One Fine Day dengan Nurul Izzah

Nurul-Izzah

Rabu pagi itu aku sedikit senewen. Betapa tidak…karena untuk pertamakalinya aku harus rekaman untuk sebuah acara talkshow di TV dalam bahasa inggris. Sebelumnya aku sempat berfikir untuk tidak menerima tawaran tersebut, mengingat kemampuan bahasa inggrisku yang terbatas. Aku tak yakin ketika berbicara dalam bahasa inggris, pemirsa akan dapat menangkap maksud ucapanku. Tapi semangat Hari Lupus sedunia, 10 Mei 2005 memberikan motivasi kuat untuk mencoba berbuat sesuatu dengan berbagi pengalaman dan informasi seputar Lupus.

Hal lain yang juga mendorongku untuk menerima tawaran tersebut adalah kesempatan bertemu dengan Nurul Izzah. Ya, Nurul Izzah, sebuah nama yang sempat aku dengar beberapa tahun silam melalui berbagai media. Kala itu, aku masih dapat melihat, sehingga sempat membaca berita tentang perjuangannya bersama sang bunda,Wan Azizah untuk mengupayakan pembebasan ayahanda tercinta, Anwar Ibrahim, deputy PM Malaysia saat itu. Yang membuatku terkesan, karena di usianya yang belia, ia telah menunjukkan keberaniannya, terkesan cerdas dan  terlihat memiliki inner beauty.

Ketika akhirnya pertemuan itu terjadi di lokasi pengambilan gambar, kesan yang ada selama ini ternyata tidak berbeda dengan kenyataannya. Ia nampak bersahaja, ramah, rendah hati, tulus dan berempati. Subhanallah. Mungkin itu pula yang menggerakkan hatiku untuk membawa kenang-kenangan sebuah Al-Qur’an bersampul biru muda ke tempat pertemuan. Saat kuserahkan padanya diakhir acara, keharuan yang begitu mendalam menyergap kalbu, karena Izzah berbisik untuk juga mendo’akanku saat membaca Qur’an tersebut. Aku sangat bersyukur memperoleh kesempatan seperti itu, karena disamping dapat meneruskan langkah-langkah kecil bagi Care for Lupus, juga mendapatkan pengalaman yang mengesankan bertemu dengan seorang  teman baru yang secara batiniah langsung terasa dekat. Salah seorang crew  memberitahuku bahwa khusus episode berbincang denganku, Izzah menolak untuk didandani seperti biasa, karena ia ingin tampil sederhana untuk menunjukkan empatinya. Izzah juga berusaha menenangkanku  yang memang merasa tak nyaman dan tak yakin  dengan lafal inggrisku. Kala pengambilan gambar berlangsung, air mataku sempat terjatuh ketika Izzah menanyakan saat terberat dalam hidupku. Kujawab saatnya adalah ketika penglihatanku hilang, yang kemudian disambungnya dengan “Yes, I understand that the last thing you read before you lost your vision was Al-Qur’an… .”. Saat itu aku tak mampu lagi menahan tangisku. Mungkin itulah puncak kerinduanku atas sesuatu yang amat kusenangi dulu, yaitu: membaca. Namun rasanya hal itu terungkap melalui empati dan ketulusan yang diberikan Izzah. Empati  yang mungkin lahir dari pengalaman pribadi dan kepahitan yang dijalaninya beberapa tahun terakhir ini. Meski tak sekalipun dikeluhkannya.

Yang kemudian terjadi adalah ketika keesokan harinya Izzah menyempatkan diri untuk mampir ke Syamsi Dhuha. Rasanya tak pernah cukup waktu yang ada untuk  berbincang dengannnya. Pun ketika kukatakan bahwa aku menceritakan pengalaman bertemu dengannya kepada ayahku, ternyata iapun melakukan hal yang sama. Dan menurutnya, ayahnyapun menitipkan salam dan do’a untukku…Masya Allah.

Keesokan harinya, kembali Izzah menyempatkan diri untuk berpamitan sebelum terbang kembali ke Malaysia. Ia berencana untuk meneruskan study S2-nya di John Hopkins university – USA, sebagai bekal untuk meneruskan perjuangan membawa perubahan yang berarti bagi bangsanya. Good luck, Izzah. May Allah take care of you and bless you always… .(dsp)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *