Buku "Belajar Bahagia"

Belajar-Bahagia

Belajar Bahagia. Alhamdulillah di akhir 2015 ini Dia izinkan kami untuk selesaikan ‘Belajar Bahagia’.

Belajar yang membuatku menjadi kebutuhan untuk bangun kefahaman & kesadaran. Apalagi ini yang diperjuangkan adalah : kebahagiaan. Penting banget buatku untuk terus belajar bahagia dalam kondisi apapun.

Jadilah aku & Mas Eko berbagi pembelajaran kami  (masing-masing maupun bersama) melalui penggalan perenungan untuk bisa Bahagia.

Terutama aku kali ya… hehehe. Bagaimana bisa menghadapi & mengatasi ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan & berbagai masalah dalam hidup ini.

Semoga ‘Belajar Bahagia’ bermanfaat & happy reading! Dian. https://youtu.be/hWXJXR_cDFM

 

Resensi Buku Belajar Bahagia
Dian Syarief & Eko Pratomo (Syamsi Dhuha, 2015)

Bahagia itu tidak sulit dan bisa dipelajari dari orang terdekat kita, salah satunya pasangan. Itulah yang tampaknya ingin disampaikan oleh pasangan luar biasa, Dian dan Eko, lewat buku ini untuk memaknai 25 tahun pernikahan mereka. Buku ini merupakan kumpulan renungan mingguan yang ditulis masing-masing dan dibagikan kepada para sahabat mereka via email atau sms. Dikemas menarik dengan dua sisi sampul berbeda yang menggambarkan karakter pribadi mereka (renungan Dian bersampul kuning terkesan “fun” disertai gambar yang colorful, sedangkan renungan Eko bersampul hijau yang terkesan lebih serius karena hanya berisi tulisan hitam putih). Membaca buku ini seringan membaca novel cinta, namun sarat makna yang menyadarkan kita akan arti cinta sejati. Bahwa sebuah pernikahan abadi itu, seperti salah satu judul renungan Dian, “Tak Cukup Dengan I Love You”, tapi bagaimana bertumbuh bersama menjadi (pasangan) seperti yang Tuhan inginkan.

Shinta Kusuma – Penulis lepas & konsultan media dari Ideas Strategy

 

Kalaulah ini sebuah sekolah, maka mata pelajaran utamanya adalah ‘Bagaimana mengambil hikmah dari semua peristiwa’. Prinsip utamanya, ‘Raga boleh rusak, namun jiwa harus tetap utuh dan mengkilat saat menghadap-Nya’. Sedangkan sasaran utamanya, ‘Mendapatkan ridho Allah SWT agar mengizinkan dan menerima mereka menjadi penghuni surga’. Simple dan tidak muluk-muluk, memang!

Membaca buku yang diterbitkan sebagai kado ulang tahun pernikahan perak Eko Pratomo dan Dian Syarief dengan format dua muka (Muka Eko & Muka Dian) ini serasa kita sedang mengintip kehidupan sepasang manusia dengan karakter yang bertolak-belakang, namun bertekad (dan berhasil) menjadi soulmate, menjadi penutup kekurangan masing-masing, bahkan berusaha keras untuk menjadi pembimbing masing-masing pihak untuk makin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Di sisi Dian yang saya kenal sejak ketika masih berkarier di dunia perbankan belasan tahun lalu, jelas sekali terlihat pribadi yang manis menyenangkan, enerjik, jujur, pekerja keras, juga sedikit manja dan pandai bergaul. Catatan-catatan kecil yang pernah ditulisnya dan dibagikan melalui mailing-list Yayasan Samsi Dhuha dan dihimpunnya sejak lima tahun terakhir ini, disajikan dengan ilustrasi karikatur lucu serta diberi warna-warni cerah. Pemilihan karakter hurufnya pun menambah kuat kesan ini santai, gembira, manis, dan manja.

Isinya, sebagian besar adalah curhat Dian kepada Tuhan-Nya dan sebagian lagi doa yang diawali pengakuan kelamahan dirinya sebagai manusia. Pembaca akan hanyut dan merinding membaca curhat-curhat itu, karena pada dasarnya apa yang disampaikan Dian kepada Tuhan-Nya itu, sebenarnya juga adalah masalah diri kita, diri semua manusia di muka bumi ini. Doa yang dipanjatkan Dian juga bisa kita jadikan sebagai doa kita. Coba simak yang sepenggal ini,

“Sering kumerasa banyak kesia-siaan dalam hidupku karena kelalaian dan kebandelanku. Tapi di setiap titik kesadaranku, kubersegera mohon ampunan dan pertolongan-Nya sepenuh langit dan bumi, agar ketaatanlah yang kuraih dan kebaikanlah yang kuperoleh di ujung akhir hdupku. Ya Allah, jadikanlah sebaik-baiknya umurku pada ujungnya. Sebaik-baik amalku pada ujung akhirnya dan sebaik-baik hariku adalah pada saat aku menemui-Mu” (Taubatku-hal-47 sisi Dian Syarief)

Sedangkan di sisi Eko yang seorang suami dan pemimpin keluarga, tentu saja harus menjadi lelaki tegar yang bisa dijadikan tempat bergayut, tempat berlindung, dan tempat merebahkan diri bagi Dian yang sejak beberapa tahun ini harus ‘bersahabat’ dengan penyakit Lupus hingga membuat tubuhnya lemah, bahkan penglihatannya nyaris hilang sama sekali.

Kalimat-kalimat Eko hampir semuanya merupakan penyemangat dan nasihat bagi Dian (juga bagi pembacanya) untuk tegar dan menjalani semua cobaan ini dengan penuh tawakkal. Nasihat itu bukan hanya kalimat-kalimat tak bermakna, tetapi tersaji lengkap dengan ilmu, pengalaman, serta contoh-contoh kasus yang nyata.

Mari kita lihat secarik catatan Eko yang ditulisnya dalam mailing-list, “Tuhan tidak menimpakan sakit dan ketidaknyamanan hanya untuk melahirkan keluh-kesah, tetapi untuk memberikan kesempatan kita kembali mengingat-Nya karena Dia ingin menghapus sebagian khilaf, salah, dan dosa yang pernah kita lakukan. (Sakit Itu Juga Baik –hal 32-sisi Eko Pratomo).

Sangat banyak point yang bisa diambil untuk mencerahkan bathin kita bila membaca buku yang disajikan dengan teknik tulisan-tulisan pendek tanpa mengikat ini. Kita tak perlu membaca secara kronologis dari awal sampai akhir karena memang tak ada awal dan akhirnya, tapi kita bisa memilih topik-topik yang kita sukai sesuka hati.

Satu-satunya kritik untuk buku setebal sekitar 400 halaman ini adalah bobotnya yang terlalu berat sebagai handbook. Mungkin karena penerbitnya ini menyajikan kertas yang licin mengkilat supaya ilustrasi berwarna menjadi cerah, tetapi membuat tas saya terasa berat ketika membawanya.

Jakarta, 31 Desember 2015

Asri Aditya – Jurnalis

Pesan Kesan Buku Belajar Bahagia

“Bukunya unik & menarik. Akan masuk di majalah Investor terbitan Januari 2016″ – Putu Anggraeni, Jkt 

 

“Bukunya bagus & inspiring. Thanks for sharing, sometimes you don’t realize what is the impact, I believe both of you have touched & inspired sooo many people… Untuk yg kurang suka baca buku, ini enak karena tulisannya pendek” – Laila Panchasari, Bdg

 

Thank you buat Buku Belajar Bahagia-nya yang Fun tapi sangat inspiratif!! Love it!

Salah satu cerita Dian yang berkesan buat saya adalah Me and the Mouse, dimana suatu malam Dian ‘diajak bermain oleh tikus’ yang sempat membuat Dian panik… tapi akhirnya Dian memaknai kejadian itu secara luar biasa…

Tak ada kejadian yang kebetulan. Tentu ada pesan Tuhan melalui kejadian malam itu. Hal pertama yang kumaknai adalah betapa mudahnya aku panik saat merasakan ada yang kotor secara fisik. Tapi bagaimana jika yang kotor itu adalah hati atau jiwaku?”….”itu seperti ajakan bagiku untuk membersihkan hati yang terkotori selama ini dengan amarah, riya, sombong dan iri. Tapi pesan Tuhan memang singkat saja, tak berlebihan.

Salah satu cerita Mas Eko yang saya sukai adalah Melayani dengan Hati.

Hidup ternyata memang untuk melayani karena sebenarnya sepanjang kehidupan kitapun dilayani oleh Yang Maha Kuasa.”… “Allah tidak pernah lelah melayani kita karena Dia melayani dengan sepenuh hati. Maka jika kita ingin melayani……. kita perlu melayani… dengan sepenuh hati.

Thank you sudah mau berbagi ya…. Berbagi memang indah.. Yuukkk sahabat, kita ikutan berbagi untuk SDF dengan membeli buku Belajar Bahagia yang SUPER!!! – Cara Mariko, Jkt

 

“Bukunya bagus, ringan, enak dibacanya… isinya ngena bangettt“ – Ina Unus, Bogor

Bagi yg berminat miliki buku ‘Belajar Bahagia’, CP : Dewi-SDF : 0813 2050 9446

One thought on “Buku "Belajar Bahagia"

  1. iwan berkata:

    wih mantep ni bukunya menginspiratif bangettt 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *