DSP's Weekend Notes

WK-1

‘After the Party’ – sepenggal  perenungan

Euforia atas sebuah reuni akbar berlalu sudah… Sebuah reuni yg bisa diniatkan & disikapi berbeda. Bersilaturahim  adalah niat terpenting, karena sejatinya itulah yg utama. Bukan hanya sekedar bernostalgia… Bukankah sudah cukup kita reguk keceriaan masa remaja yg indah? Kita hidup di masa kini dengan PR yg berbeda.

Ada sebuah pesan penting yg Dia hadirkan saat reuni akbar itu berlangsung, yaitu tentang : kepastian sebuah kematian. Pasti datangnya, namun tidak pasti cara & waktunya. Itulah yg diingatkan seorang Dai kondang yg juga alumni 5-81. Sejalan dengan itu, saat perhelatan berlangsung, seorang sahabat berada dalam kondisi kritis di ICU & akhirnya diperjalankan ke barzah, waktunya telah tiba…

Kapan giliranku? Ah masih lama, aku kan sehat, aku kan belum tua (masih ada angkatan lain yg lebih tua). Padahal kapan waktunya adalah soal ujian yg tak pernah bocor sampai kapan pun. Bukan tanpa peringatan lho… Lihatlah rambutku yg sudah beruban, kulitku yg mengeriput… Sudah cukupkah bekalku tuk pulang? Krn sejatinya kita berada dalam antrian yg sama dengan sahabat kita yg telah berpulang… Akankah kita berjumpa kembali kelak di reuni yg paling akbar?…

Ayah

1 dari 2 lelaki yg mencintaiku telah pergi

Tuhan Yang Maha Baik telah memberiku kesempatan yg luar biasa tuk bisa merasakan sebagian dari cintaNYA yg hadir melalui cinta tulus 2 lelaki yg warnai hidupku…

Yg pertama dialah Ayahku, sosok pribadi yg unik, kurang populer, dengan  segenap kelebihan & kekurangannya… Beliaulah yg pertama kali mengenalkanku kepada Tuhan. Tumbuhkan minat bacaku dengan rutin belikan buku cerita hingga menyulap satu 1 di rumah tuk jadi ruang baca anak-anaknya. Beri kesan mendalam hingga dewasa. Beberapa lagu anak-anak yg kerap kunyanyikan, bangkitkan kenangan manis bersamanya… Ah tak terasa bulir-bulir air mata jatuh saat masa-masa bahagia itu tergambar kembali.

Tak selalu keinginanku sejalan dengan beliau, saat kuingin belajar menari, beliau justru mengirimku tuk belajar yudo bersama kakak & adikku yg lelaki. Hempasan & bantingan di atas matras yg keras saat latihan, sama sekali tak kufahami maksudnya. Namun jauh di kemudian hari, baru kusadari & kurasakan manfaat dari semua itu… Belajar tahan banting terhadap ujian kehidupan. Beliau keras sebagai pendidik, tapi sisi emosionalnya juga kuat. Saat masih SD & aku harus gunakan kacamata minus yg terus bertambah, beliau menangis di tempat tidurku. Saat ulang tahunku & beliau ingin utarakan sesuatu, lelaki keras itu menangis… Kutenangkan beliau dengan membawanya berjalan perlahan ke kebun, air mata itu terus berjatuhan warnai momen-momen kehidupan kami baik yg membahagiakan maupun yg menyedihkan. Saat ijab kabul & saat aku harus jalani bedah otak, sama-sama menjadi saat-saat yg dramatis dengan kadar yg berbeda… Yg satu tangis keharuan, sedangkan yg lainnya adalah tangis kesedihan yg mendalam. Saat aku diberi kesempatan hidup yg kedua pasca bedah otak, menurut beliau wajahku seolah-olah bersionar karena terbebas dari rasa sakit yg mendera akibat abses otak. Kutangkap itu sebagai ekspresi kebebasan beliau dari tekanan batin yg dirasakannya.

Kini Ayahku telah tiada, usia lanjut telah menggerus fisik & semangatnya. Waktunya telah tiba tuk lebih dulu lanjutkan perjalanan ke barzah. Kiranya Sang Maha Kasih mengampuni segala dosanya & menerima semua amal shalihnya… Aku yg masih diberi kesempatan hidup, harus terus berproses tuk bisa menjadi putri yg shalihah, memantaskan diri tuk bermohon pengampunan, belas kasih & kasih sayang-Nya. Akupun masih harus memantaskan diri tuk dampingi lelaki yg kedua, agar kami layak menjadi pasangan dunia akhirat…

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *