Memaknai Ujian Hidup

Memaknai-Ujian-Hidup

Hari keempat di bulan Ramadhan 1431 H, para sahabat SDF berkumpul untuk mengikuti Renungan Ramadhan yang diselenggarakan oleh Syamsi Dhuha Foundation, sebagai program rutin tahunan yang dilaksanakan setiap minggunya selama bulan Ramadhan.

Diawali dengan lantunan Nasyid yang indah oleh grup Nahawan yang berjudul “Hasybi Rabbi” membawa suasana di dalam masjid itu mendadak hening . Semua terpaku pada lantunan nasyid, yang dilanjutkan dengan sebuah perenungan bertopik “Bacalah” yang dibawakan oleh sahabat relawan Linggar.

Acara yang dipandu apik oleh Mba Dian Syarief itupun dilanjutkan dengan Renungan Ramadhan yang difasilitasi oleh Ustadz Ahmad Humaedi yang lebih akrab dipanggil dengan ustadz Ahum.

Dengan tutur kata dan gaya bahasa yang khas Ustadz Ahum menyampaikan beberapa hal penting dalam memaknai Ujian Hidup ini. Berikut ringkasannya :

Ujian adalah bagian dari kehidupan kita, sesuai dengan firman-Nya :

“Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah yang mendapat petunjuk.” ( QS. Al Baqarah : 155-157)

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”(QS. Al Mulk : 2)

Ujian yang diberikan Allah dapat berupa kebaikan dan keburukan :

“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”

(QS. Al Anbiya:35)

Ujian bagi seorang mukmin adalah sebuah keniscayaan :

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah mernguji orang- orang sebelum mereka , maka seseungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” ( QS. Al Ankabut : 2-3). Juga dalam QS Al Ahzab : 11-12.

Ujian juga merupakan sarana memilih mana yang berkualitas dan mana yang tidak berkualitas :

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahu orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ikhwalmu.”
( QS. Muhammad : 31)

Bagaimana kita memaknai sebuah ujian ?

*Sarana penghapusan dosa
Dari Aisyah dia berkata , “Aku mendengar Rasulallah saw bersabda : “Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah walau hanya tertusuk duri, kecuali Allah akan mencatat baginya kebaikan dan dihapus baginya kesalahan dan dosanya.” (HR.Muslim)

* Meningkatkan kedudukan dan derajat di sisi Allah SWT
Aisyah pernah bertanya pada Rasulallah saw tentang penyakit tha’un (sakit yang tak ada obatnya/ menular). Rasulallah saw menerangkan bahwa penyakit tha’un adalah azab yang diturunkan Allah kepada hamba yang Dia kehendaki. Dan Allah menjadikan penyakit tersebut sebagai rahmat bagi orang yang beriman. Seorang mukminin yang ditimpa penyakit tha’un dan dia tetap tinggal di negerinya dengan penuh kesabaran dan ketulusan, karena dia sadar bahwa musibah yang menimpanya merupakan takdir yang telah ditetapkan Allah, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mati syahid.” (HR. Al Bukhari)

* Menumbuhkan sikap tawakal / berserah diri pada Allah
( Lihat kisah Yusuf dalam QS. Yusuf )

*Menjernihkan Iman
( Lihat QS. Al Ankabut : 2-3 )

*Sebagai pendidikan dari Allah SWT
(QS. Al Baqarah : 155-157)

*Agar kita bercermin pada orang-orang yang sabar
“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul yang telah bersabar, dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan pada mereka ( merasa) seolah-olah tidak tinggal ( di Dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.”(QS. Al Ahqaf : 35)

Dengan demikian apapun bentuk ujian yang diberikan Allah pada hakekatnya adalah baik, buruk itu hanya persepsi kita saja, yang terlalu cepat membuat kesimpulan, karena dirasa sebuah ketidak nyamanan. Pedahal Allah maha suci dari berbuat dzolim pada hamba-Nya .

Lalu dengan berbekal keyakinan bahwa ketetapan Allah pasti baik dan rencana Nya selalu indah, yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, dan yang buruk menurut kita belum tentu buruk menurut Allah, mudah-mudahan dapat membuat kita lebih kuat dalam menjalani setiap ujian hidup, karena pada saat akal dan raga ini sudah merasa tak berdaya , kekuatan apa lagi yang bisa kita andalkan, melainkan Kekuatan Jiwa. Dan itu akan kita dapatkan pada saat kita Berserah Diri pada Nya.

Do’a juga merupakan kekuatan yang sangat dahsyat yang membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang tak ada menjadi ada, yang tersembunyi menjadi nyata, Oleh karenanya Do’a dikatakan senjatanya bagi orang-orang yang beriman.

Ada sebuah nasihat indah dari Rasulallah saw yang disampaikan pada putri tercintanya Fatimah Sebagai bekal untuk menghadapi ujian hidup, yakni Subhanallah wabihamdihi, Subhanallahiladzim (Maha Suci Allah dan dengan Menuji Nya).

Do’a cintanya Rasulalloh pada Allah :

“Allahumma inni asaluka hubbaka wa hubba maa yuhibbuka wal ‘amaladzi yuballigu hubbaka.
Allahummaj ‘al hubbaka ahabbu ilaya min nafsi wa maalii wa ahlii wa mail barid.”
Artinya :
Ya Allah yang kumohon Cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, dan amal yang bisa menyampaikan cinta kepada-Mu.
Jadikan cinta kepada-Mu sesuatu yang aku cintai melebihi cinta kepada diriku, keluargaku, hartaku, dan air yang dingin kala aku dilanda kehausan.

Usai ustadz Ahum menyampaikan materinya, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, yang dipandu oleh sahabat Helin.

Acara yang berlangsung sekitar dua jam itu, ditutup kembali dengan lantunan nasyid yang berjudul I’tiraf serta puisi indah ” CINTA”.

Semoga bermanfaat, Wallohu a’lam Bish Shawab

Helin Herlina

28 September 2010

Summary Renungan Ramadhan I

Hari/ Tanggal : Sabtu, 14 Agustus 2010 / 4 Ramadhan 1431 H
Tempat : Masjid Junudurrahmah, Jl. Aceh 50 Bandung
Jam : 09.00 s/d 11.00 WIB
Facilitator : Ust. Ahmad Humaedi
Topik : MEMAKNAI UJIAN HIDUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *