Tunanetra Bisa Mandiri Berwirausaha

Tunanetra-Bisa-Mandiri-Berw

Siaran Pers : Bandung, 11 Oktober 2014

Tunanetra Bisa Mandiri Berwirausaha

Hal itu terungkap melalui talk show bertajuk ‘Mandiri Berwirausaha’ pada puncak peringatan Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day – WSD) 2014 yang digelar oleh Syamsi Dhuha Foundation (SDF) – LSM nirlaba peduli Low vision (Lovi) dan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK UNPAD) hari ini, Sabtu 11 Oktober mulai jam 7 pagi di Auditorium RS Pendidikan UNPAD. Adalah Fitri Nugrahaningrum – penyandang Totally Blind (TB) dari Lombok dan Tantan Nurjaman – TB dari Cimahi, yang berikan testimoni dan bagikan pengalaman untuk bisa berwirausaha dan menjadikan mereka mandiri secara finansial. Tak hanya itu, menyadari bahwa kemandirian merupakan hal penting yang harus diupayakan sejak kecil, Juni 2014 yang lalu SDF fasilitasi pelatihan komputer bagi anak-anak penyandang Lovi dari berbagai daerah dan pelatihan keterampilan menjual bagi tunanetra pada September 2014 yang lalu. “Saat ini SDF sendiri sedang berupaya untuk bisa berproses dari LSM nirlaba menjadi social enterprise untuk bisa menjamin keberlangsungan lembaga dan tingkatkan kebermanfaatannya bagi masyarakat. Keterbatasan penglihatan tak harus batasi jiwa penyandangnya dan mereka akan tetap bisa produktif serta berdaya”, ungkap Dian Syarief – Lovi yang juga Ketua SDF.

Sementara itu, Dr. dr. Bambang Setiohadji, SpM(K), MHKes., – ahli mata dari PMN RSM Cicendo menjelaskan :  “Tahun 2014 adalah awal pencanangan Global Action Plan (GAP) 2014-2019 yaitu gerakan Pencegahan Kebutaan dan Gangguan Penglihatan yang Bisa Dicegah oleh The International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB), organisasi internasional yang aktif mendorong berbagai kegiatan pencegahan kebutaan termasuk penyelenggaraan WSD secara global. GAP ini sudah disetujui oleh negara-negara anggota WHO untuk meningkatkan kesehatan mata bagi siapa saja (Universal Eye Health). Di seluruh dunia ada 285 juta orang yang mengalami gangguan penglihatan, 90% diantaranya tinggal di negara-negara berkembang. Sebenarnya 4 dari 5 kasus tersebut dapat dicegah. Target GAP menurunkan 25% tingkat kebutaan dan gangguan penglihatan yang bisa dihindari pada tahun 2019, dengan melakukan pengumpulan data dari kasus-kasus yang sebelumnya, menambah pelatihan bagi tenaga medis terkait serta menyediakan pelayanan kesehatan mata terpadu yang mudah dijangkau masyarakat. Kebutaan yang dapat dihindari didefinisikan sebagai kebutaan yang seharusnya dapat diobati atau dicegah dengan cara yang sudah diketahui dan biaya yang terjangkau. Terdapat empat masalah mata yang menjadi prioritas karena menyebabkan Lovi hingga TB yakni : katarak, kelainan refraksi, glaukoma dan xeroftalmia yang sebetulnyadapat dicegah atau diperlambat jika ditangani dengan sesegera mungkin”.

Senada dengan Bambang, Dekan FK UNPAD – Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad, dr., menambahkan : “Angka kebutaan di Indonesia termasuk paling tinggi di dunia, nomor dua setelah Ethiopia. Padahal sebetulnya 80% dari kebutaan itu dapat dicegah asalkan masyarakat mengerti mengenai pengenalan dan deteksi dini gangguan mata. Merupakan tugas dari seluruh pihak terkait baik dari masyarakat awam, tenaga medis, pemerintah pusat maupun daerah untuk tingkatkan kepedulian, penjaringan kasus, sampai kepada penanganan medis kebutaan. Selain itu kita juga harus dorong tingkatkan produktivitas dan kemandirian Lovi melalui kerjasama yang terpadu antara pemerintah dan elemen yang ada di masyarakat dengan libatkan dunia usaha”, saat membuka puncak peringatan WSD 2014 yang juga diwarnai dengan konsultasi mata komprehensifbersama para dokter spesialis mata, psikolog, konsultan Informasi Teknologi (IT) dan profesional rehabilitasi Lovi. Acara dimeriahkan pula dengan empathy games, dimana pengunjung awas akan diajak untuk menggunakan blind fold (penutup mata) dan aneka kacamata simulasi Lovi beserta tongkat putih agar dapat rasakan bagaimana menjadi seorang tunanetra.Games ini merupakan salah satu agenda acara dari IAPB. Juga persembahan lagu-lagu tematik oleh Joan Bagas (Lovi yangfinalis AFI Junior), Fiersa (TB yang finalis Mamamia) serta The LuLo dari SDF yang personilnya terdiri dari penyandang Lovi dan Lupus. Acara akan diikuti perwakilan penyandang disabilitas netra, komunitas dan institusi pendukung penyandang disabilitas netra dari berbagai kota.

“Lovi menjadi perhatian kami karena hingga kini banyak yang belum menyadari tentang kondisi ini, padahal jumlah penyandangnya di seluruh dunia 6x lebih banyak dari TB, yaitu sekitar 245 juta orang. Yang perlu dilakukan adalah memfasilitasi Lovi dengan alat bantu dan pelatihan kemandirian yang bersifat produktif, termasuk diantaranya : pelatihan komputer karena dunia tidak memberi toleransi terhadap perkembangan zaman yang begitu cepat, sehingga Lovi pun harus memiliki keahlian yang sama dengan yang berpenglihatan 100%; keterampilan menjual dimana dari pengalaman para Lovi yang berwirausaha, diketahui bahwa kunci keberhasilan mereka adalah persiapan diri, selalu mau belajar, tidak mudah menyerah, selalu berpikir positif dan memaksimalkan ikhtiar”, papar Manajer SDF – Laila Panchasari. Selain itu SDF ajak masyarakat luangkan waktu untuk menjadi reader (pembaca) bagi para Lovi/TB di lingkungan terdekatnya dengan membacakan apa saja yang bermanfaat bagi mereka. Hal sederhana lainnya yang juga bisa dilakukan adalah dengan membantu Lovi/TB saat mereka kesulitan untuk bisa mengenali tanda-tanda yang berada di tempat umum; membantu menunjukkan arah untuk dapat menemukan tempat yang dituju; membantu naik/turun tangga dan lift; membantu menyebrangi jalan, dll. SDF juga berupaya menjadikan basecamp-nya untuk bisa menjadi lingkungan yang Lovi’s friendly. “Temukan kebahagiaan saat anda menjadi mata bagi sahabat lainnya. Mari kita syukuri penglihatan yang Dia berikan, semoga kita bisa terus merasakan dan menyerap cahaya Ilahi yang akan membukakan mata hati kita dan terus berpendar di lubuk sanubari terdalam”, tambah Laila.

Fitri Nugrahaningrum yang pernah menerima penghargaan Tupperware She Can dan Kick Andy Hero, mengalami Sindroma Steven Johnson (reaksi alergi sistemik terhadap obat atau virus tertentu yang serang selaput lendir sebabkan komplikasi berupa radang kornea dan menyerang bola mata) pada saat kelas V SD yang berangsur-angsur merenggut penglihatannya di bangku SMA. Namun Fitri berhasil menyelesaikan pendidikan S-2 Program Pengembangan Masyarakat di Universitas Sebelas Maret, Solo. Keinginan untuk membantu sesama diwujudkan dengan mendirikan pendidikan di luar sekolah tanpa dipungut bayaran. Untuk membiayainya, Fitri merintis usaha konveksi, percetakan, bimbingan belajar. Sedangkan Tantan Nurjaman yang alami penurunan penglihatan secara berangsur-angsur karena kecelakaan sejak usia 15 tahun hingga menjadi TB di usia 25 tahun. Hal ini tidak surutkan semangatnya untuk memiliki usaha sendiri sebagai kontraktor dan pemilik bengkel yang semakin berkembang setelah pensiun sebagai guru SLB A Citeureup, Kab. Bandung. Tantan juga aktif menjadi pengurus asrama Wyata Mandiri SLB Citeureup yang bertanggung jawab untuk mendanai keperluan 50 penghuni asramanya.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *