DSP’s Weekend Notes – 21

Love-1

LOVE IS BLIND

Saat beberapa waktu yang lalu media mengangkat kisah seorang pemuda yang jatuhkan pilihan hatinya kepada seorang gadis yang sejak lahir kebetulan Tuhan tetapkan tidak memiliki sepasang tangan, maka dengan cepat berita tersebut menjadi hot news di beberapa media. Betapa tidak? Bagaimana mungkin seorang pemuda yang berasal dari keluarga terpandang memutuskan untuk menikahi seorang gadis yang tidak lengkap anggota tubuhnya. Sementara orang lain terfokus pada kekurangan sang gadis, pemuda itu justru merasa menemukan kelebihan yang dimiliki gadis itu : kepribadiannya yang kuat dan kecantikannnya. Dia bisa menerima keadaan sang gadis yang harus mengerjakan apapun (termasuk makan) dengan menggunakan kedua kakinya.

Ditempat yang lain, hal yang serupa juga terjadi saat Fandi menetapkan pilihan hatinya kepada Priska yang seorang tunanetra. Saat orang lain sibuk mempertanyakan keputusannya untuk menikahi seorang gadis buta, Fandi justru menemukan banyak keindahan pada diri Priska. Mata lahir Priska memang tidak bisa melihat, namun mata hatinya sangat terbuka lebar dan mendorongnya untuk mengurus puluhan anak-anak yang terbuang dari keluarganya. Disaat orang lain tak peduli, justru Priska mengulurkan tangannya untuk merawat anak-anak tersebut. Kalau sudah begini siapakah yang sebenarnya buta?

Berbeda dengan dua kisah diatas, ada juga cinta yang justru membutakan mata hati. Ketika sebut saja Euis jatuh cinta kepada sebut saja Ujang yang memang tampan, maka Euis pun lantas mempertaruhkan apapun yang telah diperjuangkan dan dimilikinya selama ini demi meraih cinta Ujang. Apapun yang diminta Ujang, Euis lakukan tanpa syarat. Walaupun sebenarnya di awal pernikahan sudah terlihat tanda-tanda ketidakberesan Ujang, namun Euis terbutakan oleh rasa cintanya yang begitu meluap. Bahkan ketika harta Euis pun habis digunakan oleh Ujang dan digantikan dengan sejumlah hutang yang menjeratnya, Euis pun masih enggan melepaskan Ujang. Padahal reputasi Euis dipertaruhkan dan kredibilitasnya pun tergadaikan. Semua hanya untuk membeli cinta Ujang yang palsu. Jika sudah demikian dan gagal melihat kebenaran, tentu keberkahan Tuhan pun menjauh. Saat Tuhan digantikan oleh sesuatu yang mendominasi hati, CahayaNya terhalang oleh sesuatu yang sebenarnya tak setara namun menjadi tandinganNya….

Pun jika kita teringat cerita klasik Malin Kundang, kisah tentang seorang anak yang durhaka kepada Ibunya. Maka kitapun akan bisa membaca pesan Tuhan yang tersirat di balik cerita itu. Betapa Tuhan telah membuat aturan main yang ingin kita mentaatiNya. Dia ingin kita berbuat baik kepada kedua orang tua, tidak mengabaikan mereka dan tidak menggantikan cinta tulus seorang Ibu dengan cinta siapapun dan apapun itu. Tuhan pun pahamkan kita bahwa kita tak boleh berbicara keras dan berlaku kasar pada orang tua, apapun alasannya. Jika aturan main Tuhan dilanggar, hakikatnya kita bukan durhaka kepada orang tua,tetapi durhaka kepada Tuhan…..

Dari kisah-kisah diatas, betapa terasa kebenaranNya, bahwa memang mata hati kitalah yang akan menentukan kualitas diri ini. Mata hatilah yang akan menjadi nakhoda baik buruknya kita. Selamat atau celakakah kita. Seorang yang buta mungkin akan sering tersandung dan kebingungan ketika harus menemukan jalan, sering terjatuh dan terbentur saat berusaha melakukan sesuatu. Namun jika mata hatinya dapat melihat cahaya Ilahi, dia tidak akan tersesat dan akan selamat tiba di tempat tujuan akhir dengan bimbinganNya…..

Buta mata bukan buta hati, hati yang selamat inilah yang harus diperjuangkan untuk terus di proses agar selalu selaras dengan semua kehendakNya. Bisa menjadi seperti yang Tuhan inginkan…..

Let’s light up the world with the ray of our heart

Happy World Sight Day, 9 October 2014,

DSP

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *