Sosialisasi Lupus bersama para Ibu PIA Ardhya Garini, Selasa 4 Nov 2014

PIA

Pagi hari itu tim SDF bergegas melaju ke Lanud Husein Sastranegara-Bdg. Kedatangan kami langsung disambut oleh istri Danlanud Husein : Ibu Nyoman Trisantosa yang ramah, supple & belakangan baru ku tahu bahwa beliau adalah putri Solo (bukan Bali J) & satu dari sedikit penerbang Wara (Wanita Angkatan Udara). “Wah Bu, boleh dong if kapan2 kami harus kirim obat untuk sahabat Odapus di daerah, boleh titip ya di pesawatnya….”, rajuk aku kepadanya. “Boleh aja sih mbak, tapi jadwalnya tak pasti”, sambut Bu Nyoman sambil tersenyum. Hilang sudah kekakuan diantara kami & suasana terasa begitu hangat & akrab. Jadilah pagi itu, aku berbagi cerita tentang sahabatku si Luppy di tengah deru mesin pesawat yang kerap melintas di Lapangan Udara Husein, yang sudah lama diidamkan warga Bandung untuk bisa direnovasi & tak kalah tampilannnya nanti dengan bandara udara di kota2 lain.

Aula dipenuhi oleh para Ibu, mbak2 Wara berseragam & juga terselip beberapa Bapak diantara para guru yang hari itu menerima penghargaan atas jasa & baktinya mengajar di Sekolah Angkasa. Terselip pula seorang mbak Wara yang harus berjuang hadapi cancer beserta komplikasinya. Dia pun tertarik tuk miliki buku ‘Sunrise Serenade’ yang tim SDF bawa siang hari itu, tuk bantu memompa semangat & beri kekuatan untuk terus berjuang. Mbak Wara lainnya juga turut membeli untuk dihadiahkan bagi seorang sahabatnya yang sakit Lupus di Belanda. “Wah bukuku terbang jauh ke negeri kincir angin nih”, sahutku dalam hati. Itulah kekuatan berbagi, tarian kebajikan & nyanyian hati akan sampai kemanapun, diperjalankan oleh Sang Maha Kasih.

Lupus memang fenomena gunung es, seolah hanya sedikit yang terlihat, namun ternyata kasusnya ada dimana-mana. Rasanya hampir di setiap sesi sosialisasi Lupus di berbagai kalangan, selalu ada saja yang berikan testimoni bahwa ada anggota keluarga, kerabat, sahabat ataupun tetangganya yang sakit Lupus. Seperti yang dituturkan seorang Ibu yang putrinya adalah seorang Odapus denganbutterfly rash di wajahnya…. ah memang tak mudah hadapi penyakit 1000 wajah ini. Ruam kemerahan di wajah itu kerap membuat resah sang empunya wajah. Juga efek samping obatnya yang membuat wajah membulat seperti bapau alias moonface. Bahkan ada seorang pelajar yang tiap hari gunakan masker ke sekolahnya, hanya karena minder dengan wajah yang membulat seperti itu…. benar2 dibutuhkan kekuatan jiwa untuk bisa membuat wajah ini tegak menatap lurus ke depan & kaki yang kerap nyeri & melemah ini untuk terus melangkah & menari seiring dengan denyut kehidupan yang masih Dia berikan. Tak apa kerap harus terhenti karena terjatuh atau hanya sekedar tuk redakan nyeri yang mendera, yang penting bisa move on & terus berproses menjadi kupu-kupu cantik (baca : menjadi seperti yang Dia inginkan)…. tak ada yang buruk dari setiap ketetapanNya, Dia hanya ingin kirimkan pesan melalui penyakit yang bernama LUPH US.

Love is in the air….

DSP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *