Semangat Kerelawanan – 25 Oktober 2014

Semangat-Kerelawanan

Akhir pekan yang mengesankan itu jatuh tepat di pergantian tahun baru 1 Muharam 1436 H. Adalah Vol-D (Volunteer Doctors) LSM yang digagas dr. Dani Ferdian & menghimpun relawan tenaga medis itu, yang menandai tibanya tahun baru Islam dengan menghadirkan rangkaian talk show bertajuk ‘Volunteer Diversity’. Langkah ini terasa ringan & hati membuncah, karena akan bertemu dengan para relawan di berbagai bidang, yang walau di lapangan ruang gerak, kapasitas & skalanya berbeda, namun semua diikat dengan passion yang sama : semangat kerelawanan. Berbekal dorongan hati, mimpi, keberanian untuk berubah & tampil beda, mereka mampu menggulirkan berbagai gerakan sosial yang memang dibutuhkan orang banyak. Berbagai latar belakang & alasan terkuak saat para relawan tersebut berbagi kisah & pengalaman melalui beberapa sesi talk show yang berlangsung dari pagi hingga sore hari itu.

Dani Ferdian sendiri sebagai dokter muda, berani tampil beda dengan menggagas berbagai ide kreatif & menelurkannya melalui berbagai tulisan & tindakan. Dani membawa angin segar untuk mengingatkan kembali misi suci yang diemban seorang dokter & menjadikan program-program yang dilakukannya sebagai sekolah empati bagi para calon dokter yang sejatinya memang mengemban misi mulia : menyelamatkan jiwa sesama. Akupun lantas teringat para dokter di SDF yang kerap kami juluki ‘The caring doctors’. Tak banyak jumlahnya, namun mirip seperti yang diimpikan Dani. Akupun sempat terhenyak & terkulei lemas di kursi, saat melihat siluet film di sesi puncak yang menghadirkan dr. Joserizal – Founder Mer-C, ditayangkan. Mer-C banyak bergerak di daerah konflik bencana & kawasan yang banyak menumpahkan darah serta menelan banyak korban jiwa. Lutut ini terasa bergetar & merasa betapa kecilnya diri ini & tak berarti dibandingkan dengan perjuangan & pengorbanan mereka. Dari awal hingga akhir tayangan film dokumenter itu, hati dibrondong dengan serentetan pertanyaan : Maukah aku memasuki kawasan perang dimana ledakan bom & gempuran senjata menjadi menu sehari-hari? Sanggupkah aku menjalankan tugas dimana hidup & mati beda tipis, serta nyawa menjadi taruhannya? Saat kesempatan untuk berinteraksi dengan dr. Joserizal tiba, tak kusia-siakan itu untuk segera menanyakan apa yang berkecambuk dalam hati. Subhanallah…. ternyata cara pandang beliau terhadap kematian menjelaskan sikapnya : “Kita semua akan mati & kita bisa mati kapan saja & dengan cara apa saja. Kita bisa mati di atas tempat tidur tanpa sempat melakukan apapun atau kita bisa mati dimana saja namun sudah sempat melakukan sesuatu dalam hidup ini. Mer-C selalu memfokuskan diri menolong korban yang paling membutuhkan & paling terabaikan. Tentu saja situasi seperti itu kerap dijumpai di kawasan bencana & daerah konflik. Tapi tentu saja kami bukan tanpa perhitungan, ada strategi & perencanaan sebelum menjalankan misi”, jelas dr. Rizal dengan tenang.

Ah! Ketika keinginan kita sama dengan keinginan Tuhan, maka campur tangan Tuhan luar biasa. Dia akan memampukan kita & membuat apa yang tak mungkin menjadi mungkin. Semua bermodalkan kesadaran, ketika kita dengan jernih bisa berpikir & bisa merasakan kebenaranNya di relung hati terdalam, dengan mempertanyakan untuk apa kita berada di dunia ini & penugasan apa yang Dia berikan kepada kita. Luar biasa hidangan jiwa yang Dia berikan hari itu. Bertemu dengan orang-orang yang beruntung, sudah tercerahkan diusia belianya, termatangkan di usia dewasanya & bertambah arif di usia lanjutnya.

Dibalik semua semangat kerelawanan itu, terselip pula sebuah perenungan : Hal apakah yang tersulit dari semua itu? Ternyata semua itu bisa berubah & mulai bergerak setelah kita berhasil memenangkan peperangan terbesar dalam diri ini, yaitu : mengalahkan ego & nafsu. Mempersembahkan keikhlasan & ketaatan sebagai karya sejati insani.

Selamat bermentarimorfosa & salam hijrah!

DSP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *