TETAP SEMANGAT HIDUP DENGAN AUTOIMUN

TETAP SEMANGAT HIDUP DENGAN AUTOIMUN


 

Sahabat tercinta, Minggu, 3 Februari 2019, Reumatologi Klinik Bandung (RKB) kembali gelar simposium yg sudah jadi agenda tahunan di Hotel El Royale, Bandung. Tak hanya bagi para dokter dan kalangan medis, adapula program edukasi bagi pasien yg kali ini mengupas tentang apa dan bagaimana autoimun.

Sekitar 70 orang dengan autoimun (odamun) beserta pendampingnya ikuti program ini, selain dari Bandung dan sekitarnya, hadir pula odamun dari Tasikmalaya, Tangerang, Bekasi, Bogor, Jakarta dan Garut. Diawali dengan Senam Lupus dan bermain angklung bersama, peserta terlihat bersemangat dan siap menyimak para pembicara pagi itu.

Sesi dibuka dengan pemaparan dr. Rachmat Gunadi SpPD-KR FINASIM, tentang apa itu Autoimum dan bagaimana pencegahannya.

Penyakit autoimun terjadi karena sistem imun yg seharusnya melindungi tubuh dari bahaya infeksi virus dan bakteri dari luar, berbalik menyerang sistem dan organ tubuh sendiri. Faktor pencetus diantaranya : Genetik/KeturunanLingkungan Alam sekitar (paparan sinar matahari, polutan, polyvinyl ester, silicon dll), Lingkungan yg berada pada tubuh kita (kuman pada kulit, kuman pada rongga mulut, rongga usus dan jalan lahir), Hormonal.

Selain penanganan  dan  pengobatan yg dianjurkan dokter, diet gizi seimbang, para odamun dianjurkan rutin berolah raga, serta mengelola stress dengan tenang. Karunia Tuhan yg sering terlupakan tuk kita manfaatkan adalah sinar matahari yg sangat penting dalam pembentukan Vitamin D yg dibutuhkan oleh tubuh, cukup berjemur sekitar 15 menit sebelum pukul 8:30.

Sejalan dengan pemaparan dr. Rachmat, drg. Gusriani, Sp.Perio, sampaikan pentingnya jaga kesehatan mulut yg banyak mengandung berbagai jenis mikroorganisme seperti bakteri, virus dan jamur, baik yg bermanfat untuk tubuh maupun yg berpengaruh pada timbulnya berbagai penyakit. Gosok gigi minimal sehari 2x setelah sarapan dan sebelum tidur dengan cara yg benar J. Pastikan seluruh bagian gigi dan gusi sudah bersih, tidak ada sisa makanan yg dapat timbulkan plak, tempat kuman bersarang, bagi odamun hindari yg mengandung alkohol karena dapat akibatkan mulut menjadi kering dan membunuh kuman ‘baik’ sehingga bisa tumbuh jamur yg menganggu kesehatan mulut. Ganti sikat gigi setiap 3 bulan, kontrol ke dokter gigi secara berkala.

Lalu bagaimana agar tetap semangat walaupun harus hidup dengan autoimun? Ibu Dian Syarief, Ketua Syamsi Dhuha Foundation (SDF), ajak peserta bangun kesadaran untuk dapat menerima kondisinya dengan bagikan tips berikut :

  • Selesaikan persoalan dengan diri sendiri/lewati fase : Denial (Penolakan) – Anger (Kemarahan) – Bergaining (tawar menawar) – Depression (Depresi) – Acceptance (Penerimaan)
  • Bersahabat dengan Autoimun.
  • Jadilah ‘Smart Odamun’ yg Kreatif dan Inovatif

Pada sesi tanya jawab, berikut beberapa pertanyaan yg diajukan para peserta dan ditanggapi oleh para pembicara :

  • Kekhawatiran autoimun menurun pada anak : perlu dipahami bahwa faktor genetik bukan satu-satunya pencetus autoimun. Secara genetik, probabilitas miliki anak yg juga autoimun, pada anak perempuan 1:40, anak laki-laki 1:200.
  • Hadapi reaksi lingkungan yg negatif : kita tidak dapat mengontrol reaksi orang lain, namun kita dapat memperkuat diri, sebagai odamun harus paham terlebih dahulu sehingga dapat menjelaskan dengan bijak ke lingkungan di sekitar kita, jangan menarik diri, kalau perlu dapat minta bantuan advokasi dari support grup.
  • Terlewat minum obat, apakah dosis perlu digandakan : jika sudah terlewat tidak perlu digandakan, namun harus diupayakan minum obat sesuai dosis dan waktu yg ditentukan, untuk dapatkan hasil pengobatan yg optimal.
  • Hadapi anak penyandang autoimun : sebagai orang tua harus bersikap tegar dan bantu dengan membimbingnya untuk terus berdo’a mengingat Sang Maha Kuasa.
  • Gigi terasa ngilu setelah dibersihkan; apakah obat asma dapat sebabkan gigi rapuh; antibiotikan sebabkan gigi menjadi kuning : akar gigi yg tadinya tertutup oleh plak akan terbuka sehingga terasa ngilu, obat yg sifatnya asam dapat bereaksi terhadap kuman, selalu berkumur setelah hisap obatnya; antibiotika akan berpengaruh pada gigi pada saat dalam kandungan hingga usia 13 thn.
  • Apakah ada efek samping Lesikaf : extract physalis angulata yg sudah diteliti khasiatnya untuk peradangan dan fatigue, tidak ada efek samping seperti steroid. Jika ingin konsumsi dari tumbuhannya : dirajang, dikeringkan (bukan dijemur), direbus paling lama 5 menit. (HH)

Badan boleh sakit, jiwa tetap sehat…Never Give Up !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *