DSP's Weekend Notes

Saat kuterima kiriman medali itu, yg kurasakan adalah : benar ya… saat aku menghampiri-Nya dengan berjalan, maka Dia akan menghampiriku dengan berlari…. Aku tak mungkin tempuh jarak sejauh 170 km dengan berjalan ataupun berlari, relay apalagi sendirian. Yg kumampu hanya berjalan sejauh 2,5 km, itupun dalam 30 menit.

Yg kumampu hanya ajak & fasilitasi teman-teman dengan keterbatasan fisik tuk mencoba berjalan atau berlari & gaungkan gerakan anti Tager (takut gerak) & Mager (males gerak). Perlu kekuatan hati tuk memulai itu semua & berketetapan hati tuk berlatih membangun kekuatan kaki yg terlemahkan selama ini.

SDF Virtual Charity Run for Lupus – Mei 2018 dan Blind Run & Walk – Oktober 2018 adalah sarana tuk mendekat & menghampiri-Nya. Tetap bersyukur dengan kondisi yg ada, luruskan niat sempurnakan ikhtiar & berketetapan hati tuk terus berlatih walau harus meniti jarak meter demi meter ala sang kura-kura.

Tak pernah mimpi bisa pakai jersey pelari saat kuterima pula kiriman paket sebelumnya. Tak pernah terbayangkan bisa gantungkan medali keren itu di leherku…. Oh begini ya rasanya saat teman-teman pelari berhasil menjadi finisiher. Terima kasih ya Allah atas curahan kasih sayang-Mu. Terima kasih sahabats yg telah berbagi kebahagiaan melalui jersey & medalinya.Tosh!

Kukenang almarhum Ayah yg pernah mengajariku berdo’a QS. Al-Isra : 80, tanpa kupahami makna yg terkandung dibalik firman Allah SWT tersebut. Baru semalam dapat kurasakan keindahan do’a tersebut saat tercerahkan dengan kedalaman  maknanya.

Betapa kita ini selalu keluar masuk. Di perjalankan  sejak awal hingga akhir nanti. Selalu silih berganti keluar masuk dari 1 tempat ke  tempat lain, dari 1 kondisi ke kondisi yg lain. Sang Maha Kasih mengajari kita tuk bermohon kepada-Nya tempat masuk & keluar yg benar, sekaligus juga mohon pertolongan atas kelemahan diri ini.

Ah…. sungguh Dia maha teliti, bekali kita dengan apa yg kita butuhkan. Namun kita pun di didik tuk mencari dan persiapkan perbekalan sendiri semasa hidup tuk pulang ke kampung akhirat kelak….

 

Saat kita berada dalam antrian yg sama tuk lanjutkan perjalanan ke barzah, jika kita bisa memilih… kita ingin berada di antrian terdepan atau paling belakang? Berbeda dengan antrian lainnya, yg ini sepertinya kita akan pilih yg paling belakang…

Mengapa? Ada yg masih ingin menikmati dunia atau karena masih ingin kumpulkan bekal kepulangan ke kampung akhirat. Paling nyamankah kita pulang belakangan? Tidak juga… karena kita akan ditinggal pergi oleh orang-orang yang kita sayangi.

Tapi sebenarnya ini adalah sebuah perpisahan sementara, karena jika kita bisa manfaatkan sisa waktu yg ada, dengan menjadi seperti yg Tuhan inginkan, kelak di alam keabadian kita akan dipertemukan kembali dengan orang-orang terkasih yg juga menjadi hamba-hamba kesayangan-Nya. Merasa kehilangan & kangen sudah pasti, dapat terobati dengan kirimkan doa-doa terbaik yg naik ke langit karena ketaatan kita kepada-Nya.

Kitapun akan sibuk dengan persiapan pulang kita sendiri karena saatnya akan tiba kapan saja & dengan cara apa saja. Semoga melalui amal shalih yg ditunaikan, kita dapat beroleh akhir kesudahan yg baik…

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *