Action for life*

Alat Tulis utk Anak

Tidak ada kejadian dan peristiwa tanpa sebuah makna. Ketika sebuah hikmah tentang satu helai daun yang jatuh ke bumi. Terempas debu jalanan, terhancur oleh kelembaban, terkubur partikel alami. Tetapi lihatlah, kehidupan sesudahnya, ia memupuk tanah-tanah menjadi subur sebagai simbol keberlangsungan hidup tiada bertepi. Bahkan, saat impian berkelebatan di pikiran ini, satu persatu rasanya ingin dicurahkan, diceritakan dan dibayangkan. Kemudian  dicarikan jalan agar mendapat hasil yang nyata.

1) Sebuah Mesin untuk Menjahit Kehidupan

Siapa gerangan sang empunya waktu. Karena waktu yang tak bisa dihambat, ketika Tuhan mempertemukan SDF dengan Pak Agus di Kampung Cihonje, desa Wargaluyu,  Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung melalui sebuah acara televise, waktu itulah cahaya Sang Ilahi menyatukan arti pertemuan.Semuanya tak ada yang kebetulan dalam hidup ini.

Semua karena persiapan dan bukan sebuah hal instan. Maka saat sebuah mesin jahit dapat menjahit kehidupan yang lebih dari sekadar pakaian. Dikaruniai empat orang anak, dua diantaranya masih balita, membuat Pak Agus tak patah arang untuk menundukkan kemiskinan hidup. Berbekal keyakinan, Pak Agus mengisi waktu hidup ini tetap bekerja. Meski memiliki keterampilan menjahit, toh kemana keterampilan itu saat semua sudah tak bersisa.

Sang istri yang menderita kanker dan akhirnya wafat, menjadi saksi beratnya pengobatan untuk belahan hatinya. Pak Agus tetap mengedepankan sekolah anak-anaknya. Si sulung Gita terpaksa bekerja sebagai buruh cuci, walau sudah duduk di kelas 2 SMA. Gina, anak kedua  sering harus membantu mengangon bebek tetangga sambil tetap bersekolah di kelas 5 SD.SDF pun terpanggil mengikuti mata hati untuk membantu seorang Pak Agus yang kerap membawa serta kedua balitanya mencari nasi aking. Dengan berbekal semangat ingin berbuat sesuatu bagi kemanusiaan, digerakkan-Nya hati para donatur untuk berbagi kasih kepada Pak Agus sekeluarga.

Dan sebuah mesin jahit dan mesin obras pun hadir dalam keluarga pak Agus, bukan sekadar untuk menjadi mata pencaharian untuk menjahit kembali kehidupan Pak Agus dan keluarga yang sempat terkoyak.

image002

2) Rumah untuk Hera

Ada rasa yang terpendam di dalam hati ini. Rasa yang sangat lama ingin berbuat lebih banyak untuk berbagi. Rasa untuk beraksi lebih nyata demi suatu penghidupan.

SDF bukan tak mengenal Hera Fitria. Di usianya yang menginjak 28 tahun, dialah odapus yang tak kuasa menolak harus menjadi difable, meski sakit menjadi batu sandungan demi meraih kesuksesan hidupnya. Maka Hera lebih memilih ingin membuka warung, ingin tetap bergerak dan berdaya, dan bukan duduk diam sambil berkata, ”Aku tak bisa apa-apa, maka bantulah aku.” Hera hanya meminta dikuatkan tubuhnya agar tulangnya tetap mampu menopang semangat hidupnya. Sungguh, SDF melihat Hera yang tangguh walau kelainan darah dan radang sendi membuatnya menggunakan kursi roda dan korset besi ditubuhnya. Sosok perempuan ceria yang tak marah saat Tuhan mengharuskan dia menjalani operasi penglihatannya yang sempat terenggut kegelapan.

Hera memang piatu, bersama sang ayah yang tak pernah surut membulatkan tekad untuk merawat Hera. Kiranya mengurus Hera yang kerap keluar masuk rumah sakit dan harus menjalani serangkaian pengobatan demi mempertahankan hidupnya menjadikannya lilin kecil yang harus terus terjaga.  Hingga kondisi rumah terpaksa tak tersentuh, dan kloset jongkok yang berada di luar rumah pun memaksa Hera untuk buang air menggunakan pispot di tempat tidur. Sungguh kondisi ini mendatangkan perenungan betapa Tuhan telah memberi kekuatan Hera  yang masih bisa terus bertahan dalam keterhimpitan itu. “Ya Tuhan, inikah keajaiban hidup yang Kau tunjukkan kepada kami yang masih tegak kokoh berdiri sempurna?”

Hal itulah yang meneguhkan hati para sukarelawan yang kerap datang berkunjung ke rumah Hera di Desa Gandasari KEacamatan Katapang, Kabupaten Bandung. Sebuah niat baik dan mimpi untuk bisa merenovasi rumah Hera dapat diwujudkan. Berkat campur tangan-Nya, kepada Hera Fitria, sebuah tempat tinggal yang lebih layak sesuai dengan mobilitasnya. Setiap sudut usaha yang dilakukan ini seolah-olah mendukung jiwa mandiri dengan warung kecilnya. Di sana terselip senyum mencintai hidup, seperti SDF ingin terus tersenyum dan menyinari demi berbagi untuk sesama.

Ruang-Singgah

3) Ruang Singgah

Inilah sebuah perjalanan seorang sukarelawan. Perjalanan pada sebuah ruang singgah, yaitu tempat tinggal sementara bagi pasien tidak mampu di sebuah tempat di Kota Bandung. Desir hati yang tergemakan oleh semangat ingin berbuat tak mengikis kehangatan saat SDF berjumpa mereka. Di ruang singgah yang terkurung oleh pengapnya suasana hanya terlihat wajah penuh harap akan kesembuhan. Sebuah harapan dari usaha yang mereka jalani hingga nanti beranjak pulang meninggalkan ruang singgah.

Ruangan yang hanya berukuran 11 x 8 meter tersebut menjadi saksi para sukarelawan. Betapa rasa syukur tak tergantikan walau hanya diberi waktu untuk singgah dan diperbolehkan tinggal demi kesehatan. Itu pula yang menjadikan langkah kaki para sukarelawan SDF menjadi tersadarkan bahwa sarana, perlengkapan dan kebutuhan yang diperlukan hanya sebuah alat untuk meraih kerelaan sejati. Pun, saat ada sejengkal harapan dari tersedianya alat tidur yang layak, brankar, kursi roda, lemari buku, perlengkapan ibadah dan buku-buku yang dibawa sukarelawan. Harapan dan semangat yang tak pernah padam oleh arti memberi itu sendiri.