Mengubah Sudut Pandang


hilmibelajar@gmail.com Avatar



Seringkali kita menghadapi kenyataan dalam kehidupan yang tidak sesuai dengan keinginan kita, lalu kita menyebutnya sebagai musibah.

Seringkali pula, ketika kita terus menganggapnya sebagai musibah, maka kecil kemungkinan hati kita bisa lapang menerima, dan akan sulit bagi kita untuk berikhtiar mengatasi dampak atau mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi. Sulit untuk move on, kata anak zaman sekarang.

Ada pertanyaan yang selalu muncul ketika seseorang ditimpa ujian berat: mengapa aku? Mengapa penyakit ini? Mengapa kondisi ini yang harus aku jalani?

Since we cannot change reality, let us change the eyes which see reality. — Nikos Kazantzakis

Pertanyaan ‘mengapa’ itu sendiri tidak salah. Bahkan, ia penting. Tapi ada bedanya antara pertanyaan yang membawa kita lebih dalam ke lubang keputusasaan, dengan pertanyaan yang membawa kita naik ke permukaan untuk mencari jalan.

Seorang yang ditimpa musibah sakit berkepanjangan misalnya, akan segera menerima, lalu bangkit dan berupaya berikhtiar, ketika ia tidak lagi mempersoalkan mengapa dirinya yang harus sakit dan mengapa penyakit itu yang harus dijalaninya. Tapi justru ketika ia mampu ‘melihat’ dari sudut pandang yang lain: bahwa sakit ini mungkin adalah cara Tuhan untuk menghapus dosa, untuk mendekatkan dirinya kembali, untuk mengajarkan kesabaran yang tidak mungkin dipelajari di tempat lain.

Aku melihat ini langsung pada istriku. Selama bertahun-tahun menghadapi lupus dan low vision, ada masa-masa ketika pertanyaan ‘mengapa’ itu datang. Tapi semakin lama, ia semakin mengganti pertanyaan itu dengan: untuk apa? Untuk apa aku diberi ujian ini? Apa yang bisa aku lakukan dengannya?

Berbahagialah mereka yang selalu mampu ‘melihat’ dari sudut pandang yang lain dari setiap kejadian, karena kebahagiaan hidupnya tidak akan terampas walau harus menghadapi musibah dan ujian kesulitan.

Mengubah sudut pandang bukan berarti berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja. Bukan berarti tidak boleh sedih atau tidak boleh mengeluh. Tapi ia berarti memilih untuk tidak berhenti di sana.

Kebahagiaan, aku percaya, bukan milik mereka yang hidupnya mudah. Ia milik mereka yang mampu menemukan makna — bahkan di tengah hal-hal yang paling tidak mereka inginkan.

Dan pilihan untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda itu? Ada di tangan kita masing-masing, setiap hari.

— Eko Pratomo