MENJADI LILIN DAN JEMBATAN

Candle

Namanya Ali Sadikin. Sosok siapa yang kamu bayangkan? Bukan, sepertinya bukan Ali Sadikin yang itu. Bukan Ali Sadikin yang pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ali Sadikin yang ini menjabat sebagai Ketua Harian Kick Andy Foundation. Mas Ali bergurau dengan menyebutkan bahwa sebetulnya ia memang seorang gubernur, tapi presidennya adalah Bang Andy F. Noya. Mas Ali ini sosok paling berpengaruh, yang saya tau, di Kick Andy Foundation. Kick Andy Foundation sendiri adalah sebuah yayasan yang menampung dan menyalurkan dana sumbangan pemirsa acara Kick Andy. Kick Andy Foundation menjadi jembatan kebaikan, menghubungkan antara orang-orang yang membutuhkan dengan pihak-pihak yang terketuk hatinya untuk membantu.

Namanya dr. Bambang Setiohadji. Dokter spesialis mata dari Pusat Mata Nasional Cicendo yang selalu jadi langganan Syamsi Dhuha Foundation sebagai konsultan gratis di setiap event World Sight Day dan World Lupus Day. Posturnya kecil, tapi luar biasa cekatan. Talk less do more. Yang saya tahu, beliau banyak membantu proses operasi katarak di daerah-daerah pelosok Indonesia. Lewat tangan beliau, tentunya atas izin Allah, banyak orang yang mendapat kesempatan kedua untuk melihat dunia. Lewat tangan dingin beliau pulalah, Hera, sahabat Odapus cilik kami, bisa melihat kembali. Profesi dokter cuma jadi hobi, pekerjaannya sehari-hari adalah bakti sosial.

Kedua sosok inspiratif ini jadi tamu istimewa di Syamsi Dhuha Foundation hari Sabtu, 20 Oktober 2012 lalu. Mereka berdua punya banyak kesamaan. Sama-sama rendah dan lembut hati, senang bergurau, tapi tulus membantu sesama. Sama-sama bingung ketika ditanya apa yang mereka kerjakan selama ini. Seperti pura-pura tak tahu, padahal mereka pekerja keras yang luar biasa. Di sharing session sabtu lalu, mereka berbagi cerita tentang kehidupannya selama ini, apa yang sudah mereka lakukan, mengapa mereka mau melakukannya, serta bagaimana mereka menjadi jembatan kebaikan untuk orang banyak.

Saya mendapat sesuatu hari itu, ternyata orang baik dan tulus di dunia masih banyak!

Orang-orang seperti beliau ini, tak ragu pergi ke pulau-pulau terluar Indonesia, naik speedboat ataupun sepit, dijemput naik mobil jenazah, masuk-keluar kampung mencari orang yang katarak, membantu proses operasi meskipun dengan peralatan seadanya, juga bersenda gurau dengan orang-orang tak punya. Mereka bekerja keras untuk membantu orang lain. Luar biasa!

Mas Ali dengan Kick Andy Foundation-nya bahkan punya banyak sekali program untuk membantu orang lain. Operasi katarak, pembuatan kaki palsu gratis, membuat dan menyalurkan buku Braille untuk para penyandang tuna netra, memberikan ribuan sepatu untuk anak-anak Indonesia, menyebarkan buku-buku inspiratif ke sekolah-sekolah terpencil, juga menyelenggarakan donor darah setiap siaran Kick Andy di studio.

dr. Bambang pun seirama. Prestasi dan pengalamannya tak diragukan lagi. Beliau pernah melakukan operasi katarak untuk seorang anak di pelosok, tanpa anastesi total. Anak pemberani ini, Uun namanya, dioperasi dengan bius lokal di daerah mata yang katanya luar biasa sakitnya. Anak ini pemberani, dokternya tentu tak kalah berani. Kalau saya jadi dokter, mungkin sudah akan pingsan saat mengoperasi Uun. Alhamdulillah saya ngga jadi dokter. Hehe… lupakan sejenak ya tentang mimpi tak sampai saya sebagai dokter. Mari lanjutkan membacanya.

Di akhir sesi sharing, Mas Ali menutup dengan pertanyaan,

”Bagaimana dengan Anda?”

Saya pribadi rasanya seperti ‘ditampar’ dengan pertanyaan itu. 21 tahun saya hidup di dunia, rasanya saya belum melakukan sesuatu yang berarti untuk orang lain. Fokus dan pusat hidup saya masih ada pada diri sendiri. Bagaimana denganmu?

Semenjak saya mengisi formulir pendaftaran menjadi volunteer di Syamsi Dhuha Foundation atau volunteer dimanapun, saya selalu yakin bahwa akan ada amanah yang menyertai. Amanah untuk membantu, memberikan support, sekecil apapun yang saya miliki untuk orang lain. Mengisi formulir barulah langkah awal kepedulian untuk menolong orang lain. Yang terpenting adalah action yang dilakukan untuk mereka. Sekecil apapun support yang kita berikan untuk siapapun, mungkin bermakna segalanya bagi mereka, keluarganya, bahkan lingkungannya.

Seperti yang Mas Ali sampaikan. Dalam berbagi, rumus matematika 1 + 3 ≠ 4, tapi 1 + 3 = tak terhingga. Syamsi Dhuha dan kamu membantu seorang Odapus untuk memperjuangkan obat murah, mungkin bisa menyelamatkan nyawa seorang Odapus di luar sana. Kamu dan kamu memberi support via sms pada sahabat-sahabat Lovi, it means everything for them. Kamu dan kamu membantu mensosialisasikan ke teman-teman tentang penyakit tertentu, mungkin bisa membuat seseorang lebih aware untuk mendeteksi dini penyakitnya. Kamu dan kamu membantu mengajar di sekolah-sekolah terpencil, memperjuangkan hak asasi orang lain, menyumbangkan buku-buku bekasmu, mensosialisasikan sesuatu lewat kreasi, mengajar mengaji, mendonorkan darah, membantu seorang nenek menyebrang jalan, evenmenyumbang seribu dua ribu rupiah, sungguh berarti bagi seseorang. Apapun yang kamu dan kita, lakukan, insya Allah akan berarti bagi mereka.

So.. Don’t stop supporting them. Jadilah jembatan yang membantu mereka meraih impian

Seperti salah satu rumus yang saya dapatkan di sesi tafakur Sabtu lalu di Syamsi Dhuha :

“Perbuatan baik yang kita lakukan sejatinya bermanfaat bagi kita sendiri. Ketika kita banyak memberi, maka kita akan banyak diberi. Maka ketika ada yang membutuhkan pertolongan, apakah kita akan segera memberikan bantuan? Kamu dan hatimu tentu tahu apa jawabannya 🙂 ”

Dan ada satu hal lagi yang saya dapatkan di sharing session lalu; kebersyukuran. Saya, kamu, dan banyak orang terlahir dengan fisik yang sehat, dengan mata yang dapat melihat, dengan akal yang mampu berpikir, dengan lisan yang dapat berbicara secara jelas, dengan kaki yang mudah melangkah, dengan hidup yang berkecukupan, dengan pendidikan yang memadai, dan dengan kesempurnaan lainnya. Sementara sahabat-sahabat kita tidak. Ada yang kehilangan penglihatan, kehilangan kekuatan fisik, kehilangan kemampuan bicara, kehilangan kesempatan menempuh pendidikan, bahkan kehilangan nyawa karena keterbatasan ekonomi.

Tapi ada hal yang tidak hilang dari mereka: SEMANGAT UNTUK TETAP HIDUP.

Badan mereka boleh sakit, tapi jiwa mereka tetap sehat.

Mereka bisa semangat menjalani hari demi hari, mengapa kita tidak?

Mereka menerima keterbatasannya dan menghadapinya dengan besar hati, mengapa kita tidak?

Mereka memperjuangkan hidupnya setiap saat, mengapa kita tidak?

Maka seorang teman pun berkata, jadilah kamu seperti lilin. Lilin yang tidak hanya menerangi sekitarnya, tapi juga lilin yang dapat menyalakan lilin lainnya. Lilin yang tidak menyala sendirian. Kadang nyalanya terang, kadang pula nyalanya redup. Ibarat lilin, akan ada angin yang berusaha meredupkannya. Tapi sumbu yang sulit terbakar juga bisa membuat lilin padam sendiri. Biasanya kalau sudah seperti ini yang kita lakukan adalah membuat lingkaran dengan tangan untuk melindungi api lilin terus menerangi gelap. Semoga teman-teman dengan senang hati menjadi tangan yang selalu melindungi api, agar selalu menyala. Walaupun juga butuh tangan lain untuk melindungi api milik sendiri.

Let’s light up the world with the ray of our heart. Keep sharing, keep moving, and keep dancing! :

Salam 3S! Senyum, Syukur, dan Semangaaaat!

Ditulis oleh :

Hasya Rahmania – Volunteer SDF

www.syamsidhuhafoundation.org

Google+ : +Syamsi Dhuha

Twitter : +sdfcareforlupus

Facebook : Syamsi Dhuha

Instagram : Syamsi Dhuha

Youtube Channel : Syamsi Dhuha

#careforlupus #lupus #nevergiveup #lowvision

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *