Low Vision

SESEORANG dengan low vision (lovi) biasanya akan mengalami kendala dalam menjalani aktifitas sehari-hari. Ia mengalami kesulitan baca tulis, berjalan di tempat asing, atau mengenali wajah orang. Namun, lovi bukanlah buta total. Dia masih bisa melihat walaupun sangat minimal.

Apakah low vision itu?

Tidak banyak orang tahu apa itu low vision, meski jumlah penyandangnya di seluruh dunia enam kali lebih banyak dari buta total (totally blind), sekitar 295 juta jiwa (IAPB[1] – The International Agency for the Prevention of Blindness). Menurut definisi WHO, lovi adalah gangguan penglihatan berupa penurunan tajam penglihatan atau lantang pandang permanen setelah mendapat pengobatan maksimal maupun menggunakan alat optik standar.

Alat optik standar antara lain kacamata atau lensa kontak. Jika seseorang mengalami gangguan penglihatan namun masih bisa melihat dengan baik ketika dikoreksi dengan kacamata atau lensa kontak, maka dia bukan seorang penyandang lovi. Cara yang biasa dipakai dalam mengukur tajam penglihatan adalah dengan menggunakan Snellen Chart seperti terlihat dalam gambar berikut.

Berdasarkan hasil tes Snellen Chart, WHO mengklasifikasikan penglihatan sebagai berikut:

Normal vision: 6/6 hingga 6/18

Low vision : <6/18 hingga >3/60

Blind : <3/60

Sedangkan lantang pandang adalah luas area yang dapat dilihat seseorang tanpa menggerakkan bola matanya. Lantang pandang untuk mata normal adalah 180 derajat. Pemeriksaan dilakukan dengan cara merentangkan kedua tangan. Fokus penglihatan tetap ke depan. Seseorang yang mempunyai lantang pandang normal akan dapat melihat tangan kiri dan kanan tanpa harus mengerlingkan mata atau menoleh. Lantang pandang penyandang lovi sangat sempit sehingga seperti melihat dari lubang kunci.

Berikut beberapa contoh gangguan penglihatan pada penyandang lovi:

Penyebab low vision

Low vision menyerang tanpa melihat batasan umur,  bisa mulai sejak lahir hingga usia tua. Pada anak-anak, low vision biasa disebabkan gangguan kongenital (bawaan sejak lahir) atau kecelakaan.  Adapun pada usia tua biasanya karena penyakit degenerasi makula (age related macular degeneration/ARMD) atau diabetic retinopathy pada mereka yg mempunyai latar belakang diabetes melitus. Penyebab lainnya adalah katarak,  glaukoma, kekurangan vitamin A, infeksi, retinitis pigmentosa, trauma benda tajam/tumpul, kecelakaan, atau efek samping obat tertentu.

Gejala yang dialami oleh penyandang lovi tergantung dari kelainan yang ada, namun semua dapat berdampak pada aktivitas sehari-hari. Orang dengan keterbatasan penglihatan jauh akan sulit mengenali orang dan benda, susah memahami komunikasi non verbal, dan tidak mandiri mobilitas seperti menghindari rintangan atau saat menyebrang jalan.

Mereka yang menderita keterbatasan penglihatan dekat akan menemui kesulitan baca tulis, menjaga kebersihan pribadi, memilih dan menggunakan pakaian, makan dan minum. Dia juga sulit  mengerjakan hal  detail yang terkait profesi misalnya menjahit, memahat, dan lain-lain. Sedangkan mereka yang mempunyai keterbatasan lantang pandang akan kesulitan saat harus menemukan benda. Kemandirian mobilitasnya terganggu ketika pencahayaan berubah, berada di tempat asing, atau saat berada di lingkungan yang kompleks dan padat seperti suasana pesta dan pasar.

 

 

Bukan akhir dari segalanya

Meski terhambat dalam menjalani keseharian, menjadi penyandang lovi bukanlah akhir dari segalanya. Harapan selalu ada jika dia berikhtiar merehabilitasi fungsi penglihatan sesegera mungkin. Tujuannya bukan untuk memperbaiki fungsi penglihatan, namun  mencari alat bantu yang paling efektif untuk memaksimalkan sisa penglihatan. Dia juga harus beradaptasi agar dapat mempertahankan aktivitas harian, tidak tergantung dengan orang lain, serta meningkatkan kualitas hidup.

Alat bantu low vision sudah berkembang, dan digolongkan menjadi dua, yaitu alat bantu optik dan non optik. Alat bantu optik misalnya kaca pembesar (magnifier), teleskop, teropong, dan closed-circuit television (CCTV). Adapun, alat bantu non optik dari yang paling sederhana, yaitu  alat pengontrol silau, garis tebal pena dan kertas, pemandu menulis, jam dinding kontras. Juga ada berbagai alat elektronik lovi friendly yang dilengkapi suara, seperti jam tangan dan kalkulator. Alat yang paling canggih, yaitu program komputer dan telepon genggam bersuara. Seorang penyandang low vision tidak perlu takut gaptek. Hal yang penting adalah kemauan untuk mempelajari hal-hal baru.

Selain alat bantu, penyandang low vision  perlu beradaptasi dengan mengikuti latihan orientasi mobilitas agar bisa hidup lebih mandiri. Paling tidak, seorang penyandang lovi masih bisa melakukan aktifitas sehari-hari. Keluarga penyandang low vision harus mendukung dengan tidak bertindak over protektif. Perlindungan berlebihan malah akan memperburuk keadaan.  Bekali  penyandang low vision dengan berbagai pelatihan adaptasi serta menggali potensi diri agar hidup lebih mandiri dan berkualitas.

Perlu diketahui bahwa seorang anak penyandang low vision tidak harus bersekolah di sekolah luar biasa. Dia dapat bersekolah di sekolah umum dengan dengan menyesuaikan posisi dan lokasi tempat duduk,  juga menyesuaikan pencahayaan.

 

Pencegahan

Low vision tidak perlu terjadi jika kelainan pada mata segera terdeteksi, misalnya pada glaukoma dan katarak. Jika penderita datang ke dokter pada stadium awal, selain lebih mudah diobati, penyakit awal dapat dicegah agar tidak menjadi lebih parah. Perlu diingat, low vision dapat diketahui sejak anak-anak, sehingga orang tua dan para guru harus jeli pada perubahan sikap anak sehari-hari. Perhatikan, apakah anak memicingkan mata saat melihat atau menonton televise. Apakah dia melihat tulisan di papan tulis harus dalam jarak dekat, sering terjatuh dan tidak mengenali wajah orang. Semakin dini memeriksakan, semakin cepat penyandang low vision menemukan alat bantu yang sesuai dan beradaptasi dengan maksimal.

Selain itu, sangat penting untuk mengetahui pencegahan trauma pada mata agar cacat permanen dapat dihindari. Jika bekerja pada kondisi yang berisiko melukai mata, gunakanlah alat pelindung dengan baik dan benar. Jika trauma tidak bisa dihindari dan sudah terjadi, segeralah  pergi ke pelayanan medis untuk mendapat pertolongan pertama dengan cepat.