ADA APA DENGAN MEREKA?

Low-Vision

Bunda Upik merasa kesal dengan tingkah laku Upik yang seperti tidak mau mendengarkan nasehatnya. Sudah  sering Upik diingatkan untuk tidak nonton TV terlalu dekat. Tapi sesering itu pula Upik seakan mengabaikan larangannya dengan sengaja menonton TV dalam jarak dekat dengan beralasan bahwa dia tidak dapat melihat jelas gambarnya. Mengapa Upik begitu bandel?

Lain lagi dengan pengalaman bu Devi. Saat mengajar dia melihat Ryan sering membungkukkan badannya ke atas meja hingga nyaris wajahnya menyentuh buku. Bu Devi selalu menegur sambil membetulkan posisi duduk agar Ryan terbiasa dalam posisi baca atau posisi tulis yang benar. Ryan memang mau memposisikan duduknya dengan benar, tapi tidak bertahan lama karena dia akan kembali ke posisi membungkuk. Yang mengherankan bu Devi adalah Ryan mengaku tidak pusing dengan posisi baca atau posisi tulis yang ganjil itu. Mengapa Ryan sulit diatur?

Dina paling suka jika orang tuanya mengajak jalan-jalan ke mall. Dia selalu terlihat ceria setiap kali pergi. Tapi mama Dina heran melihat kebiasaan Dina memicingkan matanya ketika mereka berada di dalam mall. Padahal menurut mama Dina, cahaya lampu dalam mall tersebut tidak terlalu menyilaukan meski memang terang. Selain itu jika Dina memandang sesuatu dia selalu memiringkan kepalanya, seolah memandang dari sudut mata. Awalnya kebiasaan itu terlihat lucu, tapi lama kelamaan mama Dina merasa ada yang aneh dengan kebiasaan Dina memandang dari sudut mata tersebut. Ada apa dengan Dina?

Pernahkah anda dengan anak atau murid anda dihadapkan pada kondisi yang mirip dengan salah satu ilustrasi di atas? Jika pernah maka layak jika anda mewaspadai kemungkin anak atau murid anda adalah penyandang low vision.

Apakah low vision itu? Low vision adalah berkurangnya kemampuan penglihatan seseorang yang tidak dapat diatasi dengan kacamata. Seorang penyandang low vision biasanya mengalami penurunan jarak pandang, ketajaman penglihatan, dan atau lapang pandang. Jika pada anak tanpa gangguan low vision jarak pandang 20 meter, maka pada anak penyandang low vision jarak pandang bisa jadi hanya 2 meter saja atau bahkan kurang. Itulah sebabnya mengapa anak penyandang low vision seringkali terantuk ketika berjalan.

Saat seseorang menatap ke depan biasanya dia masih dapat mengidentifikasi benda yang berada tepat di sampingnya dengan baik. Hal itu terjadi karena lapang pandang seorang tanpa masalah penglihatan adalah 180 derajat. Tapi pada seorang penyandang low vision lapang pandang bisa jadi hanya 10 derajat saja. Anda bayangkan apa yang anda lihat ketika mengintip dari lubang kunci. Pemandangan seperti apa yang anda peroleh? Apakah utuh satu ruangan atau terbatas?  Kira-kira keterbatasan seperti itulah yang terjadi pada seorang low vision yang mengalami gangguan lapang pandang.

Seorang anak yang sedang tumbuh tentu sedang dalam proses memahami kehidupan. Ada banyak cara memahami kehidupan. Dari banyak cara itu yang paling dominan adalah melalui penglihatan. Begitu pentingnya penglihatan bagi manusia. Jadi dapat dimengerti jika ada pergolakan emosi yang terjadi pada seorang anak saat memahami bahwa fungsi penglihatannya berkurang. Ketakutan, kecewa, marah, atau bahkan frustasi sangat mungkin terjadi. Bagi anak yang mengalami gangguan di penglihatannya dibutuhkan strategi khusus untuk membuatnya tumbuh normal seperti yang lain.

Maka tidaklah berlebihan jika pendampingan orang dewasa di sekitar dia terutama orang tua menjadi penting. Adalah wajar ketika orang tua terutama ibu merasa sedih saat tahu anaknya menyandang low vision. Terbayang kesulitan yang akan dihadapi sang anak dalam kehidupannya nanti. Perasaan ketakutan, kecewa, dan sedih juga mungkin dialami orang tua penyandang low vision.

Tapi sebagai orang yang bertanggung jawab atas masa depan sang anak, seharusnya orang tua mampu untuk segera bangun dari perasaan negatif itu. Karena siapa lagi yang akan mendampingi sang anak, membantunya untuk terus melangkah, dan membimbingnya untuk tetap bertahan jika bukan orang tuanya. Anda tentu tidak ingin melihat anak anda tersesat dalam ketidak tahuan kan? Anda juga tentu tidak ingin anak anda kehilangan masa depan karena keterbatasannya.

Pendampingan dapat dimulai dengan meminta nasehat dokter sebagai seorang ahli untuk merancang program yang dapat membantu anak beradaptasi dengan kondisinya. Salah satunya adalah dengan pemilihan alat bantu yang sesuai. Karena bagaimana pun alat bantu tentu diperlukan untuk dapat memudahkan aktifitasnya. Sehingga diharapkan dia masih dapat tumbuh dengan baik dan potensinya tidak terbenam seiring dengan keterbatasan yang mendatanginya. Yang berarti kesempatan untuk meraih prestasi bagi anak penyandang low vision tetap terbuka.

Pada acara edukasi WSD tahun 2012 yang diadakan oleh SDF (Syamsi Dhuha Foundation) dr. Ine Renata Musa, SpM mengatakan bahwa : “jumlah penyandang Lovi di seluruh dunia  (perkiraan 245 juta orang) jauh lebih besar daripada penyandang totally blind (TB) yang jumlahnya adalah 39 juta orang. Sementara berdasarkan data dari WHO 10% dari usia anak sekolah menderita gangguan refraksi, dan prevalensinya mencapai 24,7%.

Ketidaktahuan masyarakat terhadap kondisi low vision menyebabkan jumlah pasti penyandang low vision belum terdata dalam jumlah yang tepat. Padahal semakin dini low vision ini terdeteksi, maka semakin cepat penanganannya termasuk salah satunya pemilihan alat bantu yang tepat.

Dengan semakin cepat penanganan bagi seorang anak penyandang low vision diharapkan proses penerimaan dan adaptasi bagi anak dapat berlangsung lebih baik. Yang tentunya akan berdampak pada semangat anak untuk tetap bersiap menghadapi kehidupan mereka nantinya juga untuk terus belajar. Sehingga anak penyandang low vision dapat terus berprestasi dan hidup wajar dalam keterbatasan mereka. Hal ini perlu betul-betul mendapat perhatian mengingat jumlah mereka yang tidak sedikit. Jadi bagi para penyandang low vision kemampuan melihat boleh terbatas, tapi semangat harus tetap menyala.

Umi Mardiyati – Volunteer SDF

www.syamsidhuhafoundation.org

Google+ : +Syamsi Dhuha

Twitter : +sdfcareforlupus

Facebook : Syamsi Dhuha

Instagram : Syamsi Dhuha

Youtube Channel : Syamsi Dhuha

#careforlupus #lupus #nevergiveup #lowvision

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *