Monday Thought : Generasi Sandwich

Renungan Senin, 6 April 2015

Generasi Sandwich

Salam dan selamat pagi Sahabat.

Pernah mendengar istilah “Sandwich Generation” ?

Mungkin sebagian kita, umumnya yang berusia antara 40 hingga 60 tahun, sedang berada pada generasi sandwich… yakni generasi yang harus mendukung (mengurus) secara finansial anak-anak kita dan juga orang tua kita.

Tentu menjadi kebahagiaan tersendiri jika kita mampu menjalani peran sebagai generasi sandwich, karena menghidupi anak-anak dan orang tua yang menjadi tanggung jawab kita akan mendatangkan pahala yang besar.

Namun pertanyaan selanjutnya apakah kita juga berharap kelak anak-anak kita akan melanjutkan dan mengganti peran kita sebagai generasi sandwich yang harus juga menghidupi kita sebagai orang tua yang sudah pensiun, selain harus menghidupi anak-anak mereka sendiri?

Dalam kondisi ekonomi yang makin kompleks dimana kebutuhan dan biaya hidup terus meningkat (karena gaya hidup dan inflasi), generasi sandwich ini harus dihentikan alias “diputus”. Bukan diputus dengan tidak lagi memberikan dukungan finansial kepada orang tua kita (hal ini jangan pernah dilakukan, selama kita mampu), namun dengan memandirikan diri kita secara finansial ketika kita pensiun sehingga anak-anak kita kelak tidak lagi harus menanggung kehidupan orang tuanya, cukup mananggung kehidupan keluarga dan anak-anak mereka. Akan menjadi beban yang berat bagi anak-anak kita kelak jika generasi sandwich ini terus berlanjut, karena untuk menghidupi keluarga mereka sendiri saja sudah semakin berat.

Bagaimana caranya menghentikan dan memutus generasi sandwich ini? Salah satu caranya adalah kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk mempersiapkan masa pensiun sedini mungkin. Persiapan pensiun bukan sekedar persiapan finansial, namum juga persiapan fisik, mental, spiritual, aktivitas, pertemanan dll, agar di usia tua nanti, kita tetap bisa mandiri. Persiapan-persiapan di atas sering tidak cukup bila dilakukan menjelang pensiun di usia 50an…

Sudahkah kita melakukannya ? Terlambat…? Tidak ada kata terlambat. Karena, masih lebih baik terlambat daripada tidak mempersiapkan sama sekali..

Have a blesed week

Salam (epp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *