Aku, Sang Jiwa


Avatar hilmibelajar@gmail.com



Aku adalah Sang Jiwa yang tak pernah mati.

Aku pernah berjanji untuk taat kepada penciptaku. Diujilah ketaatanku di dunia yang fana ini. Saat aku terpisah dari jasadku, habislah kesempatanku.

Di alam penantian nanti aku hanya bisa menyesal dengan amal salahku — atau nyaman dengan amal shalihku.

Kalimat-kalimat itu kerap kuulang dalam hati ketika malam sudah larut dan ruangan terasa sunyi. Bukan untuk menakut-nakuti diri sendiri, tapi untuk mengingatkan: bahwa yang tinggal lama bukan tubuh ini, melainkan jiwa yang mengisinya.

Ingin kubuat film terbaikku selagi bisa, agar tak malu dan tak menyesal menontonnya di bioskop akhirat kelak.

Tubuh ini sering memberi tanda-tanda kelelahan. Ada hari-hari ketika bangun pagi saja sudah membutuhkan tekad yang besar. Ada hari-hari ketika menjalani rutinitas medis terasa seperti pekerjaan tanpa akhir. Tapi kemudian aku ingat: yang sedang berjuang bukan hanya tubuh ini. Yang sedang berjuang adalah jiwa yang ada di dalamnya — jiwa yang ingin pulang dalam keadaan bersih.

Manusia modern kerap sangat sibuk merawat yang kasat mata: penampilan, karir, reputasi, rekening. Tapi jiwa — yang justru akan tetap ada setelah semua itu pergi — sering luput dari perhatian. Kita lupa menanyainya: sudah baik-baik sajakah kamu hari ini?

Jiwa yang tidak dirawat akan haus. Ia akan mencari-cari sesuatu untuk mengisi kekosongannya — dan seringkali yang ditemukannya bukan hal yang baik. Sedangkan jiwa yang dirawat dengan zikir, dengan syukur, dengan kebaikan-kebaikan kecil yang konsisten — ia akan bersinar. Dan sinarnya itu yang membuat kita mampu bertahan di hari-hari paling gelap sekalipun.

Saat aku terpisah dari jasadku, habislah kesempatanku. Di alam penantian nanti aku hanya bisa menyesal — atau nyaman.

Aku punya cara kecil untuk merawat jiwa: setiap pagi, sebelum hari benar-benar dimulai, aku bertanya kepada diri sendiri — hari ini, apa yang akan kubuat yang akan kusyukuri nanti? Bukan yang besar. Cukup yang kecil dan tulus.

Karena pada akhirnya, kita semua adalah sutradara film kehidupan kita masing-masing. Setiap hari adalah satu adegan. Dan kelak, kita yang akan menjadi penonton pertamanya.

Ingin kubuat film terbaikku selagi bisa.

— Dian W. Syarief