DSP’s Weekend Notes – 14

Egg

Kisah sekantung telur ayam kampung : Sekantung telur ayam kampung itu terikat safety belt di jok belakang mobil Reni J. Reni dan Kiko membelinya untuk menolong penjual yang menawarkannya kepada mereka. Tidak hanya 1 tapi 2 kantung. 1 kantung menjadi rezeki ku hari itu, saat mereka mengantarkanku pulang usai berbela sungkawa ke Utien. Ternyata telur ayam kampung memang lebih lezat dari telur ayam negri.Hal itu terbukti saat si mbok buatkan aku ceplok dengan gunakan daun pisang sebagai pengganti minyak, sebagai lauk  sahurku (maklum kolestrol tinggi dan tak kuasa tuk tidak makan merahnya yang high cholest) ehmm lezatnya ceplok berkerak itu, apalagi if masaknya pakai wajan tanah liat dan tungku kayu, tambah si mbok nyengir dengan gigi emasnya. Kelezatan telur ayam kampung terus berlanjut saat kubuat Risoles jamur, yang dipuji Uci – the Risol. Juga saat ku olah menjadi bolu tape yang yummy dan lembuut sebagai penganan buka puasa. Betapa berkah itu terasa karena kehadiran sang telur ayam kampung di rumahku berasal dari ketulusan hati sepasang sahabat untuk membantu sesama. Betapa kampung itu bukan berarti kampungan…. Betapa label kampung justru identik dengan kelezatan : ayam kampung, nasi goreng kampung kelezatan yang berasal dari…. Kealamian, kemurnian. Tanpa obat, tanpa pengawet. Kelezatan yang juga bersumber dari kebersyukuran dan cara pandang dari berbagai hal yang memang bersumber dari Sang Maha Pemurah dengan rezekinya yang berlimpah : hidupku, nafasku, detak jantungku….. Kelezatan itu  juga yang kurasakan saat mengunyah    hidangan jiwa, lepaskan dahaga batin atas kekeringan jiwa yang kerontang.  Oh … what a beautiful Ramadhan!

Terbataskah waktuku? Sudahkah kuprioritaskan yang Dia mau, bukan yang kumau? Apa yang akan  kutinggalkan dan kubawa jika aku mati? Dia wariskan kitab/ajaran itu kepada yang dikehendakiNya. 6236 ayat itu tertancap dalam kalbu Sang Hamba Panutan –pewaris surga- yang kemudian mewariskannya kepada umat yang sangat dicintainya. Inginkah aku bisa masuk barisan Sang Panutan? Jika ya, aku harus miliki banyak keyakinan seperti panutanku. Keyakinan Ilahiyah yang menjadi modal ketaatan dan lahirkan banyak amal shalih. Kubutuhkan itu sebagai bekalku pulang, sebelum waktuku habis….. (inspirasi dari sharing Waris)

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *