World Sight Day (WSD)*

WSD-2“Kesungguhan dan kerja keras  SDF bukan hanya bermanfaat bagi para penyandang lupus dan low vision, namun juga menginspirasi kita semua untuk selalu mensyukuri nikmat Tuhan dan turut  berbuat sesuatu untuk kemanusiaan. ” (Gusrizal Agoes Taib, Presiden Direktur PT. Donggi Senoro LNG)

Syahrul kecil  ingin jadi ‘ingsinyur kereta api’. Ada rel yang panjang menyusuri mimpinya. Syahrul tak takut kehilangan masa depan yang penuh liku-liku. Meski rel kereta api itu melewati jalan berbukit, bagi dia pemandangan itu tetap terlihat elok. Muhammad Syahrul Rasyidin (11) adalah bocah cilik dengan penglihatan yang kurang. Terserang mikrokornea sejak kecil tidak membuat dia ehilangan hari-hari ceria, sekali pun dia harus membawa teropong ke mana-mana. Penampilannya di talkshow World Sight Day  (WSD) 2013, menyulut haru hadirin.

Syahrul yang selalu aktif di semua kegiatan yang diikutinya, di sekolah maupun di lingkungan baru. Syahrul yang tak malu, Syahrul yang pemberani dan Syahrul yang mau memiliki mimpi dan bercita-cita. Karena di dalam gairah, semangat tersirat impian yang indah. Impian meraih harapan, dan impian untuk maju dan tak gentar dengan keterbatasan ini. Semangat memulai meski hanya sedikit yang dilihat, tetapi banyak yang ditangkap. Lovi tidak boleh menghentikan langkahku. Low vision, bright passion!

WSD 2012 juga mengungkap kisah Aqila Usman (6). Sebelah matanya mengalami infeksi dan harus menjalani transplantasi. Stok yang tersedia di Bank Mata Rumah Sakit Cicendo hanyalah berasal dari donor mata asing, itu pun sudah kadaluarsa. Namun, kuasa Tuhan yang memungkinkan penglihatannya dipertahankan dengan cara itu, sehingga mata kanan berbeda dari mata kirinya. Hidupnya menjadi berwarna warni kembali. Sang donor tentu telah meninggal dunia, namun memberikan kehidupan baru bagi mereka yang sangat membutuhkan penglihatan. Dia telah meninggalkan cinta tak berbalas, unconditional love, atau dalam bahasa Yunani, agape.

Seperti WLD, kita pun harus memperingati WSD. Evaluasi langkah terus menerus untuk meningkatkan kemulian para lovi dan totally blind.

Mungkin penglihatan berkurang, namun banyak potensi diri yang belum tergali diantaranya sangat perlu mengalihkan fungsi penglihatan ke pendengaran, penciuman, dan perabaan. Kala seseorang yang kehilangan penglihatan bergabung dalam kelompok, mereka dapat berbagi rasa, pengetahuan maupun pengalaman dengan sesamanya agar tumbuh rasa percaya diri. Saat seremoni ini hadir setiap tahun, yang kita harapkan adalah hati yang terbuka, bukan hati yang buta, sehingga sang gelap ini tak  mudah menghentikan langkah untuk hidup yang lebih berarti.

Hampir semua dari kita tidak mensyukuri nikmatnya penglihatan. Barulah setelah menyandang low vision kita menyesali itu. Karena itu, Hari Penglihatan Sedunia, seharusnya menjadi hari semua manusia, bukan hanya milik sahabat lovi. Pada hari itu SDF ingin mengingatkan agar mereka yang normal bisa berbagi dengan lovi, agar para perencana kota merancang kota yang bersahabat dengan para lovi dan totally blind, agar mereka yang normal memberi peran yang baik bagi mereka. Pokoknya, agar sikap EGP (emang gue pikirin), menjadi agape!

I see trees of green, red roses too
I see
them bloom, for me and for you
And I think to myself, what a wonderful world.

I see skies of blue, clouds of white
Bright blessed days, dark sacred nights
And I think to myself, what a wonderful world

(Louis Armstrong “What a Wonderful World”, didendangkan juga juga oleh Ray Charles, penyanyi tuna netra)

WSD-1

Sebuah kenyataan, bahwa ada banyak orang yang terganggu penglihatannya, dengan setiap lima detik ada seorang dewasa manjadi buta dan setiap menit seorang anak menjadi buta. Karena itu jangan pernah  menyia-nyiakan setiap jengkal nikmat penglihatan yang diberikan Tuhan. Dengan mata dan penglihatan yang masih ada yang diberikan Tuhan perlu terus dibangun rasa empati dengan membantu menumbuhkan kembali rasa percaya dan memberikan semangat dan motivasi kepada para sahabat low vision dan tuna netra untuk tetap melanjutkan hidup walaupun dengan keterbatasan fisik.

Para sahabat lovi dan yang buta total perlu mendapat perhatian. Hingga kini banyak yang belum menyadari tentang kondisi ini, padahal jumlah penyandangnya di seluruh dunia enam kali lebih banyak dari buta total, yaitu sekitar 245 juta orang. Perlu kerjasama berbagai pihak untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lovi dan para penyandangnya.

World Sight Day sebagai salah satu upaya global untuk meningkatkan kepedulian  tersebut juga mulai digelar oleh SDF sejak tahun 2007. Selain memfasilitasi para penyandang lovi dengan berbagai edukasi seputar low vision,  alat bantu juga diadakan sesi  motivasi.  Acara WSD juga dirangkai dengan konsultasi mata gratis dan art performance tematik.

“Ketika bertemu Dian yang menceritakan kiprahnya bagi penyandang lupus yang kebanyakan adalah wanita, saya langsung mendukung SDF. Hal ini sejalan dengan misi sosial Wardah  untuk pemberdayaan wanita. Semoga SDF terus berkembang dengan memasuki satu dasa warsa pengabdiannya”.  (Nurhayati Subakat, Founder Wardah)

Tanggal Tempat
8 Desember 2007 R. Serbaguna Santosa Bandung International Hospital
8 November 2008 Aula Bank Mandiri Cabang Surapati Bandung
17 Oktober 2009 Ruang Oftamologi Lt.2 RSM Cicendo
16 Oktober 2010 Ruang Serbaguna SDF
15 Oktober 2011 Aula Wing Timur lt.6 Gedung RS Pendidikan FK UNPAD
12 Oktober 2012 Grha Sanusi UNPAD
12 Oktober2013 Auditorium lt 2 Gedung pendidikan FKUP

(Info WSD 2007 – 2013)