Allah cinta proses. Itulah mengapa Dia ciptakan dunia ini dalam enam masa. Seketikapun Dia bisa, jika Dia mau.
Jika Dia saja selalu berproses, mengapa kita tidak? Mengapa kita kerap tidak sabar dan ingin serba cepat? Serba instant, tidak mau repot, tidak mau susah, dan ingin gampangnya saja.
Padahal melalui kesulitan, kita akan banyak belajar. Kesulitan menjadikan kita lebih arif dan memahami arti sabar yang sesungguhnya.
Jika kita bisa sabar, kita akan bersama-Nya. Jika Dia bersama kita, apa sih yang tak mungkin?
Bayangkan seekor ulat. Hidupnya lambat, merayap, kerap dipandang sebelah mata. Lalu datanglah masa kepompong — masa yang gelap, sempit, terasa sesak dari luar. Tapi di dalam kegelapan itulah, sesuatu yang luar biasa sedang terjadi. Sayap sedang tumbuh.
Kupu-kupu tidak lahir dengan cara melompat. Ia lahir melalui proses yang panjang dan tidak nyaman. Dan itulah tepatnya cara Allah mencintai makhluk-Nya — dengan proses, bukan jalan pintas.
Kita hidup di zaman yang mengagungkan kecepatan. Pesan makanan, tiba dalam 15 menit. Kirim pesan, terbaca dalam hitungan detik. Ingin sehat, cari suplemen yang katanya instan. Kita lupa bahwa pohon yang paling kokoh adalah pohon yang tumbuh paling lambat — karena akarnya punya waktu untuk menghujam dalam.
Ujian yang kita hadapi hari ini adalah proses yang Allah rancang khusus untuk kita. Bukan karena Dia tidak peduli, tapi justru karena Dia sangat peduli. Dia ingin kita naik kelas. Dan tidak ada kelas yang dinaiki tanpa ujian.
Melalui kesulitan, kita akan banyak belajar. Menjadikan kita lebih arif dan memahami arti sabar yang sesungguhnya.
Aku menulis ini bukan dari posisi orang yang sudah berhasil melewati semua ujian dengan sempurna. Aku menulis ini sebagai seseorang yang masih terus belajar — bahwa sabar bukan berarti pasif, dan proses bukan berarti lambat tanpa arah.
Proses adalah bukti bahwa kita masih hidup. Bahwa kita masih diberi kesempatan untuk tumbuh. Dan setiap hari yang kita jalani dengan sabar — walau terasa berat — adalah satu langkah lebih dekat ke versi diri kita yang lebih baik.
Ah, kutahu yang kumau: aku mau sabar, karena aku ingin selalu bersama-Nya.
— Dian W. Syarief
