charger) yg sudah tak terpakai/rusak.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi :

Finalis Lomba Desain Alat Bantu Disabilitas Netra 2017 :

  1. PiCirclet : alat bantu baca yg diinisiasi 3 mahasiswa : Elektro, TI & Desain Produk ITB
  2. Inosat : sabuk tuk deteksi penghalang & tentukan arah kiblat, karya 2 mahasiswa : Elektro & Ekonomi UN Semarang,
  3. iStick : tongkat tuk deteksi penghalang, panas & air, dirancang oleh 2 mahasiswa : Elektro & Desain Produk ITB,
  4. Stormer : tas pinggang yg bisa bedakan pecahan uang kertas, diinisiasi oleh 3 pelajar kelas 12 SMANU MH. Thamrin Jakarta,
  5. Seeker : aplikasi handphone tuk kenali barang atau tempat, diinisiasi oleh 2 alumni Teknik Mesin, Sleman,
  6. Belajar Batik : alat yg mungkinkan disabilitas netra belajar aneka motif batik, diinisiasi oleh  mahasiswa & alumni ITS : Fisika, Elektro & Desain Produk,
  7. Info Trayek : ide perangkat tuk dapat berikan info trayek angkutan bagi disabilitas netra, diinisiasi oleh 3 mahasiswa : Manajemen Rekayasa Industri, TI & Desain Produk ITB,
  8. Eye-ris : tongkat tuk deteksi penghalang yg dilengkapi kamera, dirancang oleh 3 alumni ITB : Elektro, Desain Produk, Perminyakan.

Prototype alat bantu Lovi karya mahasiswa ITB & pelajar SMA (searah jarum jam):

Lomba-7

Self reader

Lomba-5

PiCirclet

Lomba-6

Info trayek

Lomba-4

Lomba-1

i-Stick

Lomba-2

Lomba-3

Stormer

Dipamerkan di acara World Sight Day – SDF

Jl. Ir. H. Juanda No.369 Komp. DDK No. 1 Bandung 40135, Indonesia

P/F +62.22.250 2008, +62.22.250 4050 M. +62.813 2050 9446 Email : end@cbn.net.idwww.syamsidhuhafoundation.org

Syamsi Dhuha Yayasan Acc. No. 700 009 24 97 Bank Syariah Mandiri Hasanuddin – Jakarta

 

 

 

 

 

Jl. Ir. H. Juanda No.369 Komp. DDK No. 1 Bandung 40135, Indonesia

P/F +62.22.250 2008, +62.22.250 4050 M. +62.813 2050 9446 Email : end@cbn.net.idwww.syamsidhuhafoundation.org

Syamsi Dhuha Yayasan Acc. No. 700 009 24 97 Bank Syariah Mandiri Hasanuddin – Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *