DSP’s Weekend Notes – 22

 

WN-22---Dedet+DS

SAHABATKU DEDET

Dedet adalah telaga. Tenang, sejuk dan bening.  Sejak kali pertama ku mengenalnya, bahkan hingga ke akhir hayatnya, dia tetap begitu. Kami dipertemukan oleh kesamaan garis nasib. Dedet dan aku sama-sama menyandang Lupus. Dokter yang merawat kami sama dan rumah sakit tempat kami berobat pun sama. Tak mudah hadapi penyakit seribu wajah ini, aku dengan gejolak, sedang Dedet dengan lempeng.com. Kami sama-sama mengalami serangan di darah dan sendi. Bedanya bonus Dedet adalah saraf, sedang aku disibukkan dengan berbagai efek samping terapi dan komplikasi penyakit. Aku tak dapat melihat tapi cerewet, sedang dia bisa melihat apa saja namun senyap. Ketenangan itu yang terbawa hingga akhir perjuangannya. Tenang bagi seorang Dedet bukan berarti diam tak berusaha. Perjuangannya konsisten dan semangatnya tak surut. 1 hal yang membuatku lemas adalah saat kali pertama tersampaikan bahwa selain Lupus, Dedet pun diuji dengan brain tumor….. Betapa hal itu tak terbayangkan sebelumnya. Saat aku lolos dari serangan brain abcess, kusemangati pula Dedet saat stroke sempat mampir kepadanya dan sempat pula alami perdarahan otak. Walaupun demikian, setiap tahun dia tak pernah absen mengirimiku kue ulang tahun, hal yang tak pernah kulakukan kepadanya…. Ah Dedet. Berkali-kali kami lolos dari lubang jarum. Tapi bagi Dedet, tidak pada ujian terakhirnya kali ini. Itupun sungguh luar biasa, bahwa dia bisa bertahan dengan kondisi brain tumor stage 3 dan seterusnya. Mulai dari kami masih bisa berkomunikasi, hingga tak bisa lagi…. Sungguh dia pejuang sejati dan bertarung hingga akhir. Kekuatan yang juga datang dari cinta sejati seorang Hari dan kasih Dedet kepada putra tunggalnya Kenny. Merekalah matahari Dedet.

Hari ini, Kamis 9 Oktober, Dedet dikebumikan. Telaga itu secara fisik tak lagi berdampingan denganku untuk berjuang bersama. Namun ketenangan dan ketabahannya akan selalu menyemangatiku untuk terus melanjutkan perjuangan ini. Mencoba meniti jalan takdir yang sudah ditetapkanNya, berikhtiar semampunya dan kemudian menyerahkan hasilnya pada pengaturan terbaik Sang Maha Pintar….               

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *