Weekend Notes

DSP’s Weekend Notes

Duh senengnya jadi Blackberry. Betapa tidak? Selalu mendapat perhatian penuh, selalu bersama dan dalam genggaman hangat sang empunya, selalu dipijit-pijit… aah! Andai aku jadi BB, predikat jablay pun tanggal (Intermezo Kuta).

Kado

Tubuhku yang lunglai petang itu seolah bertenaga lagi saat kuterima kado berbalut artistik dan boneka kecil bersayap kupu-kupu. Ah lucunya! Senyumku terkembang, hatiku berbunga. Ternyata bukan hanya ‘boys are boys, they like to play with their toys’. Umurku seakan tanggal. Hanya kepala 4-nya saja. Buntut 6-nya hilang entah kemana. Syik… aasyik, ternyata ‘girls are girls, they like to play with their dolls’. Trims Dea untuk kado yang mengesankan… hanya perlu 1 kejutan kecil di pintu hati… Trims Bapak dan Ibu untuk kenangan manis masa kecilku. Love you!

Saat sahabatku harus gunakan kruk karena jatuh, barulah kuhayati betapa nikmatnya bisa berdiri dan berjalan tanpa harus gunakan penyangga tubuh yang melelahkan itu. Bagaimana dengan sahabat-sahabatku yang lumpuh kakinya, saat butuh sesuatu dan tak ada alat bantu dan tak ada yang membantu? Tersadarkan lagi aku atas : kebersyukuran itu…

Kuncup melati itu telah gugur sebelum sempat mekar… Penciptanya ingin sang kuncup melati ini tetap putih, bersih dan suci. Dia memilih gadis kecil 9 tahun 9 bulan ini untuk menjadi bidadari di surga… Selamat jalan sahabat Dayita Lubna. Walau aku hanya sempat mendampingimu kurang dari seminggu, namun usia beliamu tak kan sia-sia. Kami akan teruskan perjuangan dengan tetap berikhtiar dan bertawakal 100% kepadaNya. Teriring doa dari para sahabat Odapus SDF.

Ya Allah, jangan biarkan kami dalam kesendirian tanpa bimbinganMu… Setiap detik hidup kami adalah penugasan dariMu. Selalu ada maksud baikMu dengan berikan kesempatan hidup dan perpanjangan waktu bagi kami. Bantulah kami untuk membuka hati kami guna memaknainya. Terbuka jalan untuk lakukan yang Kau inginkan dan bukan yang aku inginkan… Karena sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah untukMu… Wahai Sang Penggenggam Jiwa…

Petikan harpa yang berpadu dengan gesekan Cello itu mengalunkan ‘The swan’’ hadirkan keindahan yang gelitik hati tuk tersenyumm… ikut menari bersama angsa putih di atas danau. Dawai hati bergetar sadari kasih sayangNya menyelimuti alam semesta. CahayaNya yang membahagiakan hati yang selalu tertaut kepadaNya Have a blessed and beautiful day!

Kita berenang dalam lautan cintaNya… Karenanya kita tak kan pernah berkekurangan. Dia Maha Pemurah, Maha Penyayang. Dia selalu menjaga dan mengawasi kita. Betapa hangat dan damainya kita dalam pelukanNya… karena itu jangan panggil aku si Jablay. Karena Dia selalu membelaiku dengan karuniaNya…

 

DSP’s Weekend Notes

‘Me & the mouse’ : Tengah malam itu kuterbangun karena ingin ke kamar mandi. Suasana begitu hening, ketika kusempatkan mereguk air minum di ruang makan dan segera kembali ke ruang tidur. Saat kubungkukkan badan tuk kembali ke tempat tidur, aku kaget setengah mati saat kurasakan ada sesuatu yang merayap di punggungku. Sesuatu itu bergerak-gerak dan membuatku menjerit panik. Meski kuberusaha mengeluarkannya, namun sesuatu itu tetap menari-nari di punggungku. Membuatku kelabakan hingga tanpa sadar menarik kelambu sampai runtuh. Suamiku yang terbangun karena kehebohan itupun segera berusaha membantu untuk mengeluarkan sesuatu itu. Tak pernah kualami kondisi sepanik waktu itu, serasa berabad-abad sehingga akhirnya sesuatu itu lepas dan segera hilang dari pandangan. Aku terkulai lemas dan suamiku segera memeriksa kondisi tubuhku “syukurlah tak ada bekas gigitan atau yang lainnya”, tuturnya menenangkanku yang masih mengatur nafas yang memburu. Ya Allah, ternyata seekor tikus got rupanya menjadi tamu tak diundang malam itu dan membuat kegaduhan yang tak terbayangkan sebelumnya. Inilah pengalaman pertamaku bersentuhan fisik dengan seekor hewan yang terpersepsikan menjijikkan karena hidup di got dan tempat kotor lainnya.

Setelah kehilangan 95% penglihatan, beberapa kali memang aku nyaris bersentuhan dengan binatang yang dapat berbahaya seperti : kalajengking dan bunglon. Namun selama ini terselamatkan karena intuisiku yang berjalan disaat genting, untuk akhirnya tak jadi melangkah atau menyentuhnya. Malam itu sebenarnya aku dan sang tikus terjebak dalam situasi yang tak menguntungkan. Sang tikus yang salah masuk kamar, kaget melihatku, tak temukan jalan keluar dan akhirnya memanjat kakiku dan bertengger di punggung. Aku tentu saja tak siap dengan permainan itu, apalagi dengan temaramnya cahaya lampu dan keterbatasan penglihatan yang membuat semuanya lebih menakutkan. Selang beberapa hari setelah kejadian itu aku demam, adikku yang dokter sempat berpikir kemungkinan akibat insiden tikus yang kemudian ternyata karena Lupusku yang bergejolak. Dari kejadian itu kutersadarkan bahwa boleh jadi adegan yang terlihat lucu saat seseorang dilanda kepanikan, sebenarnya tak lucu bagi yang mengalami dan tak layak juga untuk ditertawakan, karena yang terasa setelah kejadian tersebut adalah rasa sakit akibat terjatuh atau terkilir karena gerakan refleks yang tak terkontrol. Pun image tikus lucu seperti Mickey Mouse atau Minnie Mouse yang berpita merah pun jauh sekali dari kenyataan saat bersentuhan langsung dengan tikus got atau mencit putih yang dulu sempat kutemui saat praktikum farmakologi di lab dengan aromanya yang tak terlupakan hingga kini.

Tak ada kejadian yang kebetulan. Tentu ada pesan Tuhan melalui kejadian malam itu. Yang pertama kumaknai adalah betapa mudahnya aku panik saat merasakan ada yang kotor secara fisik. Tapi bagaimana jika yang kotor itu adalah hati atau jiwaku? Tenang-tenang saja tuh dan tetap nyaman…. Kubiarkan hatiku terkotori dan tak merasa terganggu karenanya…. Kejadian menjelang Ramadhan itu seperti ajakan bagiku untuk membersihkan hati yang terkotori selama ini dengan amarah, riya, sombong dan iri. Tapi memang pesan Tuhan singkat saja, tak berlebihan. Sang tikus tak menggigitku yang bisa berakibat terjangkit penyakit Pes, karena Tuhan tahu kapasitasku hanya cukup untuk Lupus yang bergejolak. Seharusnya aku tak hanya mengenang aroma mencit putih yang tak sedap, tapi juga mengenang jasa sang mencit putih yang sering dikorbankan untuk kepentingan penelitian ilmu pengetahuan….

 

DSP’s Weekend Notes 

’Maafku, kebahagiaanku’ : Kita sangat mudah minta maaf pada orang yang jarang bertemu atau berinteraksi dengan kita…. Bahkan mungkin sebenarnya tak ada yang perlu dimaafkan. Tapi bagaimana dengan orang yang memang bermasalah dengan kita? Sudahkah kita mohon maaf kepadanya? Atas kekotoran hati kita yang menjelma menjadi perlakuan dan perkataan yang kasar, buruk atau menyakitkan hati. Bahkan kadang jika tak terucapkan pun, hati kita dipenuhi dengan ketidak-ikhlasan, kecemburuan dan iri hati. Seringkali justru sangat berat untuk minta maaf, karena kita tak merasa bersalah dan justru dialah yang bersalah. Lidah terasa kelu, sikap terasa kaku untuk mengakhiri kebekuan yang terjadi dan berani memulainya dengan sebuah permohonan maaf…. Anggaplah kita sudah mampu minta maaf….

Sand

Bagaimana pula dengan PR kita untuk memaafkan? Tuhan saja yang Maha Besar sering mengampuni dosa kita. Mengapa kita terlalu jumawa untuk memaafkan orang lain? (siape loe). Bahkan kita diajarkan untuk berbuat baik kepada orang yang mendzalimi kita…. Sepertinya memang tak masuk akal. Tapi jika direnungkan, terasa kebenarannya. Dengan memaafkan, balon amarah itu akan kempis, bongkahan dendam itu akan hancur, senyumku  pun terkembang lagi…. Tak ada lagi yang menyesakkan dada. Semua itu sebenarnya untuk aku sendiri. Untuk bersihkan hatiku dan lapangkan dadaku. Karena sebenarnya…. aku mampu melakukannya. Dengan kesadaran itu, memaafkan menjadi mudah. Karena mohon maaf dan memaafkan itu semuanya untukku. Untuk kebahagiaanku…. Kini dan nanti.

 

DSP’s Weekend Notes 

’Penugasan abadi’ : Penugasan dari manusia bisa berubah-rubah dan berakhir dengan segala implikasinya. Bervariasi tergantung selera Sang Pemberi Tugas. Bagian dari kefanaan dunia. Tapi penugasan dari Sang Pemberi Hidup tak pernah berubah…. Dia hanya ingin kita mengabdi kepadaNya. Penugasan yang abadi yang juklaknya tak pernah berubah dan selalu ada dalam balutan kasih sayang serta curahan RahmatNya. Sebuah pengabdian yang menjamin kebahagiaan dunia dan pertemuan agung denganNya… Sudahkah aku menjadi seperti yang Dia inginkan? Sudahkah kulakukan tugasku seperti yang Dia mau?

Inspirasi lagu : Tak apa listrik Dago suka mati, yang penting cintaku padamu tak pernah padam. Tak apa tak kebagian diskon belanja, yang penting separuh aku adalah dirimu.

Iya ya kematian itu kiamat kecil…. yang satu bikin pindah alam ke barzah, yang satu ya bikin kita semua bedol deso ke akhirat. Tapi kedua-duanya sama-sama bikin kita kehilangan peluang kumpulkan bekal pulang. Jika sudah begitu kiamat mah bener di depan mata ya…. Bahkan kitapun sudah bisa hadirkan surga di dunia dengan Rumahku Surgaku atau justru  sebaliknya…. Nidji-pun berlantun : ‘Perangi neraka di dalam hatimu, damaikan jiwamu dengan cinta Dia…. karena Tuhanlah Maha Cinta’.

Jurus lain buka hati : Hi Bro!…. serius nie mau matiin rasa loe? Dengerin nie kata Boyzone : You’ll never live until you love with all your heart and soul’, manzstap khan? Lagian loe khan  memang Sang Jiwa, body loe cuma casing doank…. So jangan takut untuk full of love. Karena as soon as loe open heart, loe maunya Cuma senyam senyuumm dan bilang : everyday I love you….

Jam-Pasir

Alarm-ku berbunyi: Rambut putihku terus bertambah,  kelopak mataku terus mengeriput, sendi tubuhku melemah dan aneka ketidaknyamanan fisik lainnya. Itulah cara Sang Maut memperingatkanku bahwa jatah waktuku berkurang…. Ya Allah, di sisa usia ini mudahkanlah aku untuk tangkap setiap peluang pahalaMu. Tak ada kesia-siaan dari apa yang kulakukan. Tak ada pesanMu yang salah kuartikan dan tak ada kelalaian yang tak kusadari. Betapa pentingnya aku untuk selalu sadar dan terhubung denganMu, karena itulah  yang akan menjaga ketenanganku dan…. akhiratku.

Bacalah : Saat hujan turun dengan deras dan air menggenang serta meluap kemana-mana, ku diberi rasa itu…. betapa panik mereka yang terkena banjir. Berusaha selamatkan harta benda dan nyawa. Betapa air sang pemberi hidup, juga bisa menjadi sang pencabut hidup. Saat keseimbangan alam terganggu, saat kita menzalimi diri kita sendiri  atau Dia turunkan azab atas semua perilaku kita yang undang murkaNya. Betapa banyak ayat-ayatNya yang bertebaran di setiap kejadian…. betapa pentingnya kita dapat membaca itu semua, beroleh kepahaman dan bertambah ketaatan….

 

DSP’s Weekend Notes 

Sahabat tercinta, tak semua pesan kesan sahabat sekalian yang dapat dibagikan atas apresiasi yang diberikan Badan Kesehatan Dunia (WHO) kepada kita semua. Namun apa yang kita ikhtiarkan bersama sungguh merupakan sebuah simfoni yang indah. Ada dokter yang berusaha menyelamatkan jiwa pasiennya, ada relawan yang menyumbangkan tenaga & pikirannya, ada donatur yang mendukung dengan titipan rejeki yang Tuhan berikan, ada pendukung yang selalu menyemangati & bersimpati, ada media yang menyuarakan kepentingan banyak orang & tentunya ada yang memiliki keterbatasan fisik tapi tak membatasi semangatnya untuk terus berjuang.

Apresiasi WHO dimaknai sebagai campur tangan Tuhan yang terus bekerja & memberi lebih banyak dari apa yang telah kita kerjakan bersama. Dia senang atas kebersyukuran kita, Dia senang kita taat kepadaNya dengan selalu berikhtiar & menyerahkan kembali segala sesuatunya pada pengaturan terbaikNya. Dia senang kepada para dokter & peneliti yang mau menggali ilmunya & memanfaatkannya untuk sesama. Dia senang kepada para relawan yang mau bekerja tanpa pamrih semata-mata hanya karenaNya. Dia senang pada para donatur yang menafkahkan hartanya di jalanNya. Dia senang kepada para pendukung & media yang selalu menggunakan suara hati & nuraninya. Dia senang kepada hambaNya yang mau menyelam lebih dalam untuk memperoleh mutiara hikmah & tak sekedar hanya sibuk dengan kejadiannya semata atau hanya terjebak pada segala sesuatu yang kasat mata. Semoga apresiasi WHO dapat menyemangati kebermanfaatan kita semua.

Kebenaran yang tak nampak akan menjadi sumber kekuatan bagi kita semua. We are not just human beings, we are spiritual beings…. Ketika kita menjadi seorang visioner sejati yang mampu melihat masa depan yang berdimensi akhirat, kita akan menyadari bahwa kita adalah Sang Jiwa, yang akan terus hidup melintasi ruang & waktu*.

* Ps : nanti kita reunian di sana yuk, now urunan dulu beli tiketnya dengan beramal soleh bersama….. tosh!

 

DSP’s Weekend Notes 

Soulmate’ : Suatu pagi di musim panas yang cerah itu, sepasang kakek dan nenek duduk berdua menikmati hangatnya sang mentari. Terlihat mesra dan berbahagia. Saat seorang wanita muda bahenol melintas di hadapan mereka, tak urung sang kakek mengalihkan perhatiannya dari sang nenek ke  arah wanita muda tersebut. Pandangannya terarah ke sang wanita muda hingga sosoknya berlalu. Adegan itu sempat terekam oleh kamera suamiku yang membuatnya tertawa geli dan menceritakannya kepadaku. Aku pun teringat pada salah seorang sahabat priaku, saat kami sama-sama masih bekerja di Bank dulu. Sahabatku ini dengan sorot matanya yang tajam tak pernah melewatkan setiap kesempatan jika ada nasabah kami yang rupawan. Pernah suatu kali saat kududuk di depannya dan kemudian ada seorang wanita menarik lewat di depan kami, aku secara intuitive menoleh ke belakang : benar saja sahabatku itu dengan sangat fokus tengah memandangi wanita tersebut. Sang kakek dan sahabatku adalah tipe pria yang setia dengan pasangannya. Sekedar menikmati ciptaan Tuhan yang indah, tak apa kan?. Bagiku pasangan romantis adalah pasangan yang seperti kakek nenek tadi yang masih bisa menikmati waktu berdua, ngobrol apa saja dan menjadi sahabat sejati. Pula saat seorang kakek yang lain bercerita betapa dia masih bisa melihat kecantikan sang nenek diantara lipatan keriput wajahnya. Sang nenek pun dengan berseri bercerita bahwa sang kakek kerap membantunya memakaikan kerudung, saling meledekpun sudah biasa bagi mereka berdua. Ah! Betapa mesranya mereka…..

Tanpa terasa kebersamaan kami merangkak ke seperempat abad. Jika Tuhan masih terus meminjamkan umur kepada kami, bukan tak mungkin setengah abad kebersamaan kami pun akan teralami. Seperti apa ya kami di usia kepala 7 nanti? Masihkah kami bersahabat dan bisa pacaran?. Saat itu seharusnya menjadi puncak dari semua pembelajaran hidup yang dilalui bersama. Menjadi pribadi yang matang dan miliki bekal yang cukup untuk pulang. Secara fisik sudah barang tentu banyak alami kemunduran, tapi sebagai pasangan jiwa seharusnya berada pada titik yang terbaik. Semoga kami bisa terus menjadi pakaian yang saling menutupi kekurangan masing-masing dan terus saling mengingatkan. Bawa daku ke surga sayang…..

 

DSP’s Weekend Notes 

Refleksi hari Kartini : Inginkah aku termasuk wanita CPS? Sebagai istri, copy paste-lah bunda Khadijah, penyejuk hati & tetap dicinta walau sudah tiada. Sebagai wanita tangguh copy paste-lah Bunda Hajar, yang tidak mudah patah tidak mudah menyerah, mulia di mata Allah. Menjaga kesucian diri & hati ? Bunda Maryam inspirasinya…… sudahkah aku shalihah seperti mereka ? Katanya kan ingin jadi calon penghuni surga……

Pujian adalah penyembelihan. Kritikan adalah penyelamatan. Tak nyaman memang dikritik. Apalagi jika selama ini aku selalu merasa benar. Padahal aku tak akan bisa melihat diriku sejelas orang lain. Bersyukur ada orang yang peduli & menyayangiku. Ingin menyelamatkanku. Ada bercak di paru-paruku, ada alarm untuk lebih fokus ke kalbuku. Hubungan denganNya adalah yang terpenting…. Terlalaikan selama ini. Terlambatkah aku ? Nafas yang masih ada menjadi penanda bahwa Dia masih beri kesempatan itu. Sungguh tak kan kusia-siakan……

Kiriman sahabat : Mintalah petunjuk pada jiwamu. Mintalah petunjuk pada hatimu. Kebaikan adalah sesuatu yang menenangkan jiwa & menentramkan hati. Sedangkan kejelekan selalu menggelisahkan jiwa & menggoncangkan hati. (Rasul SAW)

Subhanallah……. betapa Dia Maha Berkehendak. Ternyata perasaan bisa lebih dengar saat Tafakuran Sabtu yang lalu, benar adanya. Gendang telinga kiri yang pecah kata Spesialis THT mulai menutup. Setelah setahun tak ada perkembangan & tak direkomendasikan untuk operasi. Ternyata ayat-ayatNya yang bergema di hatiku membias ke sana. Inilah skenario indahNya dengan menjadikanku half blind & half deaf. Agar aku dapat lebih melihat & mendengarkanNya. Dia berikan kepadaku jalan menuju ketaatan…..

Tubuhku menjadi alarm jika ada yang tak harmonis dalam sistemnya. Ada yang tak harmonis juga dengan jiwanya. Ada emosi yang tertahan, ada nafsu yang tersulut. Belum bisa menjadi jiwa yang tenang. Ada yang harus diperbaiki di bengkel hati. Harus turun mesin. Diganti dengan yang baru. Yang bersih. Yang ekskulsif hanya dinakhodai olehNya. Bukan oleh yang lain-lain yang salah arah, salah kaprah. Betapa selalu kubutuhkan obat hati & hidangan jiwa yang menyelaraskannya. Selaras dengan keinginan Tuhanku…..

Kiriman sahabat : Ilmu (agama) itu lebih baik dari harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta mesti engkau jaga. Harta akan berkurang ketika dinafkahkan, namun ilmu malah bertambah ketika dibagikan. (Ali bin Abi Thalib RA)

 

DSP’s Weekend Notes 

Karpet ajaib : Ini adalah sebuah tempat dan waktu yang luar biasa menenangkan dan membahagiakan. Di sepertiga malam, di atas hamparan sajadah…. Tak ada yang dapat melebihi  kenikmatan seperti itu. Segera setelah duduk di atasnya, dapat kurasakan dadaku mengembang dan hatiku tersenyuumm jiwaku terbang ke angkasa, meniti pelangi. Betapa Tuhanku Maha Indah…. Betapa Dia segera menghampiriku sesaat setelah terhubung denganNya. Sesaat setelah kubersihkan hatiku, tempatnya bertahta. Koneksi denganNya adalah yang terpenting…. Menjadi penerang jiwaku dan penjamin kebahagiaanku… Ah betapa nyamannya berada dalam pelukan Yang Maha Lembut dan Maha Kasih.

Galau : Iya ya, if aku kesal, kecewa dan sedih, sebenarnya aku sendiri yang rugi. Aku kotori hati dengan rasa-rasa seperti itu, biarkan diriku tak   bahagia, padahal waktuku terlalu berharga tuk sebuah kesia-siaan seperti itu. Padahal aku sendirilah yang tentukan kebahagiaan itu. Aku bebas pilih warna jiwaku hitam atau putih, rasa hatiku bahagia atau sedih. Betapa menyadari  semua itu penting, tuk perjuangkan kebahagiaanku dan akhiratku…..

Serunya hidup bersama dia & Dia. Hari ini genap 22 tahun kebersamaan kami dalam ikatan suci pernikahan. Sebuah ikatan yang tak terlihat tapi mengikat jiwa. Berikan ketenangan karena saling mengingatkan tuk   selalu mengingat Dia. Berikan pembelajaran karena bisa berenang bersama dan menyelam lebih dalam tuk dapat merasakan keindahan cinta Dia. Berikan kekuatan saat Dia berikan ujian kehidupan…. Ah saat aku dan dia bersabar dan bersyukur, kiranya Dia akan merahmati kami berdua. Oh…. I like Monday! 24 Desember 2012

 

DSP’s Weekend Notes 

Dia Menunggu : Ternyata Dia hanya akan beri petunjuk jika aku datang menghampiriNya. Bukan jika aku hanya sekedar kerjakan rutinitas dan tunaikan apa yang dirasakan sebagai kewajiban, tapi karena memang aku merasa butuh Dia….. Ingin dibantu dibukakan hatinya, ingin dibimbing, ingin bisa menjadi seperti yang Dia inginkan. Terhindar dari kegalauan, kelalaian dan kesia-siaan….. Life is too short to worry. Life is too precious to ignore…..

Sepasang mata itu : Aku terhenyak saat gadis kecil itu berada dekat sekali denganku dan aku dapat melihat siluet kedua matanya….. sepasang bola mata yang berbeda warnanya kiri & kanan….. mengapa? Karena saat sebelah matanya alami kerusakan akibat infeksi dan harus di transplantasi, stok yang tersedia di Bank Mata hanyalah yang berasal dari donor mata asing. Itupun sebenarnya sudah kadaluarsa namun kuasa Tuhan jualah yang memungkinkan penglihatan sang gadis dipertahankan dengan cara itu. Baru kali inilah aku melihat langsung penerima donor mata, sejak mengikhlaskan diri menjadi pendonor beberapa tahun yang lalu. Ada keharuan yang menyelinap di kalbu, saat kubayangkan meski sudah tiada nanti namun sepasang mata kita masih bisa bermanfaat bagi yang masih hidup, seperti gadis kecil itu. Menghantarkannya melihat dunia, menggapai mimpi dan meraih cita.

Kutahu yang kumau : Sesaat sebelum Sir Edmund Hillary menjejakkan kaki di puncak Mount Everest, sang pemandu Sherpa Tenzing Norkay menyurutkan langkah dan mempersilahkan Sir Edmund Hillary untuk mentasbihkan dirinya sebagai orang pertama penakluk puncak gunung itu. Tenzing Norkay sendiri memilih menerapkan filosofi telor mata sapi (yang dimakan mah telor ayam, tapi yang dapat nama dan jadi beken : sapi). Begitu naif kelihatannya, tapi memang persepsi akan melahirkan peristiwa. Yang perlu direnungkan adalah : apakah benar istilah menaklukkan puncak gunung? Karena gunungnya sendiri tak meminta atau menantang. Sepertinya yang benar adalah bagaimana kita menaklukkan ego saat berada di puncak…. Justru sepatutnya semakin merunduk, berlutut dan bersujud mengakui kehebatan dan kebesaran Sang Pencipta….. Semua akan termaknai jika kita berhenti sejenak dan bersedia berpikir menggunakan akal dan kalbu yang menjadikan kita  makhlukNya yang paling sempurna…..

 

DSP’s Weekend Notes 

Seringkali kulupakan tuk meluruskan niat tiap kali kukerjakan sesuatu semata-mata hanyalah karenaNya. Terjebak pada rutinitas dan serba otomatis. Bahkan tuk sebuah kebajikan pun, harus kupastikan bahwa itu murni karena Dia. Mengapa?  Agar hitungan detik hidupku tak menjadi sebuah kesia-siaan. Karena Dia kelak akan berkata : “Kau lakukan itu karena egomu, bukan untukku tapi untuk puaskan dirimu sendiri”. Jika tak terkotori nafsu dan murni karena Dia maka takkan ada beban tuk kerjakan apapun. Yang ada hanyalah kelapangan hati tuk persembahkan yang terbaik bagiNya. Fokus dan konsisten lakukan yang memang Dia inginkan dan menjadi seperti yang Dia inginkan pula…. Salam amal soleh

Detoks : Sejujurnya  lewat latihan kemarin aku diingatkan lagi tuk berhenti sejenak dan tersenyum…. Pegal yang terasa di pipi jadi indikator kekakuan otot wajahku yang jarang tersenyum, bawaannya  serius mulu. Lebih sering eksplorasi  akal daripada hatinya. Hati menjadi tak terlatih dan kurang peka. Betapa nyamannya berolah rasa, hati yang semula kuncup, jadi  mengembang. Dada terasa lapang dan berongga. Cahaya Ilahi pun masuk terangi hati yang terbuka untukNya. Dengan menghadirkan Tuhan, Dia pun bantu bersihkan kotoran yang ada di hatiku. Terasa    nyaman ketika hati ini bersih kembali dan bahagiapun datang……

Salah satu buku kenangan masa kecilku adalah ‘Tati Takkan Pernah Putus Asa’ – Luwarsih Pringgoadisurjo, Pustaka Jaya. Tokoh Tati itu gue banget J anti kemapanan, malas belajar dan akhirnya tak naik kelas. Beda sekali dengan tokoh Budi yang rajin belajar, anak baik-baik dan kesayangan guru. Saat kesadaran datang, Tati pun harus mulai dari awal tuk perbaiki segalanya. Berjuang membirukan rapornya yang merah dan berusaha keras agar bisa naik kelas. Siapa nyana inspirasi masa kecilku itu merasuk kedalam jiwa J saat harus hadapi ujian kehidupan, sikap yang terbentuk pun tak mudah patah, tak mudah menyerah. Akupun terobsesi untuk bisa naik kelas, menjadi aku yang lebih baik dari kemarin. Thanks Dad for giving me a such an inspirational book, love you !