DSP's Weekend Notes - Dibalik Topeng

Topeng

Dibalik  Topeng : Saat ‘melihat’ tayangan pengakuan seorang PSK (Pekerja Seks Komersial) dan pelanggannya yg juga bertopeng di layar kaca, akupun lantas berpikir : jika ybs malu jika jati diri terkait profesinya diketahui publik, apakah ybs tak malu kepada Sang Maha Mengetahui? Yang tak terbatasi dan tertutupi oleh topengnya. Bukankah setiap detail dari perbuatannya diketahui oleh Sang Maha Melihat? Hal ironis lainnya adalah saat sang pelanggan sambil cengengesan mengaku tidak takut jika perbuatannya itu diketahui oleh keluarganya dan hanya takut jika sampai digerebeg petugas. Bagaimana dengan Sang Maha Kuasa, yang jauh…. jauh lebih berkuasa dari petugas? Tidak takutkah ia? Ia mungkin luput dari pengamatan petugas, tapi tak mungkin lolos dari bala tentara Sang Maha Kuasa.

Akupun lantas merenung dan bercermin diri : apakah selama hampir 50 tahun hidup di dunia ini, aku juga sering gunakan topeng? (muna gitu lho J). Memang bentuknya tak seperti yang digunakan sang PSK dan pelanggannya. Topeng yang kupakai bahkan lebih nyata, karena melekat dalam diriku. Apakah aku sering menutupi sesuatu yang menjadi kekurangan dan kesalahanku? Apakah aku lebih malu dan takut kepada sesama manusia daripada kepada Tuhanku? Padahal dengan hanya berbekal dua macam keyakinan saja, yaitu : Dia Maha Melihat dan Maha Mengetahui, dijamin aku takkan berani neko-neko, alias berkata dan berbuat yang diluar aturan mainNya. Tak akan terpikir juga untuk jaim, karena itu hanyalah kepalsuan semata. Masalahnya, kenapa aku tak yakin akan hal itu?

Ternyata itu karena aku tidak berpikir…. Padahal aku telah dijadikanNya dalam sebaik-baiknya bentuk, bahkan dibekali pula dengan ruh yang putih bersih, nafsukulah yang membuatnya menjadi kotor dan hitam. Alih-alih tobat dan bersihkan diri, kotoran yang melekat dalam jiwa itu malah dibentengi dengan pembenaran dan ditutupi dengan topeng. Jika itu yang terjadi, habislah aku! Surga hanyalah angan-angan belaka…. Padahal sungguh Dia Maha Kasih dan lautan ampunanNya Maha Luas. Bahkan walaupun kita datang menghampirinya dengan dosa setinggi langit dan sepenuh bumi pun, kita dapat pula bermohon kepadaNya untuk ditutupi segala kekurangan diri. Biarkan Sang Maha Sempurnalah yang menutupi kekurangan diri ini dengan jubah kasih sayangNya, bukan dengan topeng yang fana. Tentu saja semua itu dibangun di hamparan penyesalan atas aneka kelalaian dan berbagai hal yang terabaikan selama ini. Pilar kesadaran pun harus segera dibentangkan menjadi bangunan kokoh tak tergoyahkan untuk sebuah ketaatan yang dipersembahkan hanya kepada Sang Maha Besar….. (DSP)        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *