DSP’s Weekend Notes – 23

 

WN-23---Prof.FaridaProf. Farida Sirlan dalam Kenangan

Pesan singkat pagi itu mengejutkanku, dr. Bambang dari RSM Cicendo kabarkan bahwa Prof. Farida telah tiada….. Sungguh yang berasal dariNya akan kembali pula kepadaNya.

Prof Farida adalah sosok yang menyenangkan. Kali pertama aku mengenalnya adalah saat beliau menjabat sebagai Direktur Utama RSM Cicendo – Bandung. Beliau adalah figur yang bersungguh-sungguh dalam bekerja, mencintai profesi dan berdedikasi pada pekerjaannya. Beliau selalu mengapresiasi setiap ikhtiar yang diupayakan SDF dan rajin membaca email yang kukirimkan secara berkala kepadanya. Selalu ada respon, komentar, masukan dan apapun itu yang menyemangati dan membesarkan hatiku.

Masih segar dalam ingatanku, saat kubuat tulisan ’When the sight is gone’, beliau pun menanggapinya dengan memintaku menyerahkan tulisan itu ke WHO representative yang kala itu berkunjung ke RSM Cicendo. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Ah! Betapa perhatian terhadap hal-hal kecil seperti itu akan sangat berarti bagi setiap orang, terutama yang sedang berjuang untuk bangkit lagi setelah jatuh dan berjuang untuk membangun ketabahan dan kepercayaan dirinya. Sepertinya perhatian seperti itu terus beliau bagikan kepada lingkungan dimana beliau berada dan bekerja. Masih kuingat pula, beliau kerap membeli buku/CD karya SDF untuk dibagikan kepada orang-orang terdekatnya. Beliau juga rajin bergabung dalam acara World Sight Day yang digelar SDF hampir setiap tahun. Ada kalanya beliau berperan sebagai narasumber atau sekedar hanya menjadi peserta acara yang berikan semangat. Komunikasi yang terjalin juga terasa lancar dan tidak membuat jarak, walaupun beliau adalah seorang pejabat.

WN-23---Talk-show-WSD

Saat di usia jelang pensiun dan beliau bisa dikukuhkan sebagai guru besar di Unpad Bandung, beliau terlihat sangat bahagia. Undangan untuk hadiri acara pengukuhan guru besarnya pun dilayangkan kepadaku dan orang tuaku. Kamipun bersyukur bisa menghadiri acara yang membahagiakannya tersebut.

Siapa nyana, pertemuanku dengan beliau tahun lalu, tepatnya di World Sight Day 12 Oktober 2013 adalah pertemuan kami yang terakhir. Karena setelah itu aku tak pernah lagi berjumpa dengannya. Hanya bertemu di dunia maya seperti biasa, lewat email. Sama sekali tak kuketahui bahwa kondisi fisik beliau menurun, karena sama sekali tak ada cerita dan berita tentang itu. Hingga akhirnya datanglah kabar itu….. Ternyata selama ini beliau sakit, beberapa kali dirawat di RS juga dan sampai akhirnya hari terakhir itu tiba.

Kubersimpuh di depan jasadnya yang membeku. Dengan tulus kupanjatkan doa kepada Sang Maha Kasih tuk mengampuni segala kesalahannya, melapangkan jalan kuburnya dan meneranginya dengan kiriman doa dari orang-orang yang menyayanginya. Kudirikan pula shalat siang hari itu tuk hantarkan kepergiannya. Semoga amal salih yang dikerjakan beliau semasa hidupnya dapat menemaninya di barzah.

Terima kasih Prof. Farida, tuk segenap perhatian dan kasih sayang yang tercurah selama ini. Kuingat engkau pernah bilang bahwa ayahku adalah juga gurumu dan ternyata waktu menghantarkan kita juga untuk bertemu dan berinteraksi. Kemarin kaulah yang menjadi guruku. Kau ajarkan kepadaku arti sebuah kesungguhan, totalitas dan kecintaan pada profesi. Selamat jalan guruku….. (DSP)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *