[Dikutip dari Tribunnews] Dian Syarief menderita low vision setelah Systemic Lupus Erythematosus menderanya sejak 11 tahun lalu. Penyakit yang lebih dikenal dengan Lupus ini memaksa Dian hidup dengan berbagai pengorbanan. Ia misalnya tidak bisa melihat jam tangan. Dian memencet sebuah tombol di jam tangannya yang bisa bersuara menunjukkan jam saat itu.
Bahkan tidak hanya itu. Lupus juga memaksa Dian harus dioperasi besar sebanyak 18 kali! “Salah satu operasi itu dilakukan untuk mengangkat rahim saya,” katanya.
Lupus menyerang pada 1999 ketika Dian berusia 33 tahun. Saat itu, perempuan kelahiran Bandung, 21 Desember 1965 tengah bekerja sebagai karyawati di sebuah bank swasta di Jakarta.
Dua tahun pertama, Dian harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani operasi dan sejumlah terapi karena Lupus di tubuhnya telah menimbulkan banyak komplikasi.
Masa-masa itu sempat membuatnya syok dan bosan. “Bahkan yang membuat saya terpukul ketika efek dari terapi yang saya jalani menyebabkan saya harus kehilangan penglihatan dan tidak bisa berjalan,” katanya.
Karena itulah Dian merasa lima tahun pertama sejak divonis mengidap Lupus merupakan masa yang berat dalam hidupnya. Dia harus berjuang menyembuhkan diri meski sempat beberapa kali fisik dan mentalnya berada pada titik yang paling rendah.
Namun sejak 2004, Dian mulai mampu mengembalikan diri. Sedikit demi sedikit dia mulai bangkit. Bahkan tidak hanya memikirikan upaya untuk sembuh, Dian pun mulai membantu orang lain yang bernasib sama dengan dirinya. “Saya mulai berbagi dan memberi motivasi kepada orang lain,” katanya.
Titik balik ini dipicu kesadaran Dian karena berkali-kali masuk ruang operasi. Setiap tersadar setelah operasi, setiap itu pula dia bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan untuk hidup. “Waktu itu terlintas di pikiran saya, mungkin ini kesempatan bagi saya untuk membantu orang lain,” katanya.
Maka, Dian mulai berpikir untuk tidak hanya cukup berucap syukur kepada Sang Pencipta. Lebih jauh, Dian ingin berbuat sesuatu yang nyata bagi orang lain. Pada tahun 2004, bersama suaminya, Eko Pratomo, dia mendirikan Syamsi Dhuha Foundation (SDF), sebuah LSM nirlaba yang memberi perhatian khusus kepada para Odapus (orang dengan Lupus) dan penderita low vision. “Saya ingin sisa hidup saya dapat berarti bagi orang lain,” ujarnya.
Menurut Dian, melalui program Care For Lupus, SDF ingin membesarkan hati para Odapus (orang dengan Lupus) dan keluarga yang mendampinginya, melalui berbagai aktifitas yang bermanfaat. Selain itu, kegiatan juga ditujukan kepada masyarakat luas.
“Bahkan cita-cita kami ingin memberikan kesempatan pada semua orang, bukan hanya Odapus, untuk mensyukuri segala karunia yang telah Allah berikan. Caranya, dengan melakukan berbagai aktifitas yang dapat bermanfaat bagi diri pribadi, sekaligus juga bagi orang lain,” katanya.
Di antara kegiatan SDF adalah memberi pelatihan dan motivasi kepada para penderita Lupus sehingga bisa bangki kembali dari keputusasaan. Beberapa alumni pelatihan misalnya, telah mendapatkan sertifikasi di bidang shiatsu sehinga bisa bekerja kembali. “Meski penuh keterbatasan, kami ingin mereka tetap mandiri dan tidak bergantung pada orang lain,” ungkap Dian.
SDF juga melakukan advokasi untuk para penderita Lupus yang mengalami tekanan di tempat mereka bekerja. Misalnya memberi penjelasan ke perusahaan bersangkutan untuk bisa memahami kondisi penderita Lupus yang mungkin saat bekerja tiba-tiba pingsan, atau memiliki penglihatan yang terbatas.
Dian bersama SDF juga mencetak komik untuk memberi pemahaman kepada masyarakat luas tentang apa dan bagaimana penyakit Lupus. “Komik kami pilih agar lebih komunikatif sehingga bisa dipahami semua orang, bahkan oleh anak-anak,” ujarnya.
Kegiatan lain yayasan ini adalah memfasilitasi berbagai penelitian ilmiah. Selain itu, sejak tahun 2006, SDF mengupayakan obat murah bagi Odapus. Pada tahun ini SDF juga telah mengajukan kenaikan plafon Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) bagi OKM (Odapus Kurang Mampu) kepada Kementerian Kesehatan RI.
Iwan Apriansyah – Tribunnews

