Memberi Lebih, Mengambil Sedikit


hilmibelajar@gmail.com Avatar



Bersyukurlah kita yang diberi kecukupan dan kelebihan rezeki atau kemampuan, karena kita termasuk golongan orang-orang yang sedikit di antara sekian banyak saudara kita yang masih berkekurangan.

Kalimat itu mungkin terdengar berat. Tapi coba renungkan sejenak: jika hari ini kamu bisa membaca tulisan ini dari perangkat yang terkoneksi internet, jika hari ini kamu makan setidaknya sekali, jika hari ini kamu tidur di tempat yang beratap — maka kamu sudah berada di posisi yang, bagi sebagian orang lain di dunia ini, adalah sebuah kemewahan.

Generosity is giving more than you can, and pride is taking less than you need. — Kahlil Gibran

Aku bukan orang yang lahir kaya. Tapi perjalanan hidup mengajariku bahwa rezeki itu bukan hanya tentang angka di rekening. Rezeki adalah kemampuan untuk melihat. Kemampuan untuk berjalan. Kesehatan yang cukup untuk menjalani hari. Keluarga yang menemani. Sahabat yang mendoakan.

Dan ketika kita mulai menghitung rezeki yang bukan uang itu, tiba-tiba kita sadar: kita jauh lebih kaya dari yang kita kira.

Kedermawanan, menariknya, tidak hanya menjadi bukti syukur kita kepada Tuhan. Ia juga, secara ilmiah dan secara pengalaman, menjadi sumber kebahagiaan. Pernah bukan merasakan kebahagiaan ketika kita mampu memberi?

Ada sesuatu yang terjadi di dalam diri ketika kita mengulurkan tangan untuk orang lain. Ada rasa yang tidak bisa dibeli — rasa bahwa hidup kita punya arti melampaui diri sendiri.

Kedermawanan ternyata tidak diukur dari besarnya materi yang kita berikan, namun diukur relatif terhadap kemampuan yang kita miliki.

Ini bukan tentang seberapa besar yang kita berikan. Ini tentang proporsi. Tentang kesediaan untuk membagi, apapun yang kita punya — waktu, perhatian, ilmu, senyuman — kepada mereka yang membutuhkan.

Tak selamanya kita pada posisi untuk memberi. Kadang kita yang membutuhkan uluran tangan orang lain. Dan itulah indahnya ekosistem kebaikan: ia berputar. Yang hari ini memberi, kelak mungkin yang menerima. Yang hari ini menerima, kelak akan menemukan cara untuk memberi.

Mungkin kalimat Kahlil Gibran itu patut kita simpan: memberi lebih dari yang kita bisa, dan mengambil lebih sedikit dari yang kita butuhkan. Di sanalah, menurutku, salah satu rahasia kebahagiaan yang sesungguhnya.

— Eko Pratomo