DSP’s Weekend Notes – 03

’Maafku, kebahagiaanku’ : Kita sangat mudah minta maaf pada orang yang jarang bertemu atau berinteraksi dengan kita…. Bahkan mungkin sebenarnya tak ada yang perlu dimaafkan. Tapi bagaimana dengan orang yang memang bermasalah dengan kita? Sudahkah kita mohon maaf kepadanya? Atas kekotoran hati kita yang menjelma menjadi perlakuan dan perkataan yang kasar, buruk atau menyakitkan hati. Bahkan kadang jika tak terucapkan pun, hati kita dipenuhi dengan ketidak-ikhlasan, kecemburuan dan iri hati. Seringkali justru sangat berat untuk minta maaf, karena kita tak merasa bersalah dan justru dialah yang bersalah. Lidah terasa kelu, sikap terasa kaku untuk mengakhiri kebekuan yang terjadi dan berani memulainya dengan sebuah permohonan maaf…. Anggaplah kita sudah mampu minta maaf….

Sand

Bagaimana pula dengan PR kita untuk memaafkan? Tuhan saja yang Maha Besar sering mengampuni dosa kita. Mengapa kita terlalu jumawa untuk memaafkan orang lain? (siape loe). Bahkan kita diajarkan untuk berbuat baik kepada orang yang mendzalimi kita…. Sepertinya memang tak masuk akal. Tapi jika direnungkan, terasa kebenarannya. Dengan memaafkan, balon amarah itu akan kempis, bongkahan dendam itu akan hancur, senyumku  pun terkembang lagi…. Tak ada lagi yang menyesakkan dada. Semua itu sebenarnya untuk aku sendiri. Untuk bersihkan hatiku dan lapangkan dadaku. Karena sebenarnya…. aku mampu melakukannya. Dengan kesadaran itu, memaafkan menjadi mudah. Karena mohon maaf dan memaafkan itu semuanya untukku. Untuk kebahagiaanku…. Kini dan nanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *