Ramadhan Thought - 27 : HARTA, Milikku atau Titipan Allah?

Ramadhan Thought – 27

HARTA, Milikku atau Titipan Allah?
(*Terinspirasi dari Tafakuran Mutiara Tauhid)

Selain kewajiban berpuasa, di bulan Ramadhan ini, juga wajib kita tunaikan pembayaran zakat, bukan hanya zakat fitrah, zakat hartapun sebaiknya ditunaikan, walau zakat harta bisa dilakukan di waktu lain.

Namun, sering kita merasa enggan karena harta yang kita “miliki” akan berkurang dengan pembayaran zakat harta, apalagi jika jumlah yang harus dikeluarkan cukup besar…

Benarkah harta itu “milik” kita ? Coba kita tengok kisah di bawah ini, yang pernah saya terima dari seorang sahabat.. agak panjang, namun, akan mampu merubah cara pandang kita terhadap harta…

Suatu hari, seorang pria yang sangat kaya sedang berjalan-jalan. Tiba-tiba ia melihat seorang pengemis di trotoar. Orang kaya ini dengan santun bertanya kepadanya mengapa ia mengemis.

Pengemis itu berkata, “Tuan, saya sudah menganggur selama satu tahun. Anda terlihat seperti orang kaya, jika Anda berkenan memberi saya pekerjaan, saya akan berhenti mengemis”. Orang kaya itu tersenyum dan berkata, “Saya ingin membantu Anda. Tapi saya tidak akan memberikan pekerjaan. Saya akan melakukan sesuatu yang lebih baik”.

“Saya ingin Anda untuk menjadi mitra bisnis saya. Mari kita memulai bisnis bersama-sama”

Pengemis itu terkejut, dia tidak mengerti apa yang orang kaya ini maksudkan. “Apa maksud Tuan?”. “Saya memiliki sawah luas dan penggilingan padi. Anda bisa menjual beras saya di pasar. Saya akan memberikan Anda karung beras dan menyewakan kios di pasar. Saya akan membayar sewa untuk kios tersebut. Yang Anda harus lakukan adalah menjual beras saya”, jelas si orang kaya. “Dan di akhir bulan, sebagai mitra bisnis, kita akan berbagi keuntungan”, tambahnya.

Air mata sukacita mengalir membasahi pipi sang pengemis. “Oh Tuan” katanya, “Anda adalah hadiah dari surga. Anda jawaban atas doa-doa saya selama ini. Terima kasih, terima kasih, terima kasih… “Dia kemudian berhenti dan berkata, “Tuan, bagaimana kita akan berbagi keuntungan? Apakah saya mendapatkan 10% dan Tuan mendapatkan 90% ? Atau apakah saya yang 5% dan Tuan yang 95% ? Saya akan senang dengan apapun yang Tuan putuskan”.

Orang kaya itu menggeleng kepala dan tertawa. “Tidak, saya ingin Anda memberi saya 2,5% saja dan Anda yang mendapat 97,5%”. Untuk sesaat, pengemis tidak bisa berbicara. Dia tidak bisa mempercayai telinganya.

Kesepakatan itu terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Orang kaya itu tersenyum. Dia berkata lagi, “Saya tidak butuh uang. Saya sudah kaya melampaui apa yang dapat Anda bayangkan. Saya hanya ingin Anda memberikan 2,5% dari keuntungan, supaya Anda mengingat saya dan supaya usaha Anda tumbuh dan berkembang”

Pengemis itu berlutut dan berkata, “Ya Tuan, saya akan melakukan apa yang Tuan katakan. Saya sangat berterima kasih atas apa yang Tuan lakukan untuk saya”

Mantan pengemis itu sekarang sudah berpakaian lebih baik dan mengoperasikan sebuah toko yang menjual beras di pasar. Dia bekerja sangat keras. Dia bangun pagi-pagi dan tidur larut malam. Dan penjualannya laris-manis, juga karena beras itu berkualitas baik. Dan setelah 30 hari, keuntungannya cukup mencengangkan.

Pada akhir bulan, ia mulai menghitung uang dan memiliki perasaan yang bebeda dengan banyaknya uang di tangannya. Mulailah muncul ide dalam pikirannya. Dia mengatakan kepada dirinya sendiri “Mengapa saya harus memberikan 2,5% ke orang kaya itu? Saya tidak melihat dia sepanjang bulan, saya adalah orang yang bekerja siang dan malam untuk bisnis ini. Saya melakukan semua pekerjaan ini sendiri, sudah sepantasnya saya berhak 100% dari keuntungan”

Keesokan harinya, orang kaya itu datang untuk menagih 2,5% dari keuntungan sesuai kesepakatan. Namun mantan pengemis itu mengatakan, “Tuan tidak pantas 2,5%. Saya bekerja keras sendiri untuk semua ini. Saya layak mendapatkan semua keuntungan ini”

Jika Anda sang orang kaya dalam kisah di atas, bagaimana perasaan Anda terhadap mitra bisnis Anda ?

Ini adalah apa yang terjadi pada kita. Kita layaknya pengemis, dan Allahlah “mitra bisnis” kita, yang tanpa pertolongan-Nya tidak mungkin kita mampu melakukan apa-apa.

Allahlah yang memberikan kita jalan memperoleh perkerjaan dan rizki.Allahlah yang memberi kita kehidupan, setiap tarikan napas adalah atas ijin-Nya
Allahlah yang memberi kita bakat dan kemampuan untuk berkarya dan bekerja hingga mendapatkan uang.
Allahlah yang memberi kita tubuh, telinga, mulut, tangan, kaki, hati.
Allahlahlah yang memberi kita pikiran, imajinasi, emosi dan segala yang ada pada diri kita.

Semua itu adalah PINJAMAN dari Allah, bukan milik kita.

Kita tidak memiliki apa-apa, karenanya ketika matipun, tidak ada harta sesenpun yang kita bawa…. Harta adalah titipan Allah, sama sekali bukan milik kita…

Pemberian 2,5% (atau ‘ZAKAT’) adalah ungkapan rasa syukur dan bukti cinta kita kepada yang telah memberikan kita segala yang kita butuhkan dalam hidup.

Jangan lupa untuk memberikan kembali apa yang kita telah berhutang kepada Allah..

Have a blesed Ramadhan
Salam (epp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *