MEMBANGUN HARAPAN – “MELIHAT” LEBIH BAIK

Eyes

Memang patut disyukuri, Tuhan telah menciptakan cahaya dan sepasang bola mata yang dengan keduanya kita bisa melihat. Namun faktanya gangguan pengelihatan menjadi salah satu faktor utama yang dapat menurunkan produktivitas, kualitas hidup dan kemandirian seseorang. Berdasarkan data WHO terdapat 285 juta jiwa penyandang gangguan pengelihatan; sekitar 40-45 juta jiwa mengalami kebutaan (totally blind), dan 245 juta jiwa adalah Lovi (Low Vision) yang bisa disebabkan oleh katarak, glaukoma, degenerasi makular, defisiensi vitamin A, infeksi, penyakit degenerasi, trauma benda tajam/tumpul, kecelakaan, atau problem iatrogenik (red:yatra genik) yaitu problem terusan yang disebabkan pengobatan itu sendiri seperti komplikasi operasi, kehilangan fokus alamiah karena lensa korektif, efek samping obat-obatan. Setiap 5 menit ada satu jiwa penduduk bumi mengalami kebutaan, dan setiap 12 menit satu anak juga mengalami kebutaan. Sekitar 80% dari penduduk dunia penyandang gangguan pengelihatan tersebut berada di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.  Pada tahun 2012, di Indonesia tercatat sebanyak 1,5% dari penduduk Indonesia adalah penyandang tunanetra, jika dianalogikan jumlah tersebut setara dengan jumlah penduduk Singapura. Indonesia juga menempati posisi kedua kebutaan di dunia setelah Ethiopia yaitu sebanyak 3,5 juta  dari total penyandang kebutaan dunia sebanyak 45 juta jiwa, dengan 90.000 diantaranya merupakan anak-anak dan remaja. Berdasarkan data Kementrian Kesehatan RI penyebab utama kebutaan disebabkan oleh Katarak (0,78%), Glaukoma (0,12%), Kelainan Refraksi (0,14%), penyakit lain terkait usia lanjut (0,38%).  Di Jawa Barat saja jumlah penduduk yang mengalami kebutaan sebanyak 473.000 atau 1,1% dari total penduduknya. Jumlah tersebut didominasi oleh katarak yang mencapai 240.000 orang pada tahun 2012. Tentu angka tersebut bukan lagi menjadi masalah medis, namun telah menjadi masalah sosial yang membutuhkan perhatian serius

Masalah gangguan pengelihatan juga telah menjadi masalah dunia terbukti dengan adanya program WHO Vision 2020 “Right to Sight” yang merupakan upaya global untuk mengurangi, mencegah kebutaan dan gangguan pengelihatan. Hal ini merupakan masalah krusial yang karena itu membutuhkan kepedulian, optimisme, semangat berbagai pihak untuk bersama-sama memecahkannya. Karena sekitar 75% penyebab kebutaan tergolong Avoidable Blindness atau dapat dicegah. Melalui World Sight Day yang biasanya diperingati pada minggu ke dua bulan Oktober mudah-mudahan dijadikan perenungan bagi semua. Sebuah moment refleksi betapa pengelihatan adalah anugrah yang harus disyukuri, bisa lebih meningkatkan kepedulian berupa tindakan karena pengelihatan adalah hak setiap orang”

Pasti tidak mudah kehidupan sebagai penyandang tunanetra, baik low vision maupun totally blind; mobilitas terbatas, kesulitan mengakses informasi & pengetahuan, hambatan menggunakan fasilitas umum, tak jarang juga terjadi diskriminasi. Jika bisa memilih semua orang tentu ingin hidup dengan pengelihatan yang berfungsi baik. Dalam perenungan ini, apapun keadaannya, betapapun sulitnya hidup dengan pengelihatan yang terbatas, bukanlah sebuah penghalang jika diterima dengan sebuah pemahaman yang jernih. Ada kekuatan, kemampuan, dan potensi yang pasti Tuhan berikan bersama keterbatasan asal mau menggalinya. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang yang tidak mungkin membebankan sesuatu kecuali sesuai dengan kemampuan hambanya. Tidak ada yang terbatas karena Tuhan Maha segalanya, jika kita yakin, bersyukur dan tetap berusaha apapun keadaannya, termasuk jika memiliki keterbatasan pengelihatan. Low vision, bright passion, semoga menjadi tagline penyemangat untuk tetap melanjutkan hidup, menggali potensi hingga memberikan manfaat dan makna bagi diri, keluarga, sosial kemasyarakatan juga kehidupan. Karena tugas manusia hakikatnya sama apapun keadaannya yaitu menjadi rahmat bagi semesta alam sesuai dengan kemampuan, dan pendidikan yang layak salah satu kuncinya. Pendidikan merupakan sebuah keharusan untuk menggali potensi diri, mengasah minat dan bakat, mengembangkan berbagai pengetahuan, mengasah keterampilan baik softskill ataupun hardskill walaupun dengan cara yang berbeda. Hal itu juga harus ditunjang dengan sistem, kebijakan, sarana & prasarana  fasilitas, metode serta teknologi khusus sesuai dengan kebutuhan. Semoga higher education for students with visual impairment” – sebuah gerakan kampanye berskala global untuk mendorong terbukanya akses ke pendidikan tinggi yang lebih baik bagi lovi & totally blind bisa lebih didukung dan difasilitasi oleh semua pihak, terutama oleh pemerintah.

“Melihat lebih baik” semoga kita semua memiliki sudut pandang dalam menyikapi sesuatu menjadi lebih positif, tidak larut dalam kesedihan & ketidak berdayaan karena keterbatasan. Bisa lebih bersyukur dan menghargai hidup, tidak perlu kehilangan baru menyadari betapa penting pengelihatan bukan? Selain itu  dibutuhkan kerjasama berbagai pihak untuk menanggulangi masalah kebutaan dan gangguan pengelihatan; baik pemerintah, organisasi profesional medis, non-governmental organization (NGO), juga masyarakat. Karena jika tidak ada tindakan angka kebutaan akan terus meningkat, bahkan diperkirakan menjadi dua kali lipat hingga 90 juta jiwa pada tahun 2020 nanti.

Ditulis oleh :

Fadilatul L.Insan – Sahabat Lovi

www.syamsidhuhafoundation.org

Google+ : +Syamsi Dhuha

Twitter : +sdfcareforlupus

Facebook : Syamsi Dhuha

Instagram : Syamsi Dhuha

Youtube Channel : Syamsi Dhuha

#careforlupus #lupus #nevergiveup #lowvision

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *