DSP's Weekend Notes #24 - Lelaki Boleh Menangis

Man-Tears

Lelaki boleh menangis

Pekan ini ku lepas kepergian seorang sahabat Odapus pria di SDF…… Setelah cukup lama dirawat di RS dengan berbagai ikhtiar, akhirnya ketetapan Tuhan jualah yang berbicara. Detik-detik menegangkan dan melelahkan itu pun berlalu. Menyisakan ganjaran sabar, ikhlas dan tawakal bagi orang-orang terdekat yang setia merawatnya. Pria sebagai kaum minoritas itu jumlahnya semakin mengerucut. Memang secara umum rasio jumlah Odapus wanita dibanding pria adalah 9:1. Walau jumlahnya lebih sedikit dari wanita, namun kerap kali si Luppy yang nakal ini bermanifestasi lebih berat di pria.

Sahabat Odapus yang baru saja berpulang ini pun harus rela menjalani cuci darah rutin karena lupus menyerang ginjalnya. Tak hanya itu, darahnya pun berkelainan dengan rendahnya jumlah sel darah merah yang ada dalam tubuhnya. Belum lagi rasa ngilu di persendian yang kerap menderanya. Itu sajakah ketidaknyamanan yang harus dirasakan? Tidak. Karena efek samping dari terapi yang dijalankannya pun menyisakan berbagai cobaan seperti rasa gatal dan sesak nafas. Belum lagi sariawan yang hilang timbul. Inilah serangkaian ujian ketidaknyamanan fisik yang memprovokasi timbulnya ketaknyamanan psikis: marah dan sedih yang berkepanjangan bahkan frustasi. Namun hal ini menjadi lingkaran tak berujung, karena psikis dan fisik saling mempengaruhi.

Hanya itukah beban yang harus ditanggung sahabat Odapus pria tadi? Lagi-lagi tidak. Sebagai kepala keluarga, sang Odapus pun harus bekerja mencari nafkah bagi keluarganya. Disatu sisi, dengan sibuk bekerja si Luppy terlupakan dan sang Odapus pun bisa mengaktualisasikan dirinya. Namun disisi lain, karena berada di lingkungan orang sehat yang bekerja secara profesional, ketika si Luppy berulah atau efek samping terapi menyeruak, menjadi beban psikologis tersendiri bagi sang Odapus saat terpaksa harus sering minta izin untuk tak masuk kantor. Situasi menjadi tak kondusif dan tak nyaman bagi dirinya maupun orang-orang terdekatnya. Menjadi ujian kesabaran bagi yang sakit maupun bagi yang merawatnya.

Dengan situasi demikian, bolehkah lelaki menangis? Sebagai makhluk yang dipersepsikan kuat, yang sedari kecil dididik dan dikondisikan untuk tidak terlihat lemah dan cengeng ini, mungkinkah ia bisa menerima  kenyataan bahwa fisiknya terlemahkan, tak nyaman dan kondisinya tak ideal ? Jawabannya : sangat mungkin. Syaratnya : Menyadari bahwa jiwa dan raga adalah dua komponen yang terpisah. Jika raganya sakit, jiwanya tak perlu ikut sakit.

Menyadari bahwa meski yang diuji adalah raganya dengan berbagai ketidaknyamanan fisik, namun   hakikatnya yang sebenarnya diuji adalah jiwanya : Mampukah bersabar? Bisakah berserah diri? Maukah diatur oleh Sang Maha Pengatur?. Menyadari bahwa sakit adalah jalan yang diberikan oleh Sang Maha Kasih untuk menggugurkan dosa-dosanya. Menyadari bahwa raga ini bukanlah segala-galanya, hanyalah sekedar casing yang tak abadi. Tak sakit pun raga ini akan tergerus oleh perjalanan waktu. Namun sang jiwa inilah yang akan terus hidup dan karena itu harus dijaga untuk tetap sehat dan bersih. Badan boleh  sakit jiwa tetap sehat…..

Menangis merupakan cara yang disediakan Sang Pencipta agar kita bisa menyalurkan kesedihan dan rasa sakit. Bahkan tangis pun bisa hadir sebagai ekspresi kebahagiaan. Karena itu tak ada yang salah dengan tangis itu sendiri. Dengan menangis rongga dada yang terasa sesak bisa lapang kembali, rasa sakit bisa terekspresikan dan tidak tertahan. Yang jauh lebih penting untuk dibangun adalah persepsi yang benar agar dapat melahirkan sikap yang benar pula sesuai dengan kehendak-Nya …… (DSP)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *