DSP’s Weekend Notes – 11

 

copy-Logo-SDF-Small.jpg

Belajar dari George dan Michael untuk hidup bersama Lupus

Perkenalanku dengan dua pria berkebangsaan Inggris itu, terjadi saat mereka melakukan sesi foto yang merekam kegiatan para sahabat ODAPUS (Orang dengan Lupus) di Syamsi Dhuha Foundation (SDF). Sebut saja namanya George dan Michael. George yang pehobby photography sudah berkeliling dunia memotret berbagai objek yang berunsur humanis. Dia berkarakter agak keras dan terkesan sedikit arogan dengan aksen british-nya yang kental. Berlawanan dengan George, Michael adalah sosok yang lembut, hangat, ramah dan bisa berbahasa Indonesia karena sudah beberapa tahun tinggal di Indonesia dan menikah dengan wanita Indonesia. Yang unik, walau berbeda karakter kedua pria ini telah bersahabat lama dan persahabatan mereka tak pernah putus walau berpisah jarak dan waktu. Aku pun segera menyerap keunikan persahabatan mereka. Michael terlihat begitu sabar menghadapi George yang kerap merasa benar dan agak keras kepala. Situasi yang kurang menyenangkan seringkali di sikapi Michael dengan mengalah pada keinginan sahabatnya namun tetap selalu berusaha mengingatkannya dengan lembut….

Bagiku yang telah  hidup bersama Lupus selama 14 tahun terakhir ini persahabatan Michael dan George tadi memberiku inspirasi bagaimana harus menghadapi penyakit yang bernama lengkap Systemic Lupus Erythematosus (SLE) ini. Penyakit autoimun kronis yang banyak menyerang wanita aktif usia produktif 15-45 tahun. Kerap dijuluki penyakit seribu wajah karena gejalanya yang sering kali menyerupai penyakit lain dan mengecoh para dokter saat pertama kali harus mendiagnosa keberadaan penyakit  tersebut. Lupus dapat menyerang berbagai sistem dan organ dalam tubuh dengan skala ringan sampai berat bahkan dapat mengancam jiwa. Saat ini jumlah penyandangnya di seluruh dunia diperkirakan lebih dari 5 juta orang dengan pertambahan 100 ribu kasus baru pertahunnya.

Tak mudah memang hidup bersama dengan penyakit yang satu ini. Tapi bagiku banyak pelajaran hidup yang kudapat saat bisa melihatnya dari sudut pandang yang positif. Itu dimungkinkan jika kita sudah bisa melewati fase penolakan atau kekecewaan bahkan kemarahan atas sebuah kondisi yang tak diharapkan atau yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Untuk bisa menerima dan menjalani berbagai ketidaknyamanan yang timbul diperlukan kekuatan jiwa yang akan menopang kelemahan dan keterbatasan fisik akibat serangan penyakit  maupun efek samping dari terapi yang harus dijalankan. Kekuatan jiwa ini bisa diperoleh jika kita mau berfikir menggunakan akal dan kalbu sehingga bisa memaknai pesan yang Tuhan kirimkan melalui penyakit yang bernama Lupus yang hingga saat ini belum diketahui pasti penyebab dan obat yang benar benar bisa menyembuhkannya…

Pilihan terbaik untuk bisa hidup bersama Lupus adalah bersahabat dengannya seperti persahabatan Michael dan George. Tak ada gunanya bermusuhan karena akan menghabiskan waktu tenaga dan energi. Dengan memilih untuk bersikap bijak, tak meronta atas semua ketetapan Tuhan, kita akan bisa menjalani segalanya dengan lebih mudah. Bagiku Lupus tak hanya sekedar penyakit tapi juga mengajariku untuk sabar, ikhlas dan tawakal. Ketika Tuhan titipkan penyakit ini dalam tubuh kita, Dia hanya ingin melihat ikhtiar terbaik yang kita upayakan dan menyerahkan hasilnya pada pengaturan terbaik yang Dia berikan….

Happy World Lupus Day 2013 ! Never Give Up !

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *