Belajar Bahagia Dimanapun Berada

Sahabat tercinta,

Selasa 18 Oktober 2016 yg lalu, SDF diundang tuk berbagi kepada para Ibu Dharma Wanita Protokol Konsuler Kemenlu RI. Ada rasa haru yg terselip saat memasuki area Taman Pejambon dimana Kemenlu RI berlokasi. Terbayang saat berada di luar negeri (LN), rasa cinta tanah air yg menguat, kerinduan akan Ibu Pertiwi & rasa bangga ketika bisa menggemakan nama Indonesia di pentas dunia. Pernah kubayangkan, bagaimana ya rasanya menjadi diplomat Indonesia yg bertugas di mancanegara. Nah rasa seperi itulah yg kubawa saat penuhi undangan acara tersebut.

‘Belajar Bahagia’ adalah topik yg akhirnya dipilih para Ibu, setelah sebelumnya sempat berwacana untuk topik ‘Lupus the great imitator’. Ternyata topik bahagia akhirnya mengalahkan rasa keingintahuan akan Lupus. Para Ibu merasa bahwa penting juga untuk memperjuangkan kebahagiaan mereka, tak hanya saat mendampingi suami bertugas di LN, tetapi juga saat berada dalam masa penantian sebelum penempatan di pos-pos yg ditetapkan. Masa penantian penempatan ini, bisa sebentar bisa juga lama. Inilah situasi yg sering dapat membuat kebahagiaan mereka melayang. Hal lain adalah jika sampai harus berpisah jarak & waktu dengan suami atau anak karena situasi yg tak memungkinkan bersama. Entah karena pos penempatan yg bersifat bahaya sehingga tak memungkinkan para diplomat ini membawa keluarganya atau karena kondisi putra-putri yg karena kepentingan studinya tak mungkin ikut orang tuanya bertugas di LN. Hal lain adalah ketika para Ibu ini harus mendampingi para suami yg ditempatkan di pos/negara yg situasi & kondisinya kurang menguntungkan. Misalnya di negara2 Afrika, dimana virus Ebola pernah mewabah, perang saudara tengah berkecamuk dll. Namun disamping kisah duka, tentulah ada juga kisah sukanya. Ada yg berpengalaman dilayani oleh bangsa Eropa Timur yg berprofesi sebagai supir atau asisten rumah tangga saat ditempatkan sebagai Corps Diplomatic di negara tersebut. Merasa tersanjung karena mendapat panggilan Madam…..

Untuk bisa belajar bahagia dalam kondisi apapun seperti yg digambarkan di atas, tentulah harus dibangun kesadaran untuk belajar bersabar, belajar bersyukur, banyak memberi daripada meminta atau berharap & tentu saja yg terpenting adalah belajar bertawakal 100% kepada Sang Maha Bijak, Sang Maha Pintar yg paling mengetahui apa yg terbaik untuk kita. Saat kita menginginkan sesuatu, yg dapat kita lakukan adalah berikhtiar terbaik semampu yg kita bisa kemudian menyerahkan hasilnya kepada Yang Maha Kuasa disertai doa : ‘Ya Allah jika ini baik… dekatkanlah, namun jika ini buruk… jauhkanlah. Karena sesungguhnya Engkaulah yg paling tahu apa yg terbaik untuk kami…..’  Saat kita telah total berserah diri, tidak ada yg dapat membuat kebahagiaan kita melayang atau terampas….. Dan sesungguhnya kita sendirilah yg menghadirkan rasa bahagia itu dalam hati kita.

“It isn’t what you have, or who you are, or where you are, or what you are doing that makes you happy or unhappy. It is what you think about.” (Dale Carnegie)

Salam bahagia,

DSP

kemlu-4

Belajar Bahagia by Dian Syarief

kemlu-3

Serius menyimak

kemlu-2

Tepuk salut!

kemlu-5

Belajar Bahagia untuk semua

kemlu-1

L for Love… Cinta Ilahi yang lahirkan cinta sesama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *