DSP’s Weekend Notes – 09

Dia Menunggu : Ternyata Dia hanya akan beri petunjuk jika aku datang menghampiriNya. Bukan jika aku hanya sekedar kerjakan rutinitas dan tunaikan apa yang dirasakan sebagai kewajiban, tapi karena memang aku merasa butuh Dia….. Ingin dibantu dibukakan hatinya, ingin dibimbing, ingin bisa menjadi seperti yang Dia inginkan. Terhindar dari kegalauan, kelalaian dan kesia-siaan….. Life is too short to worry. Life is too precious to ignore…..

Sepasang mata itu : Aku terhenyak saat gadis kecil itu berada dekat sekali denganku dan aku dapat melihat siluet kedua matanya….. sepasang bola mata yang berbeda warnanya kiri & kanan….. mengapa? Karena saat sebelah matanya alami kerusakan akibat infeksi dan harus di transplantasi, stok yang tersedia di Bank Mata hanyalah yang berasal dari donor mata asing. Itupun sebenarnya sudah kadaluarsa namun kuasa Tuhan jualah yang memungkinkan penglihatan sang gadis dipertahankan dengan cara itu. Baru kali inilah aku melihat langsung penerima donor mata, sejak mengikhlaskan diri menjadi pendonor beberapa tahun yang lalu. Ada keharuan yang menyelinap di kalbu, saat kubayangkan meski sudah tiada nanti namun sepasang mata kita masih bisa bermanfaat bagi yang masih hidup, seperti gadis kecil itu. Menghantarkannya melihat dunia, menggapai mimpi dan meraih cita.

Puncak-Salju

Kutahu yang kumau : Sesaat sebelum Sir Edmund Hillary menjejakkan kaki di puncak Mount Everest, sang pemandu Sherpa Tenzing Norkay menyurutkan langkah dan mempersilahkan Sir Edmund Hillary untuk mentasbihkan dirinya sebagai orang pertama penakluk puncak gunung itu. Tenzing Norkay sendiri memilih menerapkan filosofi telor mata sapi (yang dimakan mah telor ayam, tapi yang dapat nama dan jadi beken : sapi). Begitu naif kelihatannya, tapi memang persepsi akan melahirkan peristiwa. Yang perlu direnungkan adalah : apakah benar istilah menaklukkan puncak gunung? Karena gunungnya sendiri tak meminta atau menantang. Sepertinya yang benar adalah bagaimana kita menaklukkan ego saat berada di puncak…. Justru sepatutnya semakin merunduk, berlutut dan bersujud mengakui kehebatan dan kebesaran Sang Pencipta….. Semua akan termaknai jika kita berhenti sejenak dan bersedia berpikir menggunakan akal dan kalbu yang menjadikan kita  makhlukNya yang paling sempurna…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *