Pelatihan bagi para Guru sambut Hari Penglihatan Sedunia

Pelatihan-Guru

Siaran Pers : Bandung, 2 Oktober 2013

Pelatihan bagi para Guru sambut Hari Penglihatan Sedunia

Syamsi Dhuha Foundation (SDF), LSM nirlaba yang peduli kepada penyandang Low Vision (lovi), bekerjasama dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat, hari ini gelar acara Edukasi Deteksi Dini dan Penanganan Low vision bagi lebih dari 100 guru SD & TK seJabar. Acara yang dilaksanakan di Aula Disdik Jabar lantai 4 ini merupakan rangkaian kegiatan Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day-WSD) 2013 yang jatuh pada Kamis kedua di bulan Oktober. Acara yang akan diikuti oleh perwakilan guru SD dan TK dari berbagai kota dan kabupaten di Jabar seperti Tasikmalaya, Garut, Subang, Sumedang, Karawang dan Cianjur ini akan dibuka oleh Kadisdik Jabar, Prof. Dr. Moh. Wahyudin Zarkasyi, CPA.

“Kami akan selalu mendukung setiap usaha yang dilakukan oleh LSM nirlaba seperti SDF yang secara konsisten menyelenggarakan edukasi dan sosialisasi Lovi baik bagi awam maupun para guru. Hal ini juga sesuai dengan program Disdik yang sedang mengembangkan program sekolah Inklusi, yaitu sekolah yang terbuka bagi siapa saja termasuk anak berkebutuhan khusus. Dari edukasi ini diharapkan para guru SD dan TK dapat lebih paham dalam deteksi dini anak-anak yang Lovi juga penanganan serta rujukan yang tepat”, demikian Prof. Zarkasyi.

Selain pelatihan, acara ini juga diwarnai oleh display alat bantu Lovi, pameran foto kegiatan Care for Low vision SDF, empathy game,sharing session dengan penyandang Lovi anak dan peragaan Tumbling E diiringi lagu Mataku Sehat karya dr. Andika SpM, yang nantinya akan dibagikan kepada seluruh peserta. “Melalui divisi Care for Low Vision, SDF akan terus kembangkan kegiatan peduli Lovi, terutama untuk memotivasi dan meningkatkan kualitas hidup para penyandangnya. Berbagai pelatihan yang bersifat produktif telah difasilitasi SDF seperti : Pelatihan dan sertifikasi pijat Shiatsu dan pijat Aroma Terapi, pelatihancomputer for the blind yang dirangkai dengan writing skill class hingga pembuatan audiobook Skenario Indah dari Tuhan. Selain itu juga telah dilaksanakan pelatihan wirausaha berkebun, pelatihan kue kering bagi para pendamping lovi, yang dirangkai dengan selling skill dan journalism training“, papar Dian Syarief, penyandang Lovi dan Ketua SDF. “Indra penglihatan erat hubungannya dengan kualitas hidup manusia namun gangguan penglihatan bukanlah akhir dari segalanya, karena banyak penyandang lovi dan TB yang dapat berkarya dan mengukir prestasi” tambah Dian lagi.

“Semakin dini diketahui dan diperiksakan penyandang lovi dapat cepat menemukan alat bantu yang sesuai dan beradapatasi dengan maksimal. Itu sebabnya para guru SD dan TK diharapkan dapat jeli dan peduli dalam mengenali tanda-tanda dan gejala kelainan penglihatan pada murid-muridnya dan mengetahui penatalaksanaan selanjutnya demi masa depan yang lebih baik bagi para penyandang lovi” ujar dr.Shiane Hanako, manager SDF tentang tujuan acara ini.

