Weekend Notes – 02

Malam

‘Me & the mouse’ : Tengah malam itu kuterbangun karena ingin ke kamar mandi. Suasana begitu hening, ketika kusempatkan mereguk air minum di ruang makan dan segera kembali ke ruang tidur. Saat kubungkukkan badan tuk kembali ke tempat tidur, aku kaget setengah mati saat kurasakan ada sesuatu yang merayap di punggungku. Sesuatu itu bergerak-gerak dan membuatku menjerit panik. Meski kuberusaha mengeluarkannya, namun sesuatu itu tetap menari-nari di punggungku. Membuatku kelabakan hingga tanpa sadar menarik kelambu sampai runtuh. Suamiku yang terbangun karena kehebohan itupun segera berusaha membantu untuk mengeluarkan sesuatu itu. Tak pernah kualami kondisi sepanik waktu itu, serasa berabad-abad sehingga akhirnya sesuatu itu lepas dan segera hilang dari pandangan. Aku terkulai lemas dan suamiku segera memeriksa kondisi tubuhku “syukurlah tak ada bekas gigitan atau yang lainnya”, tuturnya menenangkanku yang masih mengatur nafas yang memburu. Ya Allah, ternyata seekor tikus got rupanya menjadi tamu tak diundang malam itu dan membuat kegaduhan yang tak terbayangkan sebelumnya. Inilah pengalaman pertamaku bersentuhan fisik dengan seekor hewan yang terpersepsikan menjijikkan karena hidup di got dan tempat kotor lainnya.

Setelah kehilangan 95% penglihatan, beberapa kali memang aku nyaris bersentuhan dengan binatang yang dapat berbahaya seperti : kalajengking dan bunglon. Namun selama ini terselamatkan karena intuisiku yang berjalan disaat genting, untuk akhirnya tak jadi melangkah atau menyentuhnya. Malam itu sebenarnya aku dan sang tikus terjebak dalam situasi yang tak menguntungkan. Sang tikus yang salah masuk kamar, kaget melihatku, tak temukan jalan keluar dan akhirnya memanjat kakiku dan bertengger di punggung. Aku tentu saja tak siap dengan permainan itu, apalagi dengan temaramnya cahaya lampu dan keterbatasan penglihatan yang membuat semuanya lebih menakutkan. Selang beberapa hari setelah kejadian itu aku demam, adikku yang dokter sempat berpikir kemungkinan akibat insiden tikus yang kemudian ternyata karena Lupusku yang bergejolak. Dari kejadian itu kutersadarkan bahwa boleh jadi adegan yang terlihat lucu saat seseorang dilanda kepanikan, sebenarnya tak lucu bagi yang mengalami dan tak layak juga untuk ditertawakan, karena yang terasa setelah kejadian tersebut adalah rasa sakit akibat terjatuh atau terkilir karena gerakan refleks yang tak terkontrol. Pun image tikus lucu seperti Mickey Mouse atau Minnie Mouse yang berpita merah pun jauh sekali dari kenyataan saat bersentuhan langsung dengan tikus got atau mencit putih yang dulu sempat kutemui saat praktikum farmakologi di lab dengan aromanya yang tak terlupakan hingga kini.

Tak ada kejadian yang kebetulan. Tentu ada pesan Tuhan melalui kejadian malam itu. Yang pertama kumaknai adalah betapa mudahnya aku panik saat merasakan ada yang kotor secara fisik. Tapi bagaimana jika yang kotor itu adalah hati atau jiwaku? Tenang-tenang saja tuh dan tetap nyaman…. Kubiarkan hatiku terkotori dan tak merasa terganggu karenanya…. Kejadian menjelang Ramadhan itu seperti ajakan bagiku untuk membersihkan hati yang terkotori selama ini dengan amarah, riya, sombong dan iri. Tapi memang pesan Tuhan singkat saja, tak berlebihan. Sang tikus tak menggigitku yang bisa berakibat terjangkit penyakit Pes, karena Tuhan tahu kapasitasku hanya cukup untuk Lupus yang bergejolak. Seharusnya aku tak hanya mengenang aroma mencit putih yang tak sedap, tapi juga mengenang jasa sang mencit putih yang sering dikorbankan untuk kepentingan penelitian ilmu pengetahuan….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *