Sehat Jiwa Raga & Menjadi Pahlawan Diri

Jelang Hari Kesehatan Nasional & bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November 2016, Auditorium Sabang Kantor Pusat DJBC pagi itu telah dipadati para peserta acara yg ingin berinteraksi dalam acara talk show ‘Tak mudah patah, tak mudah menyerah’. Setiap momen dalam kehidupan kita dapat dimaknai dengan menyelam lebih dalam, sehingga setiap waktu tak berlalu begitu saja tanpa pesan & kesan. Melalui sesi talk show pagi itu, peserta diajak tuk berkontemplasi tuk menjawab beberapa pertanyaan :

  • Lebih penting manakah, kesehatan raga atau kesehatan jiwa?

Tiap kali berbicara tentang kesehatan, maka fokusnya adalah : kesehatan raga. Padahal raga atau jasad ini hanyalah sekedar casing yg membungkus Sang Jiwa. Seringkali kita fokus pada bungkus, sedang isi terlupakan. Padahal hakikatnya kita adalah Sang Jiwa yg tak pernah mati. Sang Jiwa inilah yg diperjalankan mulai dari alam ruh, alam janin, alam dunia, alam barzah & alam akhirat. Raga kita hanya dibutuhkan saat berada di alam ke 3 saja & begitu berpindah ke alam ke 4, raga yg selama hidup diprioritaskan tuk dijaga & dirawat kesehatan maupun keindahannya itu akan membusuk & menjadi hidangan cacing tanah & musnah. Namun Sang Jiwa akan tetap hidup tuk teruskan perjalanan ke alam terakhir, alam terminal, alam keabadian. Disanalah Sang Jiwa akan menikmati reward atas segala amal shalihnya semasa di dunia atau justru sebaliknya punishment atas amal salah yg dikerjakannnya semasa hidup. Kalau sudah begitu manakah yg lebih penting, raga atau jiwa kita?

Ya memang semasa hidup kita harus menjaga kebersihan, kebugaran & keindahan raga kita melalui olahraga & pola hidup sehat. Namun yg tak boleh terlalaikan adalah olahrasa  & membangun kesadaran untuk taat pada setiap aturan main Sang Pemilik jiwa raga ini. Berusaha tuk selaras dengan kehendak Sang Pemilik. Karena Dialah kita ada. Pertanyaan pertama yg harus dijawab adalah : untuk apa Dia menghadirkan kita di alam ke 3 ini? Saat menyadari bahwa tak ada yg kebetulan dari setiap penciptaan kejadian, maka kita akan tertuntun tuk menjadi seorang pengabdi yg selalu berusaha menyelaraskan perilaku kita dengan keinginan Sang Pencipta. Kesehatan jiwa menjadi prioritas, karena melalui jiwa yg sehat ini, otomatis akan menuntun pada raga yg sehat pula. Melalui kesadaran bersyukur akan berusaha merawat amanah raga, melalui kesadaran bersabar akan berikhtiar sebaik yg kita mampu saat raga sakit & kemudian serahkan hasilnya kepada pengaturan terbaik Sang Maha Pintar & Sang Maha Bijak. Dengan demikan, seberat apapun ujian sakit yg harus dijalani semasa hidup, tak akan merampas kebahagiaan & semangat hidup yg dimiliki. Sadar penuh bahwa memang hidup adalah untuk diuji. Walau melalui penyakit, yg diuji dengan ketidaknyamanan adalah raganya, namun sebenarnya pada hakikatnya yg diuji adalah jiwanya. Jika jiwa ini kalah, maka akan kalah juga raganya. Namun sebaliknya, jika jiwa ini tak mudah patah, tak mudah menyerah, maka akan selalu ada jalan ikhtiar tuk berjuang hadapi seberat apapun penyakitnya. Kalaupun pada akhirnya harus kalah dalam perjuangan tersebut, maka akan kalah secara terhormat bukan kalah karena menyerah akibat keputusasaan. Tak pernah berputus asa pada Rahmat Sang maha Kuasa akan menjadi obat mujarab yg akan selalu memompa semangat.

  • Pentingkah kita untuk menjadi Pahlawan?

Pertanyaan ini tentu saja menggelitik & membawa kita ke pertanyaan berikutnya : pahlawan apa & pertempuran apa yg harus dimenangkan? Jawabannya adalah menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri. Saat kita berhasil memenangkan pertempuran terbesar yg pernah ada selama kita berada di alam dunia yaitu : pertempuran melawan hawa nafsu & ego kita. Musuh bebuyutan kita ini hanya dapat dikalahkan dengan membangun kesadaran & membenamkan berbagai keyakinan Ilahiyah yg menjadi senjata pamungkas tuk membawa kita pada ketaatan  hanya kepada Sang maha Kuasa.

“Never stop dreaming, never stop believing, never give up, never stop trying, and never stop learning.” ― Roy T. Bennett, The Light in the Heart

Salam Never give up!

DSP

sehat-4

Para peserta yang memadati auditorium

sehat-1

Sesi 1 : ‘Osteoporosis pada Rahang Tulang’ by DR. Drg. Maria G, SpBM

sehat-5

Ice breaking : ‘Care for Lupus, your caring saves lives’ by all participants

sehat-2

Sesi 2 : ‘Tak mudah patah, tak udah menyerah’ by Dian Syarief

sehat-3

Interaksi peserta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *