Jumat kemarin aku bertemu salah seorang sahabatku dan berikut mutiara hikmah yang aku dapat.
Sadar atau tidak sadar, sepertinya selama ini kita lebih sering mengikuti kehendak diri dalam memutuskan dan berbuat sesuatu. Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri sebelumnya: apakah sesuatu yang akan kita putuskan dan yang akan kita lakukan sejalan dengan kehendak-Nya?
Pertanyaan sederhana itu ternyata tidak mudah untuk dijawab — dan tidak mudah untuk dijadikan kebiasaan. Kita terbiasa bertanya: apakah ini menguntungkan aku? Apakah ini aman? Apakah ini akan membuat orang lain terkesan? Tapi jarang kita berhenti dan bertanya: apakah ini yang Dia kehendaki?
| Karena janji-Nya pasti: barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Nya, maka Tuhan akan menganugerahi kebahagiaan di dunia dan di akhirat. |
Puasa, bagi kami, menjadi momen yang paling tepat untuk melatih diri mengikuti kehendak-Nya. Karena puasa bukanlah sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa pada hakikatnya adalah latihan untuk ‘memuasakan kehendak diri dan hanya memberlakukan kehendak Tuhan’.
Bayangkan seberapa banyak keputusan yang kita buat setiap hari. Dari yang kecil — apa yang dimakan, kepada siapa membalas pesan, bagaimana merespons situasi yang tidak menyenangkan — hingga yang besar: ke mana karir diarahkan, bagaimana perlakuan kepada orang-orang terdekat, bagaimana menggunakan waktu dan sumber daya yang ada.
Jika di setiap persimpangan kecil itu kita biasakan bertanya — ‘apakah ini kehendak-Nya?’ — maka lambat laun arah hidup kita akan bergeser. Bukan karena kita menjadi orang yang sempurna, tapi karena kita menjadi orang yang terus mencari.
| Sudah saatnya kita selalu menyempatkan diri untuk berpikir sejenak dan bertanya dalam hati: apakah segala sesuatu yang akan kita putuskan dan akan kita lakukan memang sesuai dengan kehendak-Nya? |
Ada paradoks yang indah di sini: ketika kita melepaskan kendali kepada Tuhan, justru hidup kita terasa lebih ringan. Bukan karena masalahnya hilang — masalah tetap ada. Tapi karena kita tidak lagi menanggungnya sendirian.
Aku belajar ini dari perjalanan panjang bersama istriku. Ada banyak momen ketika segala upaya medis sudah dilakukan, tapi hasilnya belum sesuai harapan. Di titik itulah, pilihan untuk menyerahkan kepada kehendak-Nya bukan bentuk pasrah tanpa usaha. Ia adalah bentuk kepercayaan tertinggi — bahwa yang Dia putuskan adalah yang terbaik, bahkan ketika kita belum bisa melihatnya.
Dan dari sudut pandang itu, hidup menjadi lebih tenang. Lebih bermakna. Dan — ya — lebih bahagia.
Mengikuti kehendak tuhan