Adapun materi pelatihan terdiri dari :

  1. Kelainan Mata pada Anak oleh dr. Mayasari, SpM
  2. Apa dan Bagaimana Low Vision oleh dr. Ine Renata Musa, SpM
  3. Rehabilitasi pada Low Vision oleh Bapak Asep Budiawan, M.Pd, Widyaiswara Disdik Jabar

Dari materi dr. Mayasari, SpM dapat disarikan bahwa “Di seluruh dunia terdapat 284 juta orang, alami gangguan penglihatan. Sedangkan angka kebutaan di Indonesia  termasuk paling tinggi di dunia, nomor dua setelah Ethiopia. Padahal sebetulnya 80% dari kebutaan itu dapat dicegah asalkan masyarakat mengerti mengenai pengenalan dan deteksi dini gangguan mata. Terdapat empat masalah mata yang menjadi prioritas karena menyebabkan kebutaan yakni katarak, kelainan refraksi, glaukoma, dan xeroftalmia, yang sebetulnya dapat dicegah atau diperlambat jika ditangani dengan sesegera mungkin.Kebutaan karena katarak, misalnya, dapat diatasi dengan operasi katarak. Begitu juga xeroftalmia yakni penyakit akibat kekurangan vitamin A yang dapat dicegah dengan pemenuhan kebutuhan vitamin A dan koreksi penglihatan pada kelainan refraksi dengan menggunakan kaca mata. Sedangkan, pada glaukoma, penanganan yang terlambat dapat mengakibatkan kebutaan permanen atau tidak dapat lagi dikoreksi’ papar dr. Maya lebih lanjut.

“Lovi adalah gangguan penglihatan dan lapang pandang menetap setelah melalui tindakan pengobatan dan atau operasi yang maksimal. Terapi yang diberikan bukan untuk upaya penyembuhan namun berupa tindakan rehabilitasi untuk memaksimalkan penglihatan yang ada sehingga menjadikan hidup percaya diri, mandiri, dan lebih bermakna. Untuk itu evaluasi bagi lovi diperlukan guna menentukan alat bantu yang dibutuhkan, berupa alat bantu optik (seperti kaca pembesar, teropong, CCTV) maupun non optik (buku berhuruf besar, buku tulis bergaris tebal, buku yang bersuara)”, jelas dr.Ine. “Perlu edukasi dan sosialisasi deteksi dini kelainan penglihatan terutama pada anak. Diantaranya adalah: membaca dengan jarak yang sangat dekat, menonton televisi jarak dekat, kesulitan mengenali wajah, kesulitan mengenali makanan di piring, sering tersandung bila berjalan, kesulitan menaiki tangga, dan kesulitan dalam melakukan akitivitas sehari-hari”, tambah dr.Ine pula.

Sementara itu Asep Budiawan MPd mengatakan : “Murid usia sekolah dasar penyandang low vision tidak harus di sekolahkan di SLB. Kerjasama yang baik antara guru, orang tua, dokter spesialis mata dan rehabilitasi professional low vision sangat dibutuhkan untuk menciptakan suasana belajar yang lovi friendly.  Pencahayaan, warna, kontras, jarak dan posisi yang tepat dibutuhkan oleh penyandang Lovi, selain itu juga pelatihan orientasi dan mobilitas, stimulasi dini, dan pelatihan untuk melakukan kegiatan sehari-hari agar penyandangnya dapat mandiri dalam melakukan aktivitas tersebut dan dapat turut berperan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan sebatas kemampuan mereka”.

Adapun puncak peringatan WSD 2013 akan digelar pada Sabtu, 12 Oktober 2013 di Auditorium Rumah Sakit Pendidikan UNPAD lt 2, Bandung.  SDF bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran UNPAD akan sajikan rangkaian acara berupa konsultasi mata gratis komprehensif dengan para dokter spesialis mata, konsultan IT, profesional rehabilitasi lovi dan psikolog. Selain itu talkshow bertajuk ‘Low visión, bright passion’ yang  menghadirkan pula bintang tamu Marshanda dan penampilan Fiersa (finalis Mamamia) serta Joan Bagas (finalis AFI Junior) dengan lagu-lagu tematik yang memberikan motivasi bagi para penyandang lovi dan keluarganya.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *