Following God's Will


Eko Pratomo Avatar



Last Friday I met one of my close friends, and here is the pearl of wisdom that I received.

Consciously or unconsciously, it seems that all this time we more often follow our own desires in making decisions and doing things. Have we ever asked ourselves beforehand: is what we are about to decide and what we are about to do in line with His will?

Pertanyaan sederhana itu ternyata tidak mudah untuk dijawab dan tidak mudah untuk dijadikan kebiasaan. Kita terbiasa bertanya: apakah ini menguntungkan aku? Apakah ini aman? Apakah ini akan membuat orang lain terkesan? Tapi jarang kita berhenti dan bertanya: apakah ini yang Dia kehendaki?

Because His promise is certain: whoever follows His guidance, God will grant happiness in this world and the afterlife.

Fasting, for us, becomes the most appropriate moment to train ourselves to follow His will. Because fasting is not just about enduring hunger and thirst. Fasting is essentially an exercise to 'fast from our own desires and only enforce God's will'.

Bayangkan seberapa banyak keputusan yang kita buat setiap hari. Dari yang kecil apa yang dimakan, kepada siapa membalas pesan, bagaimana merespons situasi yang tidak menyenangkan hingga yang besar: ke mana karir diarahkan, bagaimana perlakuan kepada orang-orang terdekat, bagaimana menggunakan waktu dan sumber daya yang ada.

Jika di setiap persimpangan kecil itu kita biasakan bertanya ‘apakah ini kehendak-Nya?’ maka lambat laun arah hidup kita akan bergeser. Bukan karena kita menjadi orang yang sempurna, tapi karena kita menjadi orang yang terus mencari.

It is time for us to always take a moment to think and ask ourselves in our hearts: is everything we are about to decide and about to do indeed in accordance with His will?

Ada paradoks yang indah di sini: ketika kita melepaskan kendali kepada Tuhan, justru hidup kita terasa lebih ringan. Bukan karena masalahnya hilang masalah tetap ada. Tapi karena kita tidak lagi menanggungnya sendirian.

Aku belajar ini dari perjalanan panjang bersama istriku. Ada banyak momen ketika segala upaya medis sudah dilakukan, tapi hasilnya belum sesuai harapan. Di titik itulah, pilihan untuk menyerahkan kepada kehendak-Nya bukan bentuk pasrah tanpa usaha. Ia adalah bentuk kepercayaan tertinggi bahwa yang Dia putuskan adalah yang terbaik, bahkan ketika kita belum bisa melihatnya.

Dan dari sudut pandang itu, hidup menjadi lebih tenang. Lebih bermakna. Dan ya lebih bahagia.

Following God's will